
Gwen menghentikan langkahnya, seraya memejamkan matanya dengan erat. "Mampus aku!" batin Gwen, ketakutan.
"Dari mana saja kamu?!" tanya Fika dengan nada tegas, seraya menatap tajam putrinya.
"Emh ... ." Bibirnya terkatup kembali saat ucapannya dipotong oleh ibunya.
"Dan ini baju siapa?" Fika menarik kaos yang dikenakan oleh putrinya. Menelisik penampilan Gwen yang berantakan, yang hanya memakai kaos berwarna putih kedodoran sampai sebatas paha, ditambah lagi putrinya itu tidak memakai celana.
"Baju ... ini bajunya teman aku, Mam. Ah .. Iya, tadi pagi sekali aku joging ditaman komplek sebelah dan aku dikejar guguk sampai tercebur kedalam parit, untung kejadiannya tidak jauh dari rumah teman aku, Mam. jadinya, di kasih pinjam baju," jawab Gwen dengan begitu lancar.
Fika menyipitkan matanya, menatap putrinya penuh selidik. "Benar?!" tanya Fika, dan Gwen mengangguk dengan cepat.
"Temanmu perempuan atau laki-laki?" tanya Fiak lagi, masih menatap putrinya dengan tajam.
"Laki-laki," jawab Gwen.
Fika menganggukkan kepalanya berulang kali. "Ya, sudah sana mandi, dan bersiap untuk berangkat sekolah," titah Fika.
"Iya, Mama," jawab Gwen, bernafas lega karena ibunya percaya dengan alasannya. "Kita menginap disini berapa lama, Mam?" tanya Gwen, sebelum memasuki kamarnya.
"Sampai Oma Airin sembuh. Kamu tahu jika beliau akhir-akhir ini kesehatannya sedang menurun. Jadi, kita juga harus ikut andil untuk merawat beliau, karena beliau lah yang sudah berjasa bagi keluarga kita! Jadi, selama disini jaga sikap kamu!" jelas Fika dengan tegas, lalu segera belalu dari hadapan putrinya.
Gwen memasuki kamarnya dengan lesu. "Aku harus bertemu dengannya setiap hari? Oh, ya ampun. Mau di taruh mana mukaku ini?" gerutu Gwen, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Di dalam kamar mandi, tepat dibawah guyuran Shower, Gwen mengingat kejadian beberapa saat yang lalu, dimana Aiden mencumbunya dengan buas.
"Astaga! Kenapa aku selalu mengingat sentuhannya? Please, hilanglah dari ingatanku," gumam Gwen, segera mempercepat mandinya.
*
*
*
"Loh? Katanya kamu sakit dan nggak kerja?" tanya Jeje, saat melihat Aiden mendudukan diri kursi, ruang makan.
"Sudah mendingan, Mom," jawab Aiden, seraya mengambil roti tawar lalu mengolesi permukaan roti tersebut dengan selai strobery.
"Syukurlah. Tadinya Mommy sangat khawatir banget sama kamu,' ucap Jeje, seraya menghembuskan nafas penuh kelegaan.
Aiden menanggapinya dengan senyuman. "Yang lain kemana, Mom?" tanya Aiden, karena diruang makan itu hanya ada mereka bertiga saja.
"Semua sudah selesai sarapan. Nathan sudah berangkat ke kantor dan Ansel katanya mau menjemput kekasihnya di Bandara," jawab Jeje penuh dengan berbinar.
Aiden mengerutkan keningnya, karena tidak tahu jika adik bungsunya itu punya kekasih. "Ansel punya kekasih? Siapa?"
Jeje yang akan memakan sarapannya mengurungkan niatnya, lalu menatap putranya dengan dalam. "Apa kamu ingat Ayu temannya Kirana?" Jeje bertanya sembari melipat kedua tangannya diatas meja.
"Ingat! Wanita genit itu 'kan?!" jawab Aiden singkat, tanpa ingin tahu kelanjutan cerita ibunya.
Jeje menghela nafasnya panjang, seraya menatap suaminya yang sejak tadi diam saja.
"Pagi semuanya," sapa Gwen yang berjalan menuju ruang makan. Gadis itu terlihat sangat cantik dan menggemaskan dengan seragam sekolahnya. Aiden fokus dengan sarapannya tanpa menoleh atau menjawab sapaan Gwen. Sebenarnya dia merasa malu. ☺
"Pagi juga Gwen," jawab Jeje dan Xander bersamaan.
"Mau sarapan pakai apa?" tanya Jeje.
"Ah .. Tidak perlu repot Aunty," jawab Gwen lalu mengambil roti tawar dan memakannya begitu saja.
Jeje tersenyum sambil menatap Gwen, namun tatapannya terhenti saat melihat bibir Gwen yang terlihat bengkak. "Gwen, bibirmu kenapa bengkak?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Jeje.
"Uhuk ... uhuk ... uhuk ... ." Gwen dan Aiden tersedak bersamaan ketika mendengar pertanyaan Jeje.
"Loh, kalian ini kenapa?" tanya Jeje, menatap Gwen dan Aiden bergantian. Sedangkan Xander menatap datar keduanya itu.
Hayo lohh ...🤣🤣🤣🤣
Pasti mereka berdua spot jantung🤣