
Saweran kembang sama kopi jangan kendor dong. Emak mau crazy up lagi hari ini. 😘
Sementara itu di rumah utama Keluarga Clark sedang terjadi kehebohan.
"Daddy dengar tadi? Kalau Sean akan punya istri? Ya ampun, baru dua minggu mendapat hukuman, anak kita sudah mendapat mukjizat dari Tuhan," ucap Jeje penuh syukur, sembari mengatupkan kedua tangannya didepan dada.
Sedangkan Xander terdiam memikirkan perkataan istrinya.
"Siapa gadis malang itu?" celetuk Oma Airin, sembari menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Mom!" seru Jeje, sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
"Apa? Kenapa? Aku 'kan mengatakan yang sejujurnya. Memangnya salah?!" Satu kalimat keramat yang keluar dari bibir Oma Airin membuat siapapun tidak berkutik.
"Benarkan Kirana?" Oma Airin meminta persetujuan dari Kirana.
"Iya, Oma," jawab Kirana, seraya menggigit bibir bawahnya.
Siapa yang di maksud calon istri? Apakah Irene? Duh gawat! Batin Kirana, merasa cemas jika Ayah mertuanya akan mengamuk jika mengetahui yang sebenarnya.
"Aku rasa harus menemui anak itu dipaviliun," ucap Xander, seketika itu wajah Kirana menjadi panik, takut jika terjadi perang dunia ke tiga.
"Nanti sore saja, Daddy sayang. Bukankah Sean bekerja di restoran," ucap Jeje kepada suaminya.
"Oh, iya. Kamu benar sekali," jawab Xander.
Kirana bernafas lega dan ia masih mempunyai waktu untuk menghubungi suaminya.
"Seharusnya kamu jangan menghentikan pengawaan terhadap Sean! Kita jadi tidak tahu calon istrinya," ucap Oma Airin, sedikit kesal dengan putranya.
"Iya, ini juga termasuk hukuman untuknya. Biarkan dia hidup diluar sana tanpa pengawasan dan bantuan dari kita!" jelas Xander dengan tegas.
"Tapi kenyataannya, dia bisa hidup sendirian diluar sana. Bahkan dia bisa bekerja kasar di sebuah Restoran dengan gaji yang .... Ah, ya ampun, cuma 5 juta sebulan dan itu uang jajanku sehari saja!" kesal Oma Airin juga merasa sedih karena cucunya harus menderita diluar sana.
"Oma, jangan sedih dong. Nanti sakit lagi." Kirana menenangkan Oma Airin seraya mengusap punggungnya dengan lembut.
Oma Airin menghela nafas panjang, seraya menghapus sudut matanya yang basah. "Huh, aku rasa sudah cukup hukuman yang diterima oleh Sean," ucap Oma Airin kepada putranya.
Xander menggeleng dengan pelan. "Belum! Biarkan dia merasakan pahit kehidupan diluar sana! Kalian selalu saja memanjakan dia!" jawab Xander penuh penegasan dan tidak ingin dibantah.
"Dasar anak kurang garam! Berani sekali kamu berkata dengan nada tinggi kepada Mommymu yang cantik jelita ini? Mau di kutuk jadi batu kamu?!" seru Oma Airin.
Kirana yang tadinya ikut merasa sedih kini harus menahan tawanya sekuat tenaga saat mendengar Oma Airin memarahi Ayah mertuanya.
Xander hanya memutar kedua bola matanya dengan malas, menanggapi perkataan ibunya.
"Terserah Mommy saja lah!" ucap Xander, lalu beranjak dari duduknya menujju ruang kerjanya.
*
*
*
"Je! Coba kamu hubungi Gwen lagi," titah Oma Airin kepada menantunya.
"Iya," jawab Jeje sembari menganggukkan kepalanya cepat dan langsung membuka ponselnya untukn menghubungi Gwen.
"Tidak diangkat," ucap Jeje setelah menelepon Gwen berulang kali namun tidak ada jawaban.
"Bukankah dia hari ini ada di WG?" tanya Oma Airin dan diangguki oleh Jeje.
"Bagaimana jika kita kesana?" ajak Oma Airin dengan tidak sabaran. Karena rasa penasarannya.
"Iya, ayok! Kirana mau ikut atau tidak?" Jeje bertanya kepada menanunya.
"Mau, Mom. Tapi, mau ijin dulu sama Mas Nathan," jawab Kirana, dan diangguki oleh Jeje.