
"Kami sudah tidur bersama!" jawab Nathan dengan cepat.
Semua orang di sana melotot sempurna termasuk Kirana yang terkejut dengan pengakuan Nathan.
"Tuh 'kan apa yang aku bilang, kalau mereka berdua pasti sudah—" ucapan Jeje terhenti ketika Nathan memotong ucapannya dengan cepat.
"Hanya tidur saja, Mom! Tidak lebih!" seru Nathan.
"Iya Nyonya, kami hanya tidur saja tidak lebih. Saya berani bersumpah." Kirana membenarkan ucapan Nathan.
"Halah! Yang namanya perempuan sama laki-laki kalau berduaan di dalam satu ruangan tidak mungkin jika cuma bobo bareng! Pasti ada kiss-kissan atau yang lainnya!" ucap Oma Airin semakin memanasi.
Dasar kompor meleduk!😆
"Nah iya! Benar itu! Hayo ngaku kalian!" seru Jeje heboh, setuju dengan pendapat Oma Airin. Dan kini ia menatap tajam Nathan dan Kirana bergantian.
Nathan dan Kirana terlihat salah tingkah dan menelan ludahnya dengan kasar bersamaan.
Sedangkan Xander masih menyimak keributan itu dari kursi kerjanya. Dan untuk Ansel, Sean dan Aiden juga ikut diam melihat saudara kembarnya di sidang.
"Baiklah aku mengaku, jika aku dan Kirana sudah melakukan hal lebih dari sekedar ciuman, tapi aku masih tahu batasanku dan tidak akan membobol gawang Kirana sebelum kami Sah menjadi suami istri!" jawab Nathan dengan tegas, mengakui semua perbuatannya.
Xander berdiri dari duduknya, dan menghampiri Nathan. Pria paruh baya itu menatap Nathan dengan tatapan yang sangat tajam, situasi di ruangan tersebut semakin mencekam dan sangat menegangkan.
Namun, ketegangan itu hanya berlangsung sementara dan situasi kembali kondusif ketika Xander membuka suara dan mengucapkan kata sakral yang membuat semua orang di sana tercengang.
"Segera nikahi dia!" ucap Xander pada akhirnya, sambil menepuk pundak Nathan dengan keras, membuatnya meringis sakit.
"Benarkah Dad?" tanya Nathan senang dan juga tidak percaya jika Daddynya merestui hubungannya dengan Kirana.
"Mau! Tentu saja mau!" jawab Nathan dengan cepat, dia sangat bahagia dengan semua ini.
Berbeda dengan Kirana yang terlihat gusar dan hatinya tidak tenang.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Jeje, yang menyadari sikap Kirana.
"Tidak Nyonya, hanya saja saya merasa tidak pantas jika bersanding Tuan Nathan, dari awal saya sudah menolak hubungan ini, tapi Tuan Nathan selalu memaksa," jelas Kirana, mengutarakan isi hatinya.
Semua mata memandang ke arah Kirana dengan tatapan bingung. Karena pengakuan Kirana membuat mereka sedikit terkejut, kecuali Nathan dan Oma Airin si biang kerok.
"Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu?" tanya Jeje, menatap lekat Kirana.
"Kami berbeda," jawab Kirana terdengar ambigu.
"Berbeda? Maksud kamu berbeda dalam hal apa?" tanya Jeje lagi, masih belum mengerti dengan ucapan Kirana.
"Berbeda dalam segala hal, Nyonya. Maaf sebelumnya, jika ini akan menyinggung kalian semua. Saya hanya wanita biasa dan seorang pelayan di rumah ini, apa kata orang di luaran sana jika Tuan Nathan mempersunting seorang pembantu. Pasti keluarga Carlk akan menjadi bahan olokan di luar sana," jelas Kirana, dengan wajah yang tertunduk lesu.
Oma Airin dan Jeje saling pandang dan menghela nafas bersamaan.
Jika diluaran sana banyak wanita yang mengejar Nathan, tapi Kirana berbeda, gadis itu dengan tegas menolak Nathan di hadapan keluarganya.
Inilah yang di sukai Oma Airin dari Kirana, feelingnya tidak pernah meleset jika menilai seseorang, maka dari itu Oma Airin begitu kekeh untuk menjadikan Kirana cucu menantu di keluarga Clark.
"Apa kamu tahu dulu aku juga seorang pelayan?" ucap Jeje, mulai pembicaraan.
"Apa?!" bukan Kirana yang terkejut, melainkan Four J.