My Hot ART

My Hot ART
Bertetangan dengan hati



Nathan bersedekap di dada sembari menatap pasangan yang duduk dihadapannya yang menundukkan kepala. Sedangkan Kirana menggelengkan kepalanya berulang kali, sembari menghela nafas panjang.


Sudah hampir 15 menit mereka duduk di ruang tamu pavilun itu namun tidak ada satu pun yang bersuara. Hanya sesekali terdengar helaan nafas panjang dari bibir Kirana, karena dia tidak habis pikir dengan pasangan yang ada dihadapannya itu.


"Kenapa kalian diam saja? Apa tidak ada yang ingin berniat menjelaskan?!" tanya Nathan dengan nada tegas dan sangat datar.


Sean mendongakkan kepala dan menatap saudara kembarnya itu dengan malas. "Untuk apa menjelaskan, kalau kalian tidak akan percaya," jawab Sean dengan ketus.


"Ck!" Nathan berdecak dengan kesal seraya menatap tajam Sean.


Sedangkan Irene mendongak, sambil memegangi kaca matanya yang hampir jatuh. "Maaf, Tuan Nathan dan Nona ..."


"Kirana, panggil saja Kirana," sela Kirana seraya tersenyum hangat, membuat Irene ikut tersenyum juga.


"Baik Kirana. Saya ingin menjelaskan jika Sean tidak bersalah, dia hanya menolongku saja ....." selanjutnya Irene menjelaskan semuanya secara rinci dari awal hingga sampai akhir.


Nathan dan Kirana mendengarkan dengan seksama tanpa ada yang ketinggalan sedikitpun.


"Tuh dengerin! Sekarang udah jelas 'kan? Gue cuma nolongin dia aja nggak lebih!" jelas Sean lagi dengan perasaan kesal.


"Terus Boxer dan minta jatah sebelum berangkat itu apa? Apa aku salah dengar?" tanya Nathan lagi.


"Itu cuma bohongan! Karena gue sama dia lagi main rumah-rumahan!" jawab Sean, sembari nunjuk Irene yang duduk disebelahnya.


"Nggak percaya!" ucap Nathan lagi, semakin membuat Sean kesal.


"Lagian kamu juga salah, kenapa malah bawa dia tinggal satu atap. Untung saja kita yang tahu, kalau Daddy atau Mommy yang tahu bisa mati kamu," ucap Nathan sambil menggerakan tangannya seperti menebas lehernya sendiri, membuat Sean dan Kirana bergidik ngeri.


Sean menyugar rambutnya kebelakang dengan kasar. "Karena tempat yang aman cuma disini, seperti yang dijelaskan sama Irene tadi, kalau dia hampir dijual lagi sama ayah tirinya ke Klub malam," jelas Sean lagi, agar saudaranya itu mengerti.


Kirana berpindah duduk lalu merangkkul Irene yang terlihat bersedih, Nathan dan Sean hanya memperhatikan keduanya itu saja tanpa berkomentar.


Sean mendongak dan menatap Nathan dengan raut wajah yang terkejut. Berbeda dengan Irene yang terlihat berbinar. "Benarkah, Tuan? Wah, terima kasih," ucap Irene diselingi dengan senyuman manis.


"Ya, di dekat WG ada Apartemen yang harga sewanya standar, dan keamanan disana juga bagus, tidak bisa sembarang orang masuk kesana, nanti aku akan menyuruh Ansel untuk mengurusnya," jelas Nathan lagi.


"Jangan khawatir, Irene. Kami ada untukmu," ucap Kirana, menggenggam tangan Irene.


"Terima kasih," ucap Irene dengan tulus.


Sedangkan Sean terlihat termangu dan ada rasa tidak rela didalam hatinya jika Irene pergi dari kehidupannya.


"Kamu nggak ikhlas kalau Irene keluar dari Paviliun ini?" tanya Nathan, saat melihat Sean terdiam.


"Tentu saja ikhlas! Gue cuma ....gue sudah telat bekerja," jawab Sean cepat, tidak sepenuhnya berbohong, karena dia memang sudah telat bekerja.


"Oh, aku pikir kamu merasa kehilangan Irene," ledek Kirana, sambil menatap wajah Irene yang bersemu merah.


"Ha ha ha haa, gue merasa kehilangan? Memangnya dia siapa?" ucap Sean, diiringi dengan tawa yang hambar.


"Ya, siapa tahu ada benih cinta yang tumbuh dihatimu," ucap Nathan.


"Ck! Kalian tahu 'kan selera gue kayak gimana? Nggak mungkin lah kalau gue suka sama si cupu ini!" jawab Sean dengan tegas, namun bertentangan dengan hatinya.


DEG


Dada Irene terasa tercubit saat mendengar perkataan Sean yang sangat pedas, dan kepedasannya itu melebihi nasi pecel yang dibungkus pakai karet dua.🤣


Gengsi aja terus yang di gedein! Tak doain semoga Irene di embat sama cowok lain. 🤣