
"Sean melongo ketika mendengar perkataan istrinya, tidak lama dari itu ia tergelak keras. "Lo ini lucu banget sih. Justru punya gue yang gede ini di sukai dan di gilai oleh para kaum wanita, lebih berasa dan puas."
Irene mendengus kesal, dan menatap sengit suaminya. "Maksud kamu, mau menyamakan aku dengan para wanita yang sudah pernah kamu tiduri begitu?!" Mode singa.
Sean yang masih tertawa terbahak langsung kicep. "Sayang, bukan beg--"
"Memang begitu kok! Minggir kamu, tidak ada jatah lagi!" Irene benar-benar kesal kepada suaminya yang menyamakan dirinya dengan wanita lain. "Aku bilang minggir!" Irene mendorong Sean yang masih mengungkung tubuhnya.
"Mulut lo emang sampah banget sih! See, dia marah sekarang," batin Sean kesal dengan dirinya sendiri.
"Irene, lo salah paham." Sean memasang wajah melas.
"Terserah! Jangan menyentuhku lagi!" Menarik selimut hingga sampai ke ujung kepala.
"Ren, bukan maksud gue bilang begitu sama lo. Please, Ren, dengarkan ucapan gue. Sumpah demi apa pun, gue nggak berniat buat nyamain lo dengan yang lainnya." Berusaha untuk membujuk istrinya yang sedang marah.
"You are the best, and will always be the best, nothing compares to it." Sean berkata lembut, sambil menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya itu.
"Omong kosong!" umpat Irene, lalu melemparkan bantal yang di gunakannya ke arah Sean.
"Gue berkata sejujurnya, Ren," jawab Sean, sembari melemparkan bantal yang ada di tangannya ke sembarang arah, lalu membuang selimut yang ada didekat istrinya ke atas lantai.
Sean merangkak naik ke atas tubuh istrinya lagi, mengungkung tubuh mungil itu tanpa membebani. Sorot matanya memancarkan kasih cinta yang begitu dalam untuk Istrinya.
Membelai pipi putih dan halus lembut itu, seraya berkata, "gue memang lelaki brengsek dan bejat, but itu dulu. Dan sekarang gue sudah sadar, gue sudah tahu jalan lurus gue. Ren, lo yang berhasil merubah gue dan menuntun gue menemukan jalan lurus yang selama ini gue cari. I feel sorry, kalau gue menyakiti perasaan lo." Berkata dengan penuh kelembutan, membuat hati Irene bergetar hebat.
"Se—"
"Sstt, jangan katakan apapun lagi," potong Sean, seraya menempelkan jari telunjuknya di bibir mungil Irene. "Gue berterima kasih banyak sama lo, karena sudah menerima segala kekurangan pria bejat ini," lanjut Sean.
Ya, Sean mengatakan semua itu dari hatinya yang terdalam. Sungguh sangat bersyukur dirinya yang berlumuran dosa, mendapatkan gadis baik dan suci seperti Irene.
Irene menatap suaminya dengan dalam, salah satu tangannya terulur untuk mengusap rahang tegas itu dengan lembut. Hatinya menghangat ketika mendengar perkataan suaminya itu. Walaupun semua perkataan Sean terdengar biasa saja terkesan datar, namun ia tahu jika Sean mengatakannya dengan sangat tulus.
"Sorry, mungkin tadi aku terlalu baper." Irene berusaha untuk meng-introspeksi diri, tidak hanya menyalahkan Sean saja. Lagi pula, itu semua hanya masa lalu suaminya bukan? Dan saat ini dirinya lah masa depan Sean.
"Wajar kalau lo marah. Maafin gue, Ren." Sean mengecup kening Irene cukup lama.
Irene tersenyum, seraya menganggukkan kepalanya. Dan Sean pun ikut tersenyum menanggapinya.
"Jadi, apakah Si Joni boleh masuk sarangnya lagi?" tanya Sean, menatap istrinya dengan tatapan memohon.
Irene mendengus, lalu memukul pundak Sean keras. "Kamu kenapa mesum banget sih!!"
"Mesumnya 'kan sama istri sendiri," jawab Sean, sembari menusukkan kepala plontos Si Joni ke arah pintu sarang yang hanya tertutup G-striing.
"Eumh." Irene menahan desahaannya ketika merasakan rasa aneh itu lagi.
Sean bersorak didalam hati, melihat respon tubuh istrinya. "Apakah ini harus dilanjutkan, Sayang?" tanya Sean, sembari memainkan daging kecil yang tumbuh disela bagian inti istrinya itu.
"Tidak! Emh, iya lanjutkan ... Ah ... Sean." Tubuh Irene menggelinjang, ketika merasakan rasa aneh namun sangat nikmat itu.
"As You Wish, Honey." Sean menyeringai licik, lalu mulai melakukan foreplay yang membuat tubuh Irene menggelinjang dan terus mendesaah enak.
Sean mulai memposisikan dirinya, seraya membuka kedua paha Irene dengan lebar, selebar pahanya. Kamudian, ia mulai melesakkan kepala botak Si Joni masuk kedalam sarangnya. Suara lenguhan dan desahaan terus terdengar memenuhi seluruh kamar tersebut. Deru nafas semakin tidak beraturan dan keringat membanjiri tubuh keduanya. Hingga pada akhirnya, suara erangan dan lenguhan panjang terdengar sebagai tanda jika percintaan panas itu telah usai.
"Love you, Ren." Sean mengecupi seluruh wajah Irene yang terlihat lelah itu.
Panas ya, Mak?🤣🤣
Emak juga mau menjelaskan ya. Watak Sean itu slengekkan atau pecicilan. Dia sosok pria yang nggak bisa romantis dan apa adanya. Jadi, mohon maaf banget kalau ada yang minta untuk merubah karakter Sean. Maafkan aku. 🙏
So, kasih sawerannya ya, Mak. Dan jangan lupa tinggalkan Like. Love you all. ❤❤