My Hot ART

My Hot ART
S2. Drama mau melahirkan



Sean menggaruk kepalanya dengan perasaan resah. Ia mondar-mandir sembari menggigit kuku ibu jarinya, perasaan resah dan takut bercampur menjadi satu membuat dadanya semakin berebar tidak karuan.


"Terus gue harus apa?" tanya Sean kepada istrinya yang meringis kesakitan.


"Se! Kamu keterlaluan banget sih! Bawa aku ke rumah sakit!" teriak Irene di sela kesakitannya.


Sean sampai terlonjak kaget saat mendengar suara istrinya yang melengking keras hingga memekakkan telinganya.


"Irene gue gugup dan ... takut," jawab Sean sembari mendekati istrinya yang duduk di sofa sembari mengelus perut yang buncit itu.


Mendengar jawaban suaminya, Irene semakin kesal dan langsung beranjak dari duduknya dengan susah payah.


"Ren lo mau kemana?" tanya Sean.


"Mau cari suami baru yang siap siaga!" jawab Irene dengan sewot, berjalan menuju kamar untuk mengambil tas yang berisi pakaiannya dari baju bayi yang sudah ia siapkan jauh hari.


"Ren, jangan begitu dong." Sean segera mengikuti istrinya dari belakang. Ia terlihat semakin panik saat mendengar jawaban istrinya yang membuat jantungnya semakin berdebar tidak karuan.


Sean mencoba untuk melawan rasa takut yang hinggap di dalam dadanya. Ia harus menguatkan istrinya yang akan melahirkan buah hatinya.


Irene menenteng tas besar di tangan kirinya sedangkan tangan kanannya mengelus perutnya yang terasa sangat mulas dan sakit.


"Biar gue saja." Sean merebut tas yang ada genggaman istrinya. "Ayo kita ke rumah sakit sekarang." Sean menuntun istrinya keluar dari kamar.


Irene memperlihatkan wajah juteknya, namun ia tidak menolak perlakuan suaminya. Karena saat ini yang ia butuhkan adalah dukungan dari suaminya sendiri.


"Sakit banget ya?" tanya Sean saat sudah berada di halaman rumah.


"Nggak! Enak banget!" sungut Irene seraya membuka pintu mobil dan masuk ke dalam sana duduk di jok belakang.


"Sory, Irene." Sean berucap penuh sesal kemudian ia segera masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi. "Kita ke rumah sakit terdekat ya."


Sean melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan, sembari menatap istrinya dari kaca spion bagian tengah.


Irene mengepalkan kedua tangannya seraya menggertakkan giginya dengan kuat saat rasa mulas dan sakit itu datang lebih sering.


"Tapi ... bahaya kalau ngebut." Jawaban Sean malah semakin membuat Irene esmosi.


"Ini URGENT Sean! Kamu mau anakmu lahir di dalam mobil?!" sentak Irene sembari menahan rasa sakit yang melanda. Rasanya Irene ingin memukul kepala suaminya dengan sangat keras.


"E-enggak dong," jawab Sean semakin gugup. Kedua tangannya bergetar dan begitu pula dengan kakinya. Ia berusaha untuk tetap tenang dan menarik nafas panjang dan mengeluarkan dari mulut, ia melakukannya berulang kali sampai ia merasa tenang.


Setelah merasa tenang, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit terdekat.


*


*


*


Sampai di rumah sakit, Irene segera di tangani oleh dokter.


"Sudah pembukaan delapan, sekarang bawa ke ruang bersalin," titah dokter kepada dua perawat yang ada di sana.


Sean menatap istrinya dengan rasa bersalah karena ia menjadi suaminya bodoh dan tidak siap siaga.


"Pak, anda ikut ke ruang persalinan untuk menemani istri anda," ucap dokter kepada Sean yang berdiri di samping tempat tidur pasien.


"Ke ruang persalinan? Ba-baik dokter," jawab Sean terbata, sembari menelan ludahnya dengan kasar karena ia takut dan tidak sanggup melihat istrinya yang kesakitan.


"Aku pasti bisa," batin Sean menyemangati dirinya sendiri.


***


Rasanya pengen getok kepala Sean, kesel banget sumpah🤣🤣🤣


Jangan lupa dukungannya ya❤❤