My Hot ART

My Hot ART
Menyesapnya



"Apakah disini rawan banjir?" tanya Ansel, saat menatap ke arah luar jendela. Hujan sangat deras hingga air dari parit mulai naik ke permukaan.


"Iya," jawab Melisa, mendekap putrinya yang sudah tertidur dalam pelukannya. "Tapi, airnya tidak sampai masuk ke rumah kok. Palingan Gang depan sana yang banjir parah," lanjut Melisa, menjelaskan.


Ansel mengangguk mengerti, lalu mendudukan dirinya lagi di sofa. Matanya menatap Zahra yang tidur di pelukan Melisa. "Apa kamu tidak menidurkannya di kamar?" tanya Ansel.


"Ah, iya. Tapi, aku sedikit kesulitan mengangkatanya," jawab Melisa sembari terkekeh pelan, lalu mengusap pipi putrinya.


"Kenapa tidak bilang?" Ansel beranjak, mendekati Melisa lalu mengangkat tubuh mungil Zahra dengan pelan. "Katakan di mana kamarnya??"


Melisa beranjak lalu berjalan mendahului, kemudian membukakan pintu kamarnya. "Letakkan diatas tempat tidurku saja," ucap Melisa.


Ansel berjalan memasuki kamar bernuansa biru itu, lalu merebahkan Zahra diatas tempat tidur sana.


"Kamarmu bagus, warnanya biru laut, warna ke sukaan ku," ucap Ansel.


"Oh, benarkah? Aku dulu tidak sengaja saja memilih warna biru ini," jawab Melisa apa adanya. Sembari menyelimuti tubuh putrinya, dan menyalakan AC.


Ansel masih memperhatikan kamar yang bernuansa biru itu. Tidak terlalu besar, namun terlihat sangat rapi.


"Apakah anda lapar, Tuan?" tanya Melisa.


Ansel menatap jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Dan ternyata waktu sudah menunjukkan jam 11 siang. "Iya, lapar sedikit," jawab Ansel.


Melisa mengangguk pelan, lalu beranjak menuju dapur dan di ikuti Ansel.


"Kenapa Anda mengikuti saya?"


"Aku hanya ingin melihat mu memasak. Higienis atau tidak," jawab Ansel.


Melisa memutar kedua matanya jengah, dan membiarkan Ansel tetap disana. Kemudian, ia mengeluarkan bahan masakan yang akan ia olah.


"Hei! Kamu mau masak apa?" tanya Ansel, ketika melihat Melisa mengeluarkan sayur kangkung dan tempe.


"Tumis kangkung dan Tempe goreng. Oh, aku lupa kalau anda mana mungkin pernah memakan makanan seperti ini," ucap Melisa, sekaligus mencibir Ansel.


"Sembarangan! Aku pernah memakannya, saat di Semarang," jawab Ansel dengan ketus, lalu menyenderkan punggungnya di kulkas dua pintu, bersedekap di dada sambil menatap Melisa yang sedang merajang sayuran kangkung.


"Mel, bolehkah aku bertanya?"


"Hem, tanyakan saja, Tuan," jawab Melisa, tanpa menoleh.


Melisa mendengar ucapan Ansel, menghentikkan pergerakannya sejenak. "Tanyakan apa saja yang ingin anda tahu, Tuan," ucap Melisa, terdengar datar. Merajang kangkung telah selesai, kini beralih mencuci kangkung tersebut sampai bersih dan berlanjut membuat bumbu.


"Mel, benarkah mantan suami mu itu Tuan Edward?"


"Iya," jawab Melisa singkat, sambil mengiris bawang merah.


"Dia bekerja sama dengan perusahaan Daddy-ku. Dan apakah selama ini, kamu dilarang bertemu dengan Zahra?" tanya Ansel lagi.


"Iya, Tuan. Semenjak kami bercerai hak asuh Zahra ada di tangan Edward pria brengsek itu! Untuk itu saya memohon kepada anda, membantu saya untuk merebut hak asuh Zahra," pinta Melisa sambil terisak, lalu mengusap air matanya.


"Aku akan membantumu, Mel. Apalagi Zahra sudah ditelantarkan begitu, aku juga tidak terima jika Zahra di asuh oleh ayahnya," ucap Ansel.


"Terima kasih, Tuan. Hikss ... ." Melisa menangis terisak.


"Eh! Apakah aku sudah membuatmu sedih? Maafkan aku, bukan maksudku mengungkit luka lama mu," ucap Ansel merasa bersalah, lalu mendekati Melisa, seraya memegang bahu wanita tersebut.


"Aku tidak sedih karena masa laluku. Tapi, jariku teriris pisau, huwaaaaa ...." Melisa menunjukkan jarinya yang sudah mengeluarkan darah segar.


Ansel terkejut, dengan reflek langsung menarik tangan Melisa dan menyesap jari yang terluka itu.


"Eh, Tuan, jangan!" Melisa tidak kalah terkejut, ingin menarik jarinya namun di tahan oleh Ansel.


Melisa mendongak menatap Ansel yang masih menyesap jarinya dengan sangat lembut. Tatapan mata keduanya bertemu, saling mengunci satu sama lain. Jantungnya pun berdetak tidak karuan, dan ada desiran aneh yang menjalar ke seluruh tubuh mereka, yang sulit untuk dijabarkan.


*


*


Kemudian ....


Bersambung 🤣🤣🤣


Tet .... Tott ... di gantung lagi.


Sesok ya sesok 🤣🤣🤣🙏


Likenya jangan lupa.❤