
Sean semakin merapatkan tubuhnya ketubuh mungil yang sudah setengah polos itu, akan tetapi Irene dengan cepat mendorong tubuhnya.
"Kenapa mendorong gue!" protes Sean.
"Ada sesuatu yang bergerak di balik celanamu," jawab Irene polos.
Sean menggembungkan pipinya ketika mendengar perkataan istrinya, dan ia mengerti yang di maksud oleh Irene. "Kira-kira apa yang bergerak?" tanya Sean.
Irene menaikkan kedua bahunya bersamaan seraya memalingkan wajahnya yang merona. "Dasar Buaya Amazon! Kenapa harus mempertanyaan hal itu sih! Jadinya 'kan malu," gerutu Irene di dalam hati.
"Lo nggak ingin berkenalan sama dia?" tanya Sean, menahan tawa ketika melihat wajah Irene semakin merona.
"Tidak!" ketus Irene.
"Kenapa? Biar lo nggak kaget, kalau dia mau mengunjungi sarangnya," ucap Sean, terdengar absurd di indra pendengaran Irene.
"Apaan sih?! Minggir! aku mau mandi!" Irene mendorong Sean keluar dari kamar mandi, kemudian segera mengunci pintunya.
"Irene! Kita 'kan mau mandi bareng!" teriak Sean dari dalam kamar mandi, sembari mengetuk pintu kamar mandi tersebut berulang kali.
"Huh, selamat dari terkaman dari Buaya Amazon," gumam Irene, sembari mengelus dada, kemudian segera membersihkan dirinya.
Sedangkan Sean yang masih berdiri didepan pintu kamar mandi, mengumpat kesal. "Sial banget! Padahal mau icip tuh buah pepaya yang terlihat mengkal," gerutu Sean. Kemudian beranjak dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah disediakan disana.
Sean tersenyum smirk, ketika melihat ada dua lingerie tergantung di dalam lemari kamar hotel tersebut. Lingerie itu berwarna merah dan hitam dengan model yang berbeda.
"Mommy memang yang terbaik," gumam Sean, sembari membayangkan Irene memakai pakaian tipis itu, pasti terlihat sangat sexy.
"Jon! Sebentar lagi, lo bakalan masuk sarang baru, dan akan membuat kepala lo kliyengan," ucap Sean, menundukkan kepala seraya menoel si Joni yang sudah berdiri tegak dibalik boxernya yang bermotif Squidward Tentacles.🤣
Si Joni merespon sambil menganggukkan kepalanya berulang kali, bertanda jika dia senang dan bahagia. Mungkin jika Joni bisa berbicara, dia akan berkata. "Beruntungnya gue, mau ngebobol perawan. Biasanya si Bos 'kan suka main colok ke botol bekas."
Sabar ya, Jon. 🤣
Tidak berselang lama, Irene keluar dari kamar mandi menggunakan jubah mandi berwarna hitam, dengan handuk warna senada yang membungkus rambutnya.
Sean menoleh, dan terkesima melihat tampilan Irena yang sangat menggoda. Wangi sabun dan shampo bercampur menjadi satu menyeruak masuk kedalam indra penciumannya, membuat hasratnya kembali memuncak.
"Se, jangan menatapku seperti itu," ucap Irene, seraya mengedarkan matanya keseluruh ruangan tersebut. Ia sangat malu dan gugup jika ditatap seperti itu.
"Memang kenapa? Sudah SAH ini," jawab Sean, menekan kata 'sah' agar Irene mengingat status mereka yang sudah menjadi suami istrinya.
"Iya, tapi kan malu." Irene berkata lirih, ia masih berdiri didepan pintu kamar mandi, kakinya terasa berat untuk melangkah.
Sean mendudukan diri ditepian tempat tidur, lalu menepuk sisi kirinya yang kosong, sambil menatap Irene yang masih berdiri ditempat.
Irene menghembuskan nafas dengan kasar, seraya meremat kedua tangannya bergantian. Dengan perasaan yang tidak karuan, ia berjalan mendekati Sean perlahan lalu mendudukan diri disamping suaminya itu.
Sean menoleh seraya menatap Irene dengan dalam, sedangkan yang di tatap menundukkan kepala.
"Ren, tatap gue." Sean mengangkat dagu Irene dengan jari telujuknya.
"Aku nervous," jawab Irene pelan, lalu mengalihkan pandangannya ketika tatapan matanya bertemu dengan sorot mata yang tajam itu.
Sean tersenyum tipis ketika mendengarnya, kemudian ia mengangkat tubuh Irene ke atas pangkuannya. "Rileks, Sayang," bisik Sean dengan suara parau, lalu mengecup pipi Irene bergantian.
Kok aku yang deg-degan dan malu ya?🙈☺
Kasih sawerannya lagi, dan votenya keluarin semua dong😉