My Hot ART

My Hot ART
Khilaf 1



Warning!!! Mengandung Bon cabe level 50! 🔥🔥


Ciuman itu semakin panas. Pasangan yang sedang berpatukan itu sudah terbakar gairah. Akal sehat mereka sudah tertupi oleh hawa nafssu yang sudah tidak terbendung lagi. Salah satu tangan Ansel yang tadinya ada di tengkuk Melisa kini berpindah meremat dada yang berukuran cukup besar itu dengan penuh gairah.


"Ah ..." Melisa melenguh dan ******* rakus bibir Ansel, ketika merasakan kenikmatan yang tidak terkira, saat Ansel memainkan dadanya.


"Mel ..." suara Ansel sudah sangat berat, bertanda jika dirinya sangat bergairah, sambil menatap wajah Melisa yang terlihat meremah.


"Please, touch me," rintih Melisa yang sudah tidak kuasa menahan hasratnya lagi. Bagian intinya terasa basah dan gatal, tidak sabar untuk segera di masuki. Melisa menarik kedua tangan Ansel dan mengarahkannya di dadanya.


Ansel sudah seperti kucing yang di beri ikan tongkol, kedua tangannya meremat dua gunung kembar itu dengan gemas. Dan bibir mereka bertaut kembali.


Melisa membuka kemeja Ansel, namun gerakan tangannya di tahan oleh pria itu. "Jangan di sini."


Melisa mengerti, lalu menarik Ansel masuk kedalam kamar kosong yang ada di sebelah kamarnya. Tidak lupa mengunci pintu kamar itu. Mata keduanya saling memandang dan saling mengunci. Nafas keduanya memburu dan mulai berperang bibir lagi dengan penuh gairah.


"Aku akan bertanggung jawab, Mel," ucap Ansel dengan parau, seraya melepas seluruh pakaian Melisa dan melemparkannya asal. Tubuh molek tanpa sehelai benang itu tempak sexy di mata Ansel, di tambah lagi dua pepaya gantung terlihat ranum dan sangat menggairahkan.


"Mel ... Ini sangat indah," Ansel berucap sembari memilin pucuk dada yang berwarna pink itu dengan gemas.


Melisa melenguh dan semakin terbakar gairah. Ia tidak sabar, dan melepas seluruh pakaian Ansel. Tubuh keduanya kini sudah polos tanpa sehelai benang. Melisa mendorong Ansel hingga jatuh terlentang diatas tempat tidur, lalu merangkak naik keatas tubuh pria itu.


"Wow! Mel ...!" Ansel tidak menyangka jika Melisa sangat agresif.


Melisa hanya tersenyum, tanpa malu memegang dan mengurut benda pusaka Ansel yang sudah menegang tinggi.


Ansel mengambil bantal untuk menyangga kepalanya, agar ia bisa menatap Melisa yang sedang memanjakan Si Jono.


Setelah puas bermain dengan Si Jono, Melisa merangkak naik mensejajarkan wajahnya dengan Ansel.


"Kamu cantik, Mel," ucap Ansel, lalu manarik tengkuk Melisa dan melumaat bibir manis itu dengan sangat rakus, dan salah satu tangannya meraih bukit kembar yang bergelayut indah.


"Ahh, Tuan."


"Panggil Ans, Mel." Pinta Ansel, lalu meneggelamkan wajahnya di sela bukit kembar itu, kemudian menyesap pucuk dada itu bergantian dan sangat rakus.


Melisa menggigit bibir bawahnya, merasakan kenikmatan yang tiada terkira. "Aku sudah tidak tahan, Ans," lirih Melisa.


Ansel mengerti lalu merubah posisinya, saat ini Melisa berada di bawah kungkungannya. Membuka kedua paha Melisa dengan lebar, seraya menatap keindahan yang ada di ujung sana, berwarna pink merekah dengan daging kecil menghiasi pucuknya. Ansel menyentuhnya daging kecil itu dan menekan dengan ibu jarinya dengan gerakan memutar.


"Ahh ... ahh ... Ans .... please ..." Melisa menggelinjang seperti cacing kepanasan dan mendesaah saat Ansel memainkan bagian intinya.


Tidak puas sampai disitu. Ansel semakin membuka kedua kaki Melisa dengan lebar lalu menenggelamkan wajahnya di sela paha itu. Ia menjulurkan lidahnya dan menjilat bagian inti Melisa dengan gerakan lembut.


Suara erangan dan desahaan Melisa terdengar memenuhi kamar itu.


Jangan hujat Authornya ya, salahin jari-jari tanganku yang los dolll ngetiknya. 🤣🙈