
Malam hari telah tiba.
Seluruh penghuni rumah tersebut sedang duduk di atas tikar tepatnya di depan televisi untuk makan malam bersama.
Nathan menatap satu persatu menu makanan yang nampak asing baginya.
"Disini kamu makan seadanya, ndak ada makanan mewah kayak di rumahmu," ucap Bapak, sambil menerima sepiring nasi dari istrinya.
Nathan mengangguk lalu tersenyum.
"Hushh!" Ibu menyenggol bahu suaminya agar tidak terlalu galak kepada Nathan.
Kirana tersenyum ketika melihat ibunya yang membela kekasihnya, lalu ia turut mengambilkan sepiring nasi dan memberikannya kepada Nathan.
"Silahkan, Mas," ucap Kirana, sambil menyodorkan piring tersebut.
"Apa?" Nathan mengedipkan matanya berulang kali, terkejut dengan sapaan baru yang di lontarkan oleh kekasihnya.
"Kenapa?" tanya Kirana, wajahnya bersemu merah dan merasa malu sendiri ketika memanggil Nathan dengan sebutan 'Mas'.
"Tidak apa-apa. Aku suka dengan panggilan itu," jawab Nathan, lalu mengambil sepiring nasi dari Kirana.
"Ah, begitu ya." Kirana menjadi salah tingkah, dan semua itu tidak luput dari penglihatan kedua orang tuanya.
"Ora usah kemayu! (Nggak usah sok kecantikan!)" seru Bapak, sambil memasukan nasi ke dalam mulutnya.
"Ih! Bapak apaan sih," gerutu Kirana, sembari mencebik kesal.
"Ini apa, Say— em Dek?" Nathan meralat panggilan sayang kepada Kirana menjadi 'Dek'.
"Apa?" Kali ini Kirana yang terkejut dengan panggilan baru dari kekasihnya. Wajahnya semakin bertambah merah dibuatnya.
Walaupun hanya sekadar panggilan sederhana, namun tak dipungkiri jika panggilan tersebut membuat seseorang menjadi senyum-senyum sendiri. Termasuk Kirana dan Nathan, yang saat ini saling pandang dan saling lempar senyum.
Author juga ikut senyum-senyum kayak orang gila nih. 😁
"Ehem!!!" Bapak berdehem keras, membuat pasangan yang sedang di mabuk asmara cinta itu terkejut dan langsung fokus ke makanannya masing-masing.
"Bapak ini apaan sih!" tegur Ibu.
Glek
Nathan menelan makanannya tanpa mengunyah, membuat tenggorokannya terasa tercekat hingga membuatnya kesulitan untuk bernafas, dengan cepat ia menenggak air minum yang ada di hadapannya.
"Wes, jangan di dengarkan ucapan Bapak. Nah, ini sambal pete sama ikan asin, enak banget loh, ayo di makan," ucap Ibu, sambil menuangkan dua sendok sambal pete ke piring Nathan.
"Bu! Mas Nathan, nggak doyan pete sama ikan asin," tegur Kirana.
"Tidak apa-apa, Dek. Mas bisa kok makan ini semua," sela Nathan, sambil menahan senyumannya, begitu pula dengan Kirana.
"Tuh, dengar. Nathan saja tidak masalah," jawab Ibu, lalu menambahkan satu sendok sambal pete ke Piring Nathan.
Wajah Nathan pias ketika melihat piringnya menjadi lautan cabe.
Alamat mules ini. Tapi, tidak apa-apa demi restu dan Dek Kirana seorang, apa pun akan aku lakukan. Batin Nathan, menyemangati dirinya sendiri.
Acara makan malam berjalan dengan lancar, hanya saja Nathan harus bermandi keringat karena kepedasan.
Kirana merasa kasihan dan berinisiatif untuk membuatkan susu hangat untuk Nathan, guna menetralisir rasa pedas itu dan juga agar Nathan tidak sakit perut.
"Susunya, Mas," ucap Kirana, menyodorkan segelas susu kepada Nathan yang sedang mencari angin di ambal bawah pohon jambu.
Nathan tersenyum senang, ia menerima susu tersebut sambil berkata. "Kalau minum susu dari pabriknya boleh nggak, Dek?"
"Heeeeh, enak saja!" sungut Kirana, menatap kesal kekasihnya. Lalu mendudukkan diri di samping Nathan.
Sedangkan Nathan segera menenggak habis susu tersebut.
"Habisnya susu kamu bikin nagih sih." Nathan meletakkan gelas yang sudah kosong itu di sebelah sisinya yang kosong.
"Ngomong lagi coba!" omel Kirana, sambil mengepalkan tinju kepada Nathan.
Nathan tergelak lalu memeluk leher Kirana, dengan erat dan mengecup kening kekasihnya berulang kali.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengintip di balik pohon kelapa yang tidak jauh dari sana.