
Sementara itu Aiden sedang menatap sebal Oma Airin dan gadis yang duduk didekat Omanya itu.
"Hei! Wajahmu jangan menekuk seperti itu!" tegur Oma Airin.
"CK!" Aiden berdecak kesal lalu memalingkan wajahnya.
"Kamu 'kan meminta Oma untuk mencarikan model yang akan dijadikan Brand Ambasador, WG. Sesuai dengan yang kamu minta, cantik, natural, polos dan juga cerdas," jelas Oma Airin, memuji wanita gadis cantik yang ada didekatnya.
"Tapi bar-bar," balas Aiden sembari memijat pelipisnya. Kepalanya terasa pusing karena ia belum mendapatkan BA yang dia inginkan.
Gadis yang duduk didekat Oma Airin tampak kesal dengan perkataan Aiden.
"Masalah bar-bar bisa diatur, dan dia pasti bisa jaga sikap. Ya kan, Gwen?" Oma Airin menatap gadis yang ada didekatnya ini.
"Iya, Malin dan Om Aiden," jawab Gadis yang bernama Gwen itu.
Gwen adalah anak ke-dua dari Emanuel dan Fika, kerabat dekat keluarga Clark. Gadis berusia 17 tahun itu masih SMA. Mempunyai postur tubuh yang tinggi, wajah cantik, kulit bersih dan putih. Gwen juga seorang atlet karate yang kemampuannya tidak diragukan lagi.
Aiden melotot sempurna saat dirinya di panggil dengan sebutan 'Om' oleh gadis kecil yang ada duduk dihadapannya ini.
"Jangan marah seperti itu, tidak salah jika Gwen memanggilmu dengan sebutan OM, karena kamu 'kan sudah tua, hi hi hi," sela Oma Airin sambil tertawa cekikikan, saat melihat Aiden semakin kesal pada Gwen.
"Perbedaan umur kami hanya 5 tahun, Oma!" jawab Aiden, memutar kedua matanya dengan malas.
Aiden menatap Gwen yang terlihat berbeda, biasanya gadis itu memakai kaos longgar dan celana jeans sobek dibagian lutut, tapi kali ini Gwen terlihat lebih cantik dengan polesan make-up tipis dan natural. Tubuh rampingnya itu dibalut dengan dress berwarna pink, siapa pun yang melihatnya akan terpesona kecuali Aiden.
"Baiklah. Senin nanti datang ke WG dan kita akan membicarakan kotrak kerja, untuk masalah harga kamu jangan khawatir, karena WG akan membayarmu tinggi," jelas Aiden, menatap datar Gwen.
Jika bukan karena Oma Airin yang memintanya datang kerumah Kelurga Clark, dia tidak akan mau karena terlalu malas berhadapan dengan manusia Batu es itu.
"Sombong!" gumam Aiden masih didengar Gwen.
"Terserah aku dong!" jawab Gwen dengan ketus.
"Tapi, WG akan tetap membayar mu. Aku tidak ingin memperkerjakan orang dengan gratis!" lanjut Aiden, penuh penekanan.
"Baiklah, Om Aiden!" balas Gwen menatap datar Pria berwajah tampan itu.
Oma Airin menatap keduanya bergantian, namun tiba-tiba ia tersenyum licik sembari menganggukkan kepalanya berulang kali. Entah apa yang dipikirkan Nenek tua itu, hanya dia lah yang tahu. 😆
"Kalau begitu Oma tinggal dulu ya. Aduh, sepertinya encokku kambuh. Kalian lanjutkanlah membahas pekerjaan, jangan memikirkan Nenek tua ini." Oma Airin beranjak dari duduknya dengan bantuan tongkatnya, lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Setelah Oma Airin tidak terlihat, Aiden dan Gwen saling menatap sengit.
"Apa lihat-lihat!! Nggak pernah lihat cewek cantik ya?" tanya Gwen dengan ketus dan berkacak pinggang.
"Hah!! Percaya diri sekali kamu!" jawab Aiden, tersenyum miring, tanda mengejek.
"Jelas percaya diri, karena aku memang cantik!" jawab Gwen sembari mengibaskan rambut panjangnya, membuat Aiden menggeleng pelan.
Masih ingat 'kan siapa Emanuel dan Fika, buat pembaca baru, wajib baca karya Emak yang berjudul Suamiku Gemulai. ❤