
Gwen mendorong dada bidang itu, saat lift sudah terbuka. Ia segera keluar dari dalam lift tersebut, meninggalkan Aiden yang masih terpaku ditempatnya. Kemudian ia segera berlari menuruni tangga, menuju kamarnya yang ada di lantai bawah.
"Intan permataku, kenapa berlari seperti itu? Nanti kamu terjatuh," tegur Nue yang akan melihat putrinya berlarian menuruni tangga. Kebetulan Nue akan ke halaman belakang untuk mencari udara segar, tapi pada saat sampai diruang tengah ia melihat putrinya berlari menuruni tangga.
"Iya, Pi. Aku sedang berolah raga, maklum sudah hampir satu minggu ini tidak latihan," jawab Gwen beralasan. Lalu melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
"Dasar anak muda," gumam Nue.
*
*
Sampai didalam kamar, Gwen langsung merebahkan dirinya diatas tempat tidur dan menumpahkan tangisnya disana, hingga ia merasa lelah sendiri dan tidak terasa ia mulai memejamkan matanya, terlelap dalam tidurnya.
Tepat jam 1 malam, ada seseorang yang masuk ke dalam kamar gadis itu, lalu merebahkan tubuhnya disamping tubuh ramping Gwen.
"Apa aku menyakitimu?" tanyanya, sembari mengusap air mata yang sudah mengering di pelupuk mata Gwen.
"Aku tidak tahu apa yang ada di dalam hatiku ini. Apakah ini yang namanya cinta? Aku merasa nyaman jika berada di dekatmu dan juga aku marah disaat kamu mengabaikanku," ucapnya, lalu mengecup kening gadis itu dengan lembut.
Gwen sedikit membuka kedua matanya, tersenyum tipis saat melihat wajah tampan itu berada di hadapannya, kemudian ia memejamkan matanya lagi, sembari bergumam, "Aku membencimu, Om."
Aiden bernafas lega saat mengetahui Gwen hanya mengigau. "Di dalam mimpi pun, kamu membenciku, Gwen?" gumamnya, lalu menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapan hangatnya.
"Tidurlah Gwen, aku akan menjagamu," gumamnya lagi. Mengecup pucuk kepala gadis itu dengan lembut lalu ia pun mulai memejamkan matanya, terlelap dalam tidurnya dan mengarungi mimpi bersama Gwen.
Gwen merenggangkan otot tubuhnya, sambil menatap disisi kirinya. "Aku tadi malam memimpikannya. Dia tidur disini dan mendekap tubuhku dengan erat. Tapi, kenapa mimpi itu terasa sangat nyata?" gumam Gwen, sembari mengusap permukaan kasur sisi sebelahnya yang kosong itu dengan lembut.
*
*
Aiden yang baru keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk putih melilit di atas pinggangnya itu, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang terlihat sangat kekar. Mendengar suara tawa bersahutan di luar sana, membuatnya sangat penasaran untuk melihatnya.
Ia berdiri didekat jendela kamarnya, bibirnya tersenyum tipis saat melihat Gwen beserta Oma Airin yang mulai sehat itu sedang joget poco-poco.
"Dasar gadis bar-bar," gumam Aiden terkekeh, dan matanya terfokus pada wajah Gwen yang terlihat cantik natural.
"Gwen! Pinggang Oma terasa mau patah!" teriak Oma Airin sambil memegangi pinggangnya, lalu mendudukan diri dikursi yang sudah disediakan disana.
"Oke, baiklah," jawan Gwen, lalu duduk diatas rerumputan sambil memijat kaki Oma Airin dengan lembut. "Apa pijatanku ini enak?"
Semua pergerakan Gwen tidak luput dari penglihatan Aiden. Pria itu begitu bangga kepada Gwen yang sangat baik dan tulus membantu merawat Oma Airin.
"Pijatanmu sangat enak. Kamu itu cantik dan baik. Sangat cocok dengan Ansel, apa kamu mau menikah dengan Ansel?" tanya Oma Airin, seraya mengusap lembut pucuk kepala Gwen.
"Tentu saja aku mau, Ansel pria yang baik," jawab Gwen, lalu tergelak keras.
Aiden yang mendengarkan percakapan Oma Airin dan Gwen, meradang dan mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Satu kata buat Aiden, Syukurinnn🤣🤣🤣