My Hot ART

My Hot ART
Melisa



Ansel memasuki ruangan pribadi Xander dengan wajah yang menekuk sebal, sambil mendekap boneka monyetnya.


"Daddy kenapa memanggilku sepagi ini? Masih mengantuk tahu!" Ansel mengerucutkan bibirnya, seraya mendudukan dirinya di kursi, tepat dihadapan Daddy-nya, hanya terhalang meja kerja saja.


Xander menggeleng, lalu menggulung Map yang ada di tangannya untuk memukul putranya itu.


PLAK!


Xander memukul kepala Ansel dengan keras. "Kamu ini yang sopan sama orang tua! Dan apa ini? Kenapa kamu menggendong boneka sialan ini!" Xander menuding boneka monyet yang di peluk erat oleh Ansel.


"Daddy sakit! Aku akan mengadukannya kepada Mommy, lihat saja!" ucapnya seraya mengusap kepalanya yang terasa sakit.


"Adukan saja, Daddy tidak takut!" jawab Xander, lalu melemparkan berkas tepat di hadapan putranya. "Baca berkas itu!"


Dengan rasa yang kesal Ansel mengambil berkas tersebut lalu membacanya. "Hah?! Apakah ini benar?" Terkejut saat membaca semuatulisan yang tertera di berkas tersebut.


"Buat bangkrut perusahaannya, berani sekali dia menelantarkan anak kandungnya sendiri! Sikapnya lebih buruk dari seekor singa!"


"Tapi, Dad, perusahaannya bukankah sedang bekerjasa sama dengan Holitron Grup? Dan apakah harus memakai cara itu untuk membalasnya? Aku rasa itu terlalu picik." Ansel tidak setuju dengan rencana Daddy-nya.


"Dia pantas mendapatkannya, Ans!" jawab Xander.


Ansel tetap menggeleng, tidak setuju karena perusahaan tersebut memberikan keuntungan besar untuk Holitron Grup. Ansel membaca berkas itu lagi, keningnya mengerut saat membaca biodata mamanya Zahra. "Astaga, ternyata dia," gumam Ansel, masih didengar oleh Xander.


"Kamu mengenal mamanya Zahra?" tanya Xander, dan Ansel menganggukkan kepalanya.


"Tidak kenal, tapi aku pernah bertemu dengannya di restoran Bang Juna. Dia seorang waitress," jawab Ansel.


"Segera jemput dia, Ans. Kasihan pasti saat ini sedang mencari keberadaan putrinya, dan bantu dia untuk mendapatkan hak asuh putrinya," titah Xander.


"Haiss! Kenapa harus aku?!" Ansel menunjuk dirinya sendiri.


"Karena kamu yang menemukan Zahra! Dan apa salahnya, jika kamu membantu seorang single parent? Ini demi perikemanusiaan!" tegas Xander.


Ansel cemberut kesal, lalu segera beranjak. "Iya .. iya .. nggak usah nge-gas kali!" gerutu Ansel, dan langsung melarikan diri amukan Daddy-nya.


"Ansel!! Dasar bedebah licik sialan!" umpat Xander.


Hari mulai beranjak siang. Seorang wanita sedang berdiri dihadapan atasannya sambil menundukkan kepala.


"Kenapa kamu kemarin tidak masuk bekerja?!" tanyanya sambil menatap tajam wanita tersebut.


"Maaf, Pak Manager. Saya sedang kesusahan, anak saya hilang dan sampai sekarang belum diitemukan," ucap wanita tersebut, yang tidak lain adalah Melisa.


"Jangan banyak alasan!!"


"Demi Tuhan, Pak. Saya tidak berbohong, beri saya kesempatan lagi, dan jangan pecat saya," pintanya mengiba dan meneteskan air matanya.


"Cih! Tidak ada kesempatan lagi! Apa kamu tidak tahu, jika peraturan berkeja disini sangat ketat, jika pun kamu tidak masuk kerja harus menyertakan surat ijin lebih dulu! Dan masih banyak orang yang ingin bekerja di Hotel ini!"


Tok ... Tok


Pintu ruangan di ketuk dari luar, dan tidak berselang lama masuklah asisten manager tersebut, memberitahukan jika Melisa di panggil oleh Pak Arjuna.


"Kesalahanmu sudah sangat fatal, sehingga Pak Arjuna juga turut memanggilmu! Semoga nasib baik masih berpihak kepadamu, ya!" ucapnya dengan sinis, karena sakit hati cintanya di tolak oleh janda cantik beranak satu itu.


Melisa berjalan menuju ruangan Arjuna dengan jantung yang berdebar-debar kencang. Takut jika dipecat. Berdiri di depan pintu ruangan Arjuna, dengan perasaan cemas dan takut, tangannya terangkat untuk mengetuk pintu tersebut beberapa kali, hingga terdengar sahutan dari dalam ruangan yang mempersilahkanya masuk.


"Meli? Kamu Meli 'kan?" tanya Arjuna, ketika Melisa sudah berada di ruangannya.


"I ... iya, Pak. Saya, Melisa," jawabnya dengan suara yang bergetar.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, silahkan duduk dulu," ucap Arjuna, seraya mempersilahkan Melisa duduk di kursi yanga ada di hadapannya.


Bersambung sek ... Sesok eneh🤣


Jangan lupa kasih like dan vote ya, makasih❤