My Hot ART

My Hot ART
S2. Jessany Clark



Xander menghela nafas panjang saat mendengar ucapan putra bungsunya itu. "Biar Daddy saja yang ke sana," ucap Xander kepada istrinya.


"Tapi, Dad—" Jeje sepertinya keberatan dengan keputusan suaminya itu, namun belum selesai berbicara suaminya sudah memotong ucapannya.


"Kamu di sini. Karena Ansel juga membutuhkanmu. Kita bagi tugas," potong Xander, seraya menatap istri dan putranya bergantian.


"Baiklah," jawab Jeje pada akhirnya. "Mereka berada di rumah sakit X tidak jauh dari rumah mereka," ucap Jeje sebkum suaminya berlalu dari sana.


Xander menganggukkan kepalanya, lalu berpamitan kepada anak dan istrinya. "Semoga Melisa dan anak kalian baik-baik saja," doa Xander seraya menepuk bahu Ansel.


Ansel menganggukkan kepalanya, dan mengaminkan doa ayahnya itu.


*


*


*


"Lo butuh sesuatu, Ren?" tanya Sean kepada istrinya yang baru selesai menyusui putri kecil mereka.


"Tidak," jawab Irene seraya tersenyum. Tatapan matanya sedu, dan mengendar ke setiap sudut kamar rawat inap yang ia tempati. Terasa sepi, sunyi dan tidak ada keluarga yang menemani mereka.


Apalagi Irene yang hanya seorang sebatang kara, tidak mempunyai siapa pun lagi keculai suami dan keluarga suaminya. Dan saat ini hatinya merasa sedih.


"Se, kenapa tadi tidak menghubungi Daddy dan Mommy, saat aku akan melahirkan?" tanya Irene sembari menatap suaminya yang duduk di tepian tempat tidur, sedangkan dirinya duduk bersandar di tempat tidur yang sudah di atur ketinggiannya.


"Gue gugup, Ren. Melihat lo yang meringis kesakitan saja sudah bikin otak gue nge-blank," jawab Sean dengan jujur, ia merasa panik, gugup dan khawatir saat melihat istrinya akan melahirkan buah hatinya. Yang ada di dalam pikirannya tidak ada yang lain kecuali istrinya yang bertaruh nyawa demi buah hati mereka.


Irene tersenyum tipis saat mendengarkan jawaban suaminya. Ia juga mengerti dan memahami posisi suaminya saat itu, kemudian pandangan matanya beralih menatap bayi mungil yang tidur pulas di dalam Box bayi. "Sekarang putri kita sudah lahir, mau di beri nama siapa?" tanya Irene, mengalihkan pembicaraan mereka.


"Jessany," jawab Sean sembari menatap istrinya di iringi dengan senyuman tipis.


"Jessany?" tanya Irene.


"He-em. Yang artinya adalah hadiah dari Tuhan," jawab Sean, seraya beranjak menuju Box bayi putrinya, menatap bayi mungil yang tertidur pulas itu dengan binar kebahagiaan.


"Bagaimana bagus tidak namanya?" Sean menoleh kepada istrinya yang tengah menatapnya.


"Namanya bagus, Se, dan unik. Apakah tidak di berikan marga keluargamu?" jawab Irene sekaligus bertanya kepada suaminya.


"Jessany Clark," jawab Sean seraya tersenyum senang, lalu mengecup pipi gembul putrinya yang lembut dan hati-hati.


"Amin," jawab Sean.


Tok ... tok ...


Ketukan pintu terdengar dari luar. Sean dan Irene menoleh ke arah pintu, bersamaan dengan masuknya Xander ke dalam sana.


"Daddy?" Sean tersenyum bahagia saat melihat kedatangan ayahnya.


Xander diam tidak menjawab sapaan putranya, ia terus berjalan menuju tempat putranya yang berdiri di dekat tempat tidur pasien.


"Putriku sudah lahir," ucap Sean saat Xander sudah berada di hadapannya menatap dirinya dengan datar.


Xander menghela nafasnya dengan panjang, lalu menonjok dada Sean dengan pelan, kedua mata berkaca-kaca lalu memeluk putranya itu dengan erat.


"Apakah kalian sudah merasa hebat?" tanya Xander dengan perasaan yang bergetar hebat. "Benar, kalian mau mandiri dan berdiri dengan kaki kalian sendiri. Tapi jangan sampai melupakan keluargamu, Se! Kamu tidak memikirkan perasaan istrimu!"terang Xander, seraya menepuk-nepuk punggung putranya dengan keras.


"Maaf, Dad. Aku sangat gugup waktu itu," jawab Sean jujur, dan balas menepuk punggung lebar ayahnya itu.


Irene menghapus air matanya saat melihat interaksi ayah dan anak itu.


Xander melepaskan pelukan itu, dan beralih menatap menantunya. "Maafkan Daddy dan Mommy. Bukan bermaksud tidak ada di saat kamu membutuhkan kami. Tapi, kami sungguh tidak tahu," ucap Xander kepada Irene seraya mengelus pucuk kepala menantunya itu dengan kasih sayang.


"Tidak apa-apa, Dad," jawab Irene seraya tersenyum tipis seraya menunjuk Box bayi di mana putri kecilnya tidur pulas di sana.


Xander tersenyum bahagia, rasa haru menyelimuti hatinya saat melihat bayi mungil tidur di dalam Box sana. "Tidak sia-sia aku menua," ucap Xander, seraya menunduk dan mengelus pipi cucunya yang gembul itu.


"Mommy mana, Dad?" tanya Sean.


Bibir Xander yang tadinya melengkung ke atas kini mulai mengendur saat mendapat pertanyaan dari putranya itu.


***


Sedih banget 😭😭😭


Emak ngetiknya sampe nangis, merasakan keharuan di antara mereka bertiga.😭


Jangan lupa dukungannya ya. mampir ke Suddenly married dan Pesona ayah mertua. ❤