My Hot ART

My Hot ART
Aura perawan memang beda



Setelah mengetahui hubungan Irene dan Sean, semua orang yang ada disana mendukung hubungan keduanya. Dan setelah itu juga mereka kembali ke aktifitasnya masing-masing dan membubarkan diri dari Warjah Grub.


*


*


Sampai kediaman keluarga Clark Jeje langsung membicarakan hubungan Sean dan Irene dengan suaminya.


"Daddy sibuk?" tanya Jeje, berjalan mendekati suaminya yang sedang duduk dibalik meja kerja.


"Tidak sibuk jika untuk istriku yang cantik," jawab Xander, menatap istrinya seraya menepuk pahanya bertanda jika Jeje harus duduk diatas pangkuannya.


Jeje mengulas senyuman manis, dan tanpa disuruh dua kali, ia langsung duduk diatas pangkuan suaminya dengan posisi miring sambil menyandarkan kepalanya didada bidang itu.


"Ada?" tanya Xander, seraya meraih salah satu tangan istrinya sekaligus mengecup punggung tangan itu dengan lembut.


"Ternyata benar jika Sean sudah punya calon istri," ucap Jeje, sambil membelai dada bidang suaminya dengan gerakan pelan.


Xander diam dan masih menyimak kelanjutan cerita istrinya, sambil menatap pergerakan tangan istrinya yang mulai melepas kancing ke mejanya satu persatu.


"Dan aku sudah bertemu denganya, ternyata gadis itu sangat baik dan yang lebih mengejutkan lagi, dia adalah Sekretaris Sean," lanjut Jeje, membuat Xander mengerutkan keningnya.


"Irene?"


"Iya, Irene gadis cupu dan polos itu. Sekarang sudah cantik sekali. Apa kamu menyetujui hubungan mereka?" tanya Jeje, sambil mengecup pipi suaminya dan salah satu tangannya membelai dada bidang yang sudah tidak terbungkus kain itu.


Xander terdiam sambil menggeram karena ulah istri nakalnya.


Xander tentu saja mengenal Irene dengan baik. Gadis itu sangat sopan, baik dan pekerja keras.


"Aku mengenal baik gadis itu, suruh mereka menemuiku besok," ucap Xander dengan suara seraknya karena gairahnya meningkat akibat ulah istrinya. Kemudian ia mengangkat tubuh Jeje keluar dari ruangan pribadinya dan menuju kamar mereka untuk melepaskan hasrat yang sudah satu minggu ini tidak tersalurkan.


*


*


*


Sore hari telah tiba.


"Lo serius ingin pindah dari sini?" tanya Sean dengan lesu.


"Iya," jawab Irene tanpa menoleh karena saat ini dirinya sedang memasukkan perlengkapan make-up nya kedalam tas.


Sean memperhatikan pergerkan Irene. "Gue pengen lo nggak usah berdandan lagi," ucap Sean.


Irene mengerutkan keningnya dan menoleh kearah Sean. "Memang kenapa? Bukankah aku lebih terlihat cantik jika berdandan?"


Sean menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu berjaalan mendekati Irene dan memeluk gadis itu dari belakang. "Kecantikan lo cuma buat gue, nggak ada yang boleh lihat selain gue!" bisik Sean didekat telinga Irene.


Irene tersenyum malu saat Sean berkata seperti itu kepadanya, ada rasa hangat yang menjalar masuk kedalam hatinya.


"Paham nggak?" tanya Sean.


"Iya paham," jawab Irene, melirik Sean dari samping.


Cup


Satu kecupan hangat mendarat dipipi Irene, membuat gadis itu terkesiap dan jantungnya berdetak tidak karuan.


"Cuma cium pipi doang," ucap Sean, menahan senyumannya lalu mengurai pelukannya.


"Kamu nyalahi aturan, Se!" Irene menatap kesal kekasihnya itu.


"Iya, maaf," jawab Sean lalu keluar dari kamar Irene dan menuju kamarnya.


"Gila! Baru kecup pipinya doang udah bikin jantung gue mau copot! Aura perawan memang beda," gumam Sean, saat sudah berada didalam kamar sambil menyandarkan punggungnya dipintu dan memegangi dada kirinya.


Sedangkan Irene pun sama halnya, gadis itu memegangi pipinya yang baru saja dikecup oleh Sean sambil tersenyum malu. Dan ia pastikan saat ini wajahnya sudah seperti kepiting rebus.


Aura perawan memang beda ya, Se?


Biasanya kamu nyolok botol bekas, sih 🤣🤣


Jangan lupa dukunganya ya, like, komentar, vote dan kasih gift.