
Sawer mana saweran?? Kopi oh kopii
Nathan menghela nafasnya sejenak ketika ia berhadapan dengan Bapak dan Ibu. Dia sudah tahu semuanya tentang masalah hutang tersebut, karena Bapak sudah menjelaskan semuanya. Akan tetapi Bapak menolak bantuan Nathan yang akan melunasi hutangnya.
"Bukan maksud hati saya untuk merendahkan Bapak dan Ibu, saya hanya ingin membantu saja. Ijinkan saya untuk menyelesaikan masalah hutang Bapak dan Ibu," ucap Nathan dengan sopan santun, berusaha untuk membujuk calon mertuanya.
"Saya tahu jika niat hatimu ini baik. Tapi, saya ndak mau merepotkanmu. Dan saya juga ndak mau keluarga saya ini dianggap matrealistis. Apalagi, hutang tersebut ndak sedikit, apa nanti tanggapan kedua orang tuamu jika mereka tahu?" Bapak tidak ingin kejadian yang lalu terulang kembali, dihina dan dicaci maki oleh orang kaya. Terutama yang dia pikirkan saat ini adalah putrinya, tidak ingin jika putrinya di anggap memanfaatkan Nathan.
"Saya paham dengan perasaan Bapak. Bapak tenang saja, keluarga saya tidak sejahat yang Bapak pikirkan. Anggap saja permintaan saya ini, permintaan pertama sebagai menantu Bapak," jawab Nathan diselingi dengan senyuman.
Kirana melotot sempurna, disaat seperti ini kekasihnya itu masih bisa bercanda.
Bapak menghela nafas panjang, menundukkan kepalanya sesaat, sepertinya beliau sedang mempertimbangkan semuanya.
"Yo wes lah. Manut wae, duitmu okeh iki. (Ya sudah lah. Ngikut saja, uangmu banyak ini)" jawab Bapak pada akhirnya sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya berulang kali.
Nathan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, lantaran tidak mengerti dengan bahasa yang di ucapkan Bapak. Ia menoleh ke Kirana, berharap jika kekasihnya itu mau menterjemahkannya.
Kirana tersenyum dan mengangguk pelan sebagai jawaban, dan Nathan pun mengerti kode yang di berikan kekasihnya.
"Baiklah, besok kita selesaikan ini semuanya," ucap Nathan senang. Dia tidak masalah jika harus kehilangan banyak uang, yang terpenting keluarganya hidup tenang damai dan bahagia.
Sebenarnya Bapak dan Ibu merasa tidak enak hati dengan Nathan, begitu pula dengan Kirana.
*
*
Disisi lain keluarga Clark sudah berada di Bandara Ahmad Yani, Semarang.
"Kenapa kita tidak menggunakan Jetpri saja sih!" Xander tidak berhenti menggerutu kesal selama di perjalanan karena pertama kalinya ini dia menaiki pesawat komersial dan yang membuatnya semakin kesal ketika pesawat yang mereka naiki adalah L*on Air dengan kelas ekonomi.
"Kita harus bersikap biasa saja di hadapan mereka, jangan sok kaya!" jawab Jeje tidak kalah kesal dan kupingnya terasa pengang ketika mendengar suaminya tidak berhenti menggerutu.
"Kalian ini kenapa, selalu ribut terus!" seru Oma Airin, sambil memegangi pinggangnya yang terasa pegal.
"Sean!!!" panggil Oma Airin, sambil menjentikkan tangannya bertanda jika Sean harus mendekatinya.
"Oh! No! Jangan aku Oma! Please." Mohon Sean, sambil mengatupkan tangannya di depan dada.
Sedangkan Ansel dan Aiden mengelus dada sambil mengucapkan syukur.
"Jangan banyak omong! Cepat tundukan badanmu!!" Oma Airin menarik leher Sean dengan tongkat saktinya.
"Ck!" Sean berdecak kesal, dan mau tidak mau akhirnya dia berjongkok membelakangi Oma Airin. Dan secepat kilat Oma Airin langsung naik ke punggung Sean.
Dengan susah payah, Sean menggendong belakang Oma Airin.
"Luntur sudah pesonaku!" gerutu Sean, dan menahan malu karena banyak orang yang menatapnya dengan geli karena menggendong Nenek nyentrik.
Dan ia merasa kesal juga karena tidak bisa tebar pesona dengan para gadis yang ada di Bandara itu.
"Semangat ya! Nanti di desa akan banyak wanita cantik," ucap Oma Airin, sambil menepuk pundak Sean barulang kali.
"Benarkah?" tanya Sean dengan wajah yang berbinar.
"Iya! Tapi bohong! ha ha ha haa," jawab Oma Airin tergelak keras dan di ikuti Ansel dan Aiden. Sedangkan Jeje dan Xander menutupi wajah mereka dengan masker karena malu dengan tingkah Oma Airin.
Muka kesal Daddy sama Mommy Jeje. ❤😘
Kangen Daddy apalagi sama pedang sakti mandraguna-nya 🤣🙈