My Hot ART

My Hot ART
Oh! Ternyata ....



Sudah up berapa bab hari ini? Coba dihitung..🤭


Minta bayaran likenya dong😘😘


Sore harinya, Kirana dan Jeje baru pulang dari salon Ema. Mereka berdua terlihat sangat kompak seperti ibu dan anak. "Apa kamu tahu. Mommy sejak dulu ingin menambah anak lagi tapi Daddy tidak setuju, karena dia trauma saat melihatku melahirkan Four J," ucap Jeje, sembari melangkahkan kakinya memasuki rumah besar tersebut.


"Dulu penuh perjuangan sekali saat mengandung empat anak nakal itu, sampai perutku sebesar ini."Jeje membentuk bulatan didepan perutnya dengan kedua tangannya.


"Sebesar itu?" Kirana merasa takjub dengan perjuangan ibu mertuanya.


Jeje mengangguk sebagai jawaban. "Tapi aku tidak merasa lelah sedikit pun, justru aku sangat bahagia," jelas Jeje.


"Mommy harap kamu bisa secepatnya hamil, ya. Biar rumah kita ini ramai sama tangisan bayi," ucap Jeje, dan di aminkan oleh Kirana.


"Mom, yang aku dengar Four J punya kakak perempuan?" tanya Kirana, menatap Jeje dari samping. Karena dirinya memang tidak pernah melihat kakak Four J, selama dia tinggal disana dan pada saat ia dan Nathan menikah pun tidak datang.


"Ya, kamu belum pernah bertemu dengannya ya? Namanya Raya, anak Daddy dengan mendiang istri pertamanya. Dulu dia sahabatku di masa kuliah, dan tidak menyangka jika aku berjodoh dengan Daddy-nya," jelas Jeje terkekeh, mengingat pertemuannya dulu dengan Daddy Xander.


Kirana sempat terkejut saat mendengar kisah cinta Ibu mertuanya.


"Kamu pasti terkejut, kan?" Kirana mengangguk sebagai jawaban.


"Raya sangat sibuk apa lagi saat ini ... ." Jeje tidak mampu melanjutkan ucapannya, mengingat putri sulungnya itu sedang dilanda masalah.


"Ah, Mommy sepertinya harus segera menemui, Daddy." Jeje mengalihkan pembicaran lalu berjalan munuju ruangan kerja suaminya.


Kirana terdiam dan cukup peka jika ibu mertuanya sedang tidak baik-baik saja, kemudian ia pun berjalan menuju kamarnya.


*


*


*


Ditempat lainnya Sean sedang berada di Warjah Grub setelah pulang bekerja dari restoran.


"Kamu ngapain disini?" tanya Aiden saat melihat saudara kembarnya memasuki ruangannya.


"Main saja," jawab Sean singkat, sembari memainkan kunci motor ditangannya.


"CK! Sudah tobat kamu? Biasanya mainnya ke Club malam?" cibir Aiden, sembari membuka berkas yang ada dihadapannya.


"Nggak usah ngeledek deh!" balas Sean kesal.


"Nggak punya duit ya?" ledek Aiden lagi lalu tertawa keras. Dia senang melihat saudaranya ini menderita.


"Banyak bacot lo!" kesal Sean, mencebikkan bibirnya dengan kesal.


Tidak berselang lama ada ketukan pintu dari luar ruangan.


"Masuk!" seru Aiden.


Dan masuklah orang tersebut yang tak lain adalah Irene.


Mata Irene membulat sempurna saat melihat Sean ada disana.


Mau apa tukang celup ada disini? Batin Irene.


Sean juga manatap Irene yang melangkah masuk kearah meja Aiden. Tatapan mata mereka bertemu namun dengan cepat Irene mengalihkan pandangannya.


"Permisi, Pak. Saya ingin menginformasikan jika model yang akan menjadi BA untuk Warjah Grub ingin bertemu malam ini dengan anda," ucap Irene, membuat Aiden mengerutkan keningnya begitu pula dengan Sean.


"Sebutkan alasan model tersebut meminta bertemu di luar jam kerja?" tanya Aiden, merasa aneh dengan permintaan model tersebut.


"Kata beliau jadwalnya sangat padat, jadi bisa bertemu dengan anda malam hari untuk membicarakan kontrak kerja" jelas Irene, sembari meremat kedua tangannya yang terasa dingin saat melihat tatapan tajam bosnya.


Aiden menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu menatap Sean. "Bagaimana menurutmu, Se?" Aiden meminta pendapat kepada Sean.


"Rosalinda," jawab Irene.


"Cancel!" ucap Sean kepada Irene.


"Tapi ... ." Ucapan Irene terhenti saat melihat Aiden menganggukkan kepala. "Baiklah," lanjut Irene tidak bisa membantah lagi, lalu pamit undur diri.


*


*


*


"Dia salah satu partner ranjang kamu?" tanya Aiden kepada Sean sedang menyesap rokoknya.


Sean mengangguk sebagai jawaban. "Tapi dulu saat negara api belum menyerang," jawab Sean absurd, membuat Aiden tergelak keras.


"Dasar bajingan!" umpat Aiden, seraya menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan. Sebentar produk baru akan akan launching tapi WG belum mendapatkan Model BA yang cocok. Ini semua karena kamu, Se!" Aiden melemparkan sebuah Map kearah Sean yang terlihat santai, menyenderkan punggungnya di kursi sembari menghembuskan asap rokok dari hidungnya.


"Itu urusan lo! Gue lagi menikmati alur hidup gue yang sekarang. Tanpa beban memikirkan persentase dan juga naik turunnya saham," jawab Sean dengan enteng, membuat Aiden menghela nafasnya dengan kasar.


"Hidup menjadi rakyat biasa ternyata sangat enak tanpa banyak aturan yang harus dipatuhi. Hidup gue menjadi teratur dan kembali kejalan yang lurus," lanjut Sean.


"Kamu curhat?" Aiden menanggapi perkataan Sean, membuat pria itu berdecak dengan kesal.


"Menurut lo?!!!" tanya Sean geram.


Aiden mendengus lalu terkekeh. Dia ikut senang jika Sean kembali ke jalan yang benar.


"Kalau lo mau cari model untuk WG lebih baik cari yang natural dan juga masih seger," saran Sean.


"Dimana carinya? Di kota metropolitan seperti ini mana ada wanita seperti itu?" tanya Aiden.


"Minta tolong saja sama Malin, baliau 'kan banyak kenalan cewek cakep-cakep," ucap Sean lagi.


Aiden terdiam sepertinya memikirkan saran yang diberikan oleh Sean.


"Kebanyakan mikir lo!" Sean beranjak dari duduknya dan bersiap untuk keluar dari ruangan tersebut karena sudah waktunya jam pulang kerja.


"Hei! Mau kemana?" seru Aiden baru tersadar jika Sean sudah keluar dari ruangannya.


Aiden mendesah kesal, ia pun segera membereskan pekerjaannya dan bersiap untuk pulang kerumah.


*


*


"Naik!!" ucap Sean kepada Irene yang sedang berdiri di halte bus.


Irene menoleh ke kiri dan ke kanan berharap tidak ada yang melihatnya bersama Sean.


"Oh! Ternyata kamu ke WG mau jemput aku, ya?" tanya Irene dengan nada meledek.


"Dih, Ge-er ... Gue kesini memang ada urusan dengan Aiden." Sean beralasan, padahal dirinya mencemaskan keadaan Irene, takut jika Irene diculik oleh Ayah tirinya.


"Masa???" tanya Irene mengejek Sean.


"Ck! Lo mau naik atau gue naikin!!" kesal Sean, karena sejak tadi Irene tidak kunjung naik ketas motornya.


Irene melotot sempurna saat mendengar ucapan terakhir Sean.


Dan Sean pun baru tersadar dengan ucapannya. "Maksudnya gue naikin lo diatas motor!" ralat Sean, lalu berdehem pelan salah tingkah.


Sean, gumusshhhhh🤣🤣🤣