
Jika di kamar pengantin telah terjadi pertempuran yang dahsyat, membolak-balikkan kasur sampai lepek. Berbeda dengan Ansel yang saat ini sedang berada di salah satu kamar hotel bersama Arjuna sambil berbincang ringan.
"Jadi, Waitress itu siapa?" tanya Ansel, sembari menatap Arjuna yang sedang menyesap rokok.
"Yang mana?"Arjuna menoleh, menatap Ansel heran.
"Yang tadi di Restoran."
"Oh! Itu namanya Meli. Baru bekerja disini dua minggu," jawab Arjuna seraya terkekeh pelan, lalu menyesap rokoknya lagi dan menghembuskan asap rokok tersebut melalui mulut. "Kamu tertarik sama dia?"
"Nggak, cuma heran saja. Kenapa tuh cewek kelihatan cuek banget sama aku." Ansel masih teringat sikap ketus dan cuek gadis tersebut.
"Heran apa heran? Banyak loh yang suka sama dia. Buruan deh, kalau suka di ungkapin. Aku jamin seratus persen, Meli adalah gadis yang baik."
"Hih! Kenal saja tidak!" jawab Ansel.
"Makanya kenalan sama dia. Yang aku dengar lagi, usianya lebih tua dari kamu loh," ucap Arjuna, seraya meletakkan rokonya yang masih tersisa separuh diatas asbak.
"Bukan kamu tapi kita, Bang."
"Oh, iya ... ya. Usia ku juga lebih muda dari kamu tapi heran deh sama kalian yang suka memanggilku Abang," tanya Arjuna, menyesap kopi hitamnya.
"Salahkan adik kamu tuh! Waktu kecil 'kan dia suka memaksa kami untuk memanggil kamu dengan sebutan Abang, jika tidak di turuti pasti akan menangis. Dan akhirnya panggilan itu terbiasa sampai sekarang!" gerutu Ansel. Gemas dengan sikap Gwen waktu kecil.
"Ya, aku mengingatnya. Ah, Gwen sudah besar sekarang dan sebentar lagi akan menjadi Nona muda Clark," ucap Arjuna, tatapan matanya menerawang ke beberapa tahun yang lalu, saat dirinya masih menggendong Gwen kecil.
"Heum, aku tidak menyangka jika adikmu yang bar-bar itu bisa mencairkan batu es yang sangat menyebalkan itu!" ucap Ansel sembari mengelengkan kepalanya berulang kali.
"Itulah yang namanya takdir cinta, semua tidak bisa ditebak. Begitu pula dengan nasib bercintaan kamu, siapa tahu nanti berjodoh dengan Meli." jawab Arjuna, lalu tergelak keras.
Ansel mendengus kesal seraya menatap jengah pria yang duduk di sampingnya itu. "Lebih baik, aku ke kamarku saja." Beranjak dari duduknya dan segera keluar dari kamar tersebut, menuju kamarnya.
*
*
*
Disisi lain Gwen dan Aiden saat ini juga sedang berada di dalam kamar yang sama. Pasangan yang sedang di mabuk cinta itu, saat ini sedang tidur berpelukan diatas tempat tidur.
"Mama sama Papi kamu tidak mencari kamu, kan?" tanya Aiden sembari mengusap lengan Gwen dengan lembut.
"Tidak. Mereka sedang menikmati waktu berdua. Aku juga di berikan kamar sendiri, jadi aman," jawab Gwen, mendongak lalu mengecup bibir Aiden sekilas.
"Aku tidak memancing kamu, tapi menggoda kamu. Bagaimana dong?" tanya Gwen, bibirnya mengerucut dan salah satu tangannya mengusap dada bidang Aiden yang polos dengan gerakan pelan.
Aiden menggeram kesal karena gerakan tangan Gwen berhasil membangunkan adik kecilnya yang bobok ganteng didalam boxernya itu.
"Gwen!"
"Apa sayang?" tanya Gwen sambil mengerling nakal.
"Jangan salahkan aku jika nanti aku melewati batasku," ucap Aiden, sembari memejamkan matanya, saat merasakan adik kecilnya sudah memberontak ingin segera di tuntaskan.
"Itu tidak akan terjadi," jawab Gwen. Segera beranjak turun dari atas tubuh kekasihnya itu, namun gerakannya terlambat. Aiden menariknya dan segera menghimpit tubuhnya.
"Aiden!" Gwen mendorong dada bidang Aiden saat melihat aura pria itu menggelap.
Aiden tidak mendengarkan penolakan Gwen, kemudian pria itu mulai meraup bibir ranum yang sudah membuatnya candu itu dengan sangat rakus.
"Ah." Suara desahaan lolos dari bibir Gwen ketika Aiden meremat bukit kembarnya bergantian. Aiden menaikan kaos yang di kenakan Gwen beserta busa penutup. Terlihatlah bukit kembar yang sangat memantang dengan pucuk dada yang berwaran pink. Membuat gairah Aiden semakin memuncak.
"Ahh ... Ughh." Gwen membusungkan dadanya dan mendesaah tidak karuan ketika Aiden menyesap pucuk dadanya bergantian dan sangat rakus.
"Aiden hentikan!"
"NO!
"Please! Ah .. Aiden ini sangat nikmat." Suara laknat itu keluar dari bibir mungilnya. Gwen merutuki dirinya sendiri didalam hatinya, karena tubuhnya merespon sentuhan Aiden dengan sangat baik.
Tangan Aiden turun kebawah, mengusap perut rata Gwen, dan semakin turun lagi, meyelinap masuk kedalam celana hotpants itu dan mencari sesuatu di dalam sana.
Gwen menggigit bibir bawahnya, melenguh dan mendesaah tidak karuan saat jari Aiden bermain di bagian intinya.
Aiden mendesis dan tidak kuasa lagi menahan hasratnya. Lalu ia segera melepaskan hotpants itu dari kaki mulus Gwen. Juga melepaskan Boxernya dan meleparkan kesembarang arah.
"Aiden!! Sakit!"
Bersambung ....😆
Akan kah gawang Gwen di jebol oleh Aiden?
Kasih sawerannya yukkk 💃💃💃