
WARNING!
Aku abis makan seblak level 5, jadi nulisnya pun mengandung seblak yang hot-nya nampol.π₯π₯π₯π€£
Ansel menggandeng tangan istrinya dengan mesra ketika ia memasuki perusahaannya. Banyak pasang mata yang iri kepada Melisa kareana berhasil mendapatkan hati Si Bungsu dari 4 kembar bersaudara.
Ansel merangkum pinggang Melisa sangat posesif, ketika sudah memasuki lift. Melanjutkan aktifitasnya yang terpotong saat di dalam mobil tadi.
"Emh. Nafas Melisa sampai tersendat ketika Ansel menciumnya dengan ganas. Ia mendorong dada bidang Ansel ketika lift sudah terbuka.
Nafas mereka tersengal, hawa nafssu sudah menguasai keduanya. Ansel dan Melisa saling memandang penuh gairah, sebelum keluar dari dalam lift.
"Apakah hari ada jadwal meeting?" tanya Ansel kepada sekretarisnya, sambil mengendurkan dasinya yang terasa mencekik lehernya.
"Tidak ada, Pak. Hanya saja nanti----" Belum selesai berbicara, Ansel sudah pergi dari hadapannya sambil menarik Melisa masuk ke dalam ruangannya.
"Oh, Iya. Jangan menggangguku selama 2 jam ke depan dan jika ada yang mencariku, katakan saja kalau aku tidak ada di tempat," ucap Ansel, membuka pintu ruangannya sedikit, dan berpesan kepada sekretarisnya dengan satu kali tarikan nafas.
"Baik, Pak."
Brak
Ansel menutup pintunya sedikit keras, lalu mengunci pintu ruangannya dari dalam.
"Apakah sudah tidak ada hotel lagi?" gumam sekretarisnya tersebut, sembari mengurut dadanya lantaran terkejut. Tentu ia tahu apa yang sedang di lakukan Bos-nya di dalam sana. Apa lagi jika bukan membajak sawah untuk menggemburkan tanah sebelum di tanami benih. π
"Ansel mana?" tanya Nathan sembari membawa berkas di tangannya. Sekretaris tersebiut menjadi sangat gugup ketika mendapatkan pertanyaan dari Nathan.
"Itu Pak, anu ..."
"Itu anu apa?" tanya Nathan dengan kesal.
Sekretarisnya menyatukan kedua tangannya, memberi kode kepada Nathan.
Nathan pun mengerti, lalu mengumpat kesal. "Beritahukan dia jika sudah selesai, suruh ke ruanganku!" titah Nathan dengan tegas.
"Baik, Pak."
Nathan segera berlalu, dan masih terus mengumpati Ansel juga Melisa yang tidak tahu tempat. Padahal dirinya sendiri juga sering bercinta di kantor dengan istrinya.
*
*
*
Ansel mengungkung tubuh istrinya di atas sofa, dan memasukkan senjatanya dengan perlahan dan penuh kelembutan, karena ia tidak ingin menyakiti calon baby-nya.
"Eughh." Melisa menggeliat dan melenguh ketika senjata milik suaminya yang besar dan panjang itu tertancap sempurna dengan sekali hentakkan.
Terasa penuh dan berkedut di dalam sana, yang di rasakan oleh Melisa.
"Enak?" tanya Ansel tersenyum menggoda, lalu menundukkan kepalanya, menyesap pucuk gunung kembar bergantian, dan perlahan ia menggerakan pinggulnya maju mundur, naik turun dengan gerakan pelan.
"Ahh, lebih cepat Ans. Enak bangett. Ahhh." Melisa mendesaah tidak karuan, sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Ansel, di tekannya leher suaminya lalu menyesap dan melumaat bibir suaminya itu dengan sangat rakus.
Ia melepaskan pagutannya, lalu menjulurkan lidahnya agar Ansel menyesapnya, dan dengan senang hati Ansel melakukannya, membelit dan menyesap lidah istrinya, dengan bagian bawah sana terus memompa dengan gerakan yang lebih cepat.
"Ahh, Mel." Ansel mengerang, merasakan jepitan nikmat dari inti istrinya.
Melisa mendorong dada bidang Ansel dengan kuat hingga penyatuan itu terlepas. Ansel menggeram kesal di buatnya, namun hanya sesaat saja, saat melihat Melisa merubah posisinya menjadi nungging di depannya sambil menggerakan bokong sintalnya, meminta Ansel agar segera memasukan senjatanya lagi di dalam sarang kenikmatannya.
Ansel tersenyum, menggosok area sensitif istrinya dengan telapak tangannya, baru lah ia memasukan senjatanya lagi dari belakang dengan sekali hantakkan. Posisi seperti ini adalah posisi yang di sukai oleh istrinya.
Ansel memompa dengan kecepatan sedang. Ansel mendokkan kepalanya seraya meremat bok*ong sintal milik istrinya dengan gemas, lalu ia menciumi punggung mulus Melisa dengan penuh gairah. Ia terus memompa lebih cepat lagi saat akan mencapai pelepasan.
"Ah .... Mel ...." Ansel mengerang panjang lalu mencabut penyatuannya, dan menyemburkan santan kentalnya diatas punggung Melisa yang polos dan di penuhi keringat itu.
Nafas keduanya terengah dan peluh membanjiri tubuh mereka yang polos. Ansel mengambil tisu basah untuk mengelap punggung Melisa yang basah karena cairanya.
Dengan kaki yang bergetar, Melisa membalikkan tubuhnya menjadi terlentang. "Ans ..."
"Heum?" Ansel berdehem sembari mengusap senjatanya yang masih berdiri tegak. "Apa Mel?" tanya Ansel seraya menatap Melisa yang masih terlentang dengan kedua kaki yang terbuka lebar, pemandangan yang sangat indah, tubuh molek, putih, mulus Melisa terpampang di depan matanya, di tambah hutan kecil yang di tumbuhi rumput hitam dan gunung kembar yang terlihat besar dan bulat menambah kesempurnaan Melisa.
"Aku mau lagi," rengek Melisa manja, sambil meremat kedua gunungnya sendiri, menggoda Ansel.
"Waduh." gumam Ansel, sambil menatap kedua lututnya yang terlihat bergetar. Bagaimana tidak? Jika dari tadi malam sampai siang itu mereka sudah bercinta sebanyak 4 kali.
Ansel benar-benar harus meningkatkan staminanya, untuk memenuhi keinginan ibu hamil itu tidak pernah ada puasnya. Ya, Melisa tidak mengidam atau mual, hanya saja gairahnya meningkat 2 kali lipat, membuat Ansel kualahan, tapi juga menyukainya.
Semangat Anselπ₯π₯π₯π€£
Kasih Like, vote dan komentar. β€