My Hot ART

My Hot ART
Hayo!! Ketahuan kalian ya!



"Se," lirih Irene, lalu mengurai pelukannya dan mendongak menatap Sean dengan dalam.


Sean mengangguk dengan pelan, seraya tersenyum tipis, lalu mengusap salah satu pipi Irene dengan lembut.


"Seperti yang lo dengar, kalau gue suka sama lo." Sean mengumpulkan semua keberaniannya untuk menyatakan perasaannya.


Irene terpaku namun hanya sesaat, kemudian ia cemberut kesal. "Oh, cuma suka doang? Setiap orang juga punya hak rasa suka sama aku, lagi pula kamu 'kan sudah punya pacar, tuh si model BA," ucap Irene memanyunkan bibirnya.


Irene tidak ingin berbangga hati terlebih dahulu, ia takut jika Sean hanya mempermainkannya. Ya, walau didalam hatinya juga bahagia karena mendengar pengakuan Sean.


"Lo masih ragu sama gue?" tanya Sean, dan Irene mengangguk mantap.


"Ya, ampun, Ren! Apa gue perlu buktiin rasa suka gue sama lo? Dan untuk model BA itu adek sepupu gue! Namanya Gwen." Jawaban Sean membuat Irene terkesiap antara malu dan juga tidak enak hati karena sudah berprasangka buruk kepada pria tersebut. Namun ia berusaha untuk bersikap biasa.


Ternyata adek sepupu. Batin Irene, tersenyum didalam hati.


"Oh, biasanya kalau di Drakor yang sering aku lihat, seorang pria menyatakan perasaannya itu dengan kata-kata romantis dan di tempat yang romantis juga," sindir Irene, membuat Sean berdecak kesal.


"Lo mah kebangetan! Tahu sendiri 'kan kalau gue nggak pernah bisa berkata romantis. Menurut gue, romantis itu hal yang sangat berlebihan kalau kata anak jaman sekarang itu Alay! Dan gue lebih suka membuktikan rasa suka gue ketindakan," jawab Sean, lalu menarik pinggang Irene hingga tubuh keduanya saling menempel.


"Jangan macam-macam, Se!" Irene membekap bibir Sean yang menciumnya.


"Ini bukan membutikan namanya, tapi nafssu doang sama aku!" balas Irene mengerucutkan bibirnya sebal.


"Terus gimana dong?" tanya Sean, melonggarkan pelukannya dan menegakkan punggungnya karena sebelumnya ia sedikit menundukkan badannya untuk mensejajarkan tingginya dengan Irene.


"Kamu serius sama aku nggak? Maksudnya serius menjalani hubungan ini?" tanya Irene, mendongak menatap Sean dengan intens.


"Tentu saja serius. Gue sudah bilang kalau cuma lo saja yang mampu membuat dunia gue jungkir balik, Irene pendek," jawab Sean, sambil mencubit hidung mungil Irene dengan gemas. Sedangkan Irene semakin mengerucutkan bibirnya dengan tajam, seraya memukul lengan kekar Sean.


"What?! Are you kidding me?!" pekik Sean terkejut.


"Apa? Nggak mau ya sudah!" jawab Irene, cuek lalu mendorong Sean agar menjauh darinya.


"Irene! Kita sudah dewasa dan nggak mungkin kita pacaran kayak anak SMP?" Sean menggeleng pelan, mana bisa dia menahan diri untuk tidak mencium Irene.


"Terserah, apa pun tanggapanmu. Aku hanya ingin kita menjalani hubungan secara sehat! No kissing, no Se•x sebelum menikah, harusnya kamu mikir dong sampai kesana. Ini juga demi kebaikan kita bersama, agar tidak berbuat dosa," jelas Irene.


"Kalau tidak mau ya sudah. Mas Dodi kayaknya pria yang baik juga, mapan dan ganteng," lanjut Irene, sambil melirik Sean dengan ekor matanya.


"Enak saja! Nggak boleh! Lo itu udah ditakdirkan buat gue!" jawab Sean sewot, membuat Irene terkekeh geli.


"Jadi?" Irene menggantung pertanyaannya sambil menatap wajah Sean yang terlihat kesal.


"Iya! gue setuju! Tapi kalau peluk bolehkan?" jawab Sean, sekaligus bertanya kepada Irene dan memasang muka melas.


"Boleh," jawab Irene tersenyun malu, sedangkan Sean langsung mengepalkan tinju diudara dan ingin menghambur memeluk Irene, namun gerakannya tertahan saat mendengar suara pintu ruangan tersebut terbuka dari luar.


"Hayo!! Ketahuan kalian ya!"


🤣🤣🤣🤣


Jauh dari ekspetasi kalian, kan? 🤣


Aku gemes banget pasangan ini, nggak ada romantis-romantisnya, apalagi Sean mulutnya asal cablak kayak petasan, keturunan Malin banget🤣