
Malam hari di kediaman keluarga Clark, tepatnya di ruang keluarga dimana biasanya seluruh keluarga inti berkumpul sambil bercanda dan tertawa kini lenyap tergantikan dengan ketegangan dan aura menakutkan dari pria yang sudah tidak muda lagi itu.
Jeje menghembuskan nafsanya berulang kali, menatap tidak tenang kearah suaminya.
Oma Airin memijit pelipisnya sambil menggelengkan kepalanya berulangkali. Sedangkan yang lainnya diam menundukkan pendangannya menatap lantai dengan gelisah.
"Jangan ada yang ikut campur dengan masalah ini!" Xander berucap dengan nada yang pelan namun cukup mengerikan bagi yang mendengarnya, mata tajamnya menatap satu persatu orang yang ada disana dan berhenti saat menatap Istrinya yang terlihat tidak tenang. "Kamu juga, Je!"
Deg
Jantung Jeje berdetak dengan cepat saat suaminya menyebut namanya, bertanda jika saat ini Xander benar-benar murka.
"Dad, aku ..."
"Siapa yang mengijinkanmu bicara!" Xander menatap tajam Jeje. "Berapa lama kamu menyembunyikan kebejatan putramu?"
Air mata Jeje luruh seketika, dirinya memang salah karena selama ini menyembunyikan kenakalan Sean. Tapi, ia tidak menyangka jika kenakalan Sean sudah di tahap yang sudah fatal.
Nathan yang tadinya memeluk istrinya, kini beralih tempat duduk disamping ibunya lalu memeluknya , memberikan ketenangan.
Sean tertunduk menyesali perbuatannya. Ia bersimpuh dibawah kaki ibunya dan meminta maaf dengan segala penyesalannya.
"Mommy tidak menyangka jika kamu seperti ini" lirih Jeje, menepis tangan Sean yang akan menyentuh tangannya. Kemudian ia beranjak dari sana menuju kamarnya. Hatinya benar-benar kecewa, tapi disisi lain dirinya juga salah karena menyembunyikan kesalahan putranya.
Xander menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Terima hukumanmu! Mulai hari ini juga kamu keluar dari rumah ini dan tinggal di paviliun belakang sana!" Setelah mengatakan itu, ia beranjak menyusul istrinya yang sudah berada didalam kamar.
Sean tergugu, hatinya pilu. Tapi dia juga harus menerima segala hukuman yang diberikan ayahnya. Mulai dari kehilangan pekerjaan, fasilitas hidup mewahnya dan sekarang dia harus keluar dari rumah besar ini, dan tinggal di paviliun belakang rumah yang sudah lama tidak ditinggali itu.
"Maaf, aku tidak bisa membantumu." Nathan bersuara lalu beranjak dan meraih tangan Kirana, menuju kamar mereka.
Aiden menatap Kirana dan Nathan dengan hati yang tersayat. Apalagi Nathan merangkul pinggang Kirana begitu posesifnya.
Dia meraba dadanya yang lagi-lagi merasa sesak.
Hai hati? Apa kamu tahu jika saat ini aku sangat tersiska dan terluka karena melihatnya? Aku mohon lepaskan dia dan lupakan dia. Batin Aiden.
Aiden pun segera beranjak dari duduknya, menuju kamarnya. Sedangkan Ansel dan Oma Airin masih berada di ruang keluarga menatap Sean yang terlihat menyedihkan.
"Apa kamu sudah puas membuat kekacauan ini?" tanya Oma Airin dengan sisnis.
"Tapi setidaknya kamu sudah mendapat hukuman yang setimpal. Oma harap kamu bisa merenungi kesalahan dan juga memperbaiki dirimu," lanjut Oma Airin, setelah itu ia beranjak dari sana.
Ansel pun ikut beranjak dari sana, meninggalkan Sean yang masih bersimpuh diatas lantai dengan wajah yang tertunduk.
Sean menegakkan punggungnya dan beranjak dari atas lantai. Pak Win datang menghampiri sembari membawa koper yang berukuran besar dan berisi pakaian Sean.
"Tuan Sean, Tuan Besar memerintahkan saya untuk mengantarkan anda kepaviliun belakang," ucap Pak Win sembari menundukkan kepalanya bertanda memberi hormat.
"Iya," jawab Sean dengan lesu.
Tenggorokan aku ikut tercekat, pas nulis part ini sedih banget😭
Kembang sama kopi mana nih? Biar emak makin semangat