My Hot ART

My Hot ART
Biro jodoh



Vote ya Vote! Hari senin kasih saweran juga karena hari ini Emak mau Crazy Crazy Crazy up!


Awas saja nggak di kasih Vote, tak slepet kalian satu-satu.🤣


Siang hari itu Keluarga Clark akan kembali ke Jakarta. Saat ini mereka semua duduk di ruang tamu untuk berpamitan.


Bapak dan Ibu merasa sedih karena Kirana akan di bawa oleh suaminya, tidak hentinya Ibu menangis dan memeluk putri tunggalnya itu.


"Kami akan menjaganya, Bu, jangan khawatir. Kalau tidak, kenapa Ibu dan Bapak tidak ikut saja ke Jakarta?" ucap Nathan, kepada ibu mertuanya.


Ibu melepaskan pelukannya, seraya menghapus air matanya. "Tidak, Le. Ibu sama Bapak di kampung saja. Nanti ladang sama sawah tidak ada yang mengurus," jawab Ibu tersenyum.


Karena ladang dan sawah itu adalah mata pencaharian mereka. Mereka yakin jika mereka ikut ke kota kehidupan mereka akan terjamin, tapi Bapak dan Ibu tidak ingin aji mumpung. Mereka lebih senang hidup diatas kaki mereka sendiri tanpa menyusahkan orang lain.


"Ibu dan Bapak titip Kirana, Ya. Kalau nakal mohon ditegur ya, Pak Der," ucap Bapak kepada Nathan dan Xander.


Semua orang disana menahan tawa saat mendengar bapak memanggil besannya dengan sebutan 'Pak Der'.


"Xander, Pak Kumis! X A N D E R!" jelas Xander, mengeja namanya dengan perasaan kesal.


"Ya ikulah pokokke, ilatku suka keseleo Pak Der kalau nyebut nama sampean," jawab Bapak, malah semakin membuat Xander menggeram kesal.


"Sudahlah, Dad." Jeje menegur suaminya, seraya mengusap lengannya dengan lembut. dan Xander menanggapinya berdecak kesal.


"Kami ucapakan terima kasih sebanyak-banyaknya Pak Der dan Bu Jeje. Karena kalian sudah merayakan pernikahan Kirana dan Nathan dengan sangat megah dan juga sudah membayarkan hutang kami, sekali lagi kami ucapakan terima kasih. Dan mohon maaf juga jika kalian selama disini kurang nyaman, karena rumahnya jelek," ucap Bapak sangat tulus dan juga merasa tidak enak hati.


"Kami yang seharusnya terima kasih. Karena Pak kumis dan Ibu sudah memberikan sebongkah berlian kepada kami," jawab Jeje matanya manatap lembut Kirana.


Kirana yang di tatap seperti itu menjadi tersipu malu.


"Dan jangan merasa tidak enak hati, Pak. Kami semua merasa nyaman berada disini, bukan begitu?" Jeje menatap satu persatu putranya meminta persetujuan.


"Iya, kami sangat nyaman dan betah berada disini, Pak." Nathan menjadi juru bicara mewakili ke tiga saudara kembarnya.


"Permisi, selamat siang semuanya," sapa seorang gadis berdiri di ambang pintu.


Semua orang ada diruang tamu itu mengalihkan padangannya ke arah pintu, mereka melihat gadis cantik berambut panjang memakai dress putih, terlihat sangat cantik dan anggun.


"Ayu Wandira sini masuk!" seru Kirana senang karena temannya datang kerumah.


"Oh, namanya Ayu," gumam Ansel sembari menganggukkan kepalanya berulang kali, merasa tertarik dengan gadis tersebut.


"Waduh jadi ndak enak ini." Tersenyum canggung lalu melangkah masuk dan duduk bersila di samping Oma Airin.


Ayu mengendarkan pandangannya menatap satu persatu wajah para Sultan yang ada di hadapannya. Matanya membola saat melihat dua pria yang memilik wajah yang sama.


"Mereka kembar," ucap Oma Airin, mengerti dengan keterkejutan Ayu.


"Oh, pantas saja."


"Apa kamu sudah punya pacar? Kalau sudah putuskan saja, dan pilih salah satu dari cucuku, kecuali dia sudah sold out," ucap Oma Airin sambil menunjuk Nathan yang duduk di samping Kirana.


"Jangan mulai deh!" tegur Xander, tidak habis pikir dengan ibunya yang menjadi biro jodoh untuk anak-anaknya.


"Tidak apa-apa, Mr. Kebetulan saya belum punya pacar, kalau di suruh memilih saya milih yang itu," jawab Ayu malu-malu sambil menunjuk Aiden.


Aiden mendongak dan menatap datar Ayu. "Tapi aku tidak suka wanita sepertimu!" jawab Aiden sangat datar dan dingin.


Jleb


Perkataan Aiden tepat mengenai sasaran.


Duh, ngilu banget ini hati. Batin Ayu.


"Ha ha ha, saya hanya bercanda, Mr." Ayu tertawa hambar untuk menutupi rasa sedihnya.