
Ibu berada di dalam kamar bersama Kirana, mereka berdua saling berbagi cerita.
"Kamu kok tambah ayu tenan, Nduk. Ibu sampai pangling loh," ucap Ibu tersenyum senang, sambil memeluk putrinya menghilangka rasa rindu yang selama ini di pendam, karena selama hampir sebulan mereka hanya bertukar kabar lewat handphone jadul, atau kata orang jawa biasa di sebut HP jangkrik.😆
"Nggih, Bu. Majikan Kirana baik banget," selanjutnya, ia menceritakan pengalamannya bekerja di rumah keluarga Clark yang begitu baik kepadanya, termasuk menceritakan tentang Nathan.
"Oh! Jadi wong ganteng itu anak majikanmu toh?" tanya Ibu dengan logat khas jawa, Kirana mengangguk sebagai jawaban.
"Orang kaya banget berarti ya? Ibu jadi takut kalau nanti kamu tersakiti lagi, Nduk," ucap Ibu sendu.
"Jangan khawatit, Bu. Nathan orangnya baik, keluarganya pun begitu. Awalnya aku mengira jika orang kaya itu sama saja, jahat dan suka merendahkan orang miskin seperti kita, tapi keluarga Clark berbeda, Bu. Bahkan mereka menerima dan merestui hubungan Rana sama Nathan," jawab Kirana, meyakinkan ibunya.
Ibu manggut-manggut mendengarkan penjelasan putrinya, tapi dia tidak akan mudah percaya begitu saja.
Sejenak di dalam kamar tersebut terjadi keheningan, namun hanya sesaat. "Bu, Nathan boleh menginap di sini, ya?" tanya Kirana memohon.
Ibu menoleh, lalu menjawab. "Nanti di bicarakan sama, Bapak ya."
"Nggih, Bu."
"Ayo, keluar dari kamar. Ndak enak ada tamu tapi kita malah disini, sekalian kita masak buat makan malam." Ibu beranjak dari duduknya. Walau dalam hatinya masih belum menerima Nathan, tapi dia tetap menghargai pria itu sebagai tamu.
"Masak apa, Bu?" tanya Kirana, setelah berada di dapur bersama sang ibu.
"Masak sak onone wae (Masak seadanya saja)" jawab Ibu, sambil mengambil sayuran dari dalam kulkas, sayuran yang baru dia petik siang tadi dari ladang.
"Nggak enaklah, Bu. Dia biasa makan mewah, masa di sini harus di sajikan terong sama tempe gembus?" Kirana protes, bukan protes tepatnya dia merasa tidak enak dengan Nathan yang sudah sangat baik dengannya.
"Heleh! Justru kita ini harus apa adanya, Nduk," jawab Ibu ketus. Padahal dalam hati, terkikik geli karena dia ingin menguji calon menantunya.
"Nggih, Bu, Nggih," jawab Kirana, sambil memotong-motong terong ungu itu menjadi potongan kecil.
"Nanti kamu bikin sambel pete ya, terongnya di masak sayur lodeh saja, lauknya tempe gembus sama ikan asin. Ibu mau nemuin Bapakmu dulu," titah Ibu lalu keluar dari dapur, menuju ruang tamu dimana suami dan Nathan berada.
Nathan berdiri dari duduknya, ketika melihat ibu berjalan menuju ruang tamu. "Ibu." Nathan menyapa ibu sembari menundukkan sedikit kepalanya, bertanda jika dirinya memberi hormat kepada beliau.
"Sudah, duduk lagi, Le," ucap Ibu tersenyum senang melihat Nathan yang begitu sopan kepadanya.
"Iya, Bu," jawan Nathan, lalu duduk kembali ketempat semula.
"Gini loh, Pak. Boleh tidak kalau Nak Nathan ini menginap disini? Ini juga permintaan Kirana. Lagi pula di sini 'kan jauh dari kota dan jauh dari penginapan," ucap Ibu, kepada suaminya.
Nathan tersenyum saja, mendengar perkataan Ibu. Dan berharap jika calon ayah mertuanya mengijinkannya tinggal di rumah itu.
Bapak terlihat diam sejenak, sepertinya mempertimbangkan perkataan istrinya. "Boleh, tapi dengan satu syarat, jangan dekat-dekat dengan Kirana, selama disini. Awas kalau ketahuan mencari kesempatan, tak slepet modyar kowe!" ancam Bapak tidak main-main.
Nathan tersenyum sambil menggaruk hidungnya yang tidak gatal, karena dia tidak mengerti kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Bapak.
Tapi, dia juga senang karena di perbolehkan tinggal satu atap dengan Kirana.
Note:
Le/tole: panggilan untuk anak laki-laki.
Nduk/genduk: panggilan untuk anak perempuan.
Nggih: iya.
Kasih saweran poin, dunk😘😘 biar makin mangat nulisnya❤