My Hot ART

My Hot ART
S2. Derita para suami



Hai, jumpa lagi dengan Emak di My Hot ART, dan selamat membaca Season 2 My Hot ART, semoga suka❤


Suara tangisan bayi terdengar bersahutan pagi hari yang indah itu. Nathan yang masih asik di alam mimpi sambil memeluk tubuh istrinya pun sontak saja langsung terkejut dan bangun dari tempat tidur. Menghampiri Box Bayi, dimana 2 bayinya sudah terbangun lebih dahulu.


"Oke, kalian sudah bangun dan haus? Tapi, sayang sekali Mommy masih tidur karena kelelahan tadi malam kalian terus rewel," ucap Nathan, lalu menggendong bayi perempuannya ke dalam dekapannya.


Dua bayinya yang yang bernama Ricko dan Jojo itu kini sudah berusia 3 bulan, dua bayinya terlihat sangat menggemaskan dan semakin gembul, membuat siapa pun akan gemas melihatnya.


"Mas, mereka sudah bangun?" Kirana mendudukkan dirinya di atas tempat tidur, sembari menggelung rambut panjangnya, wajahnya terlihat lelah dan juga masih terlihat mengantuk.


"Iya, Sayang. Kamu tidur lagi saja, aku akan memberikannya kepada Nanny-nya," ucap Nathan sembari menatap istrinya, karena tadi malam kedua bayinya rewel dan tidak mau dengan Nanny-nya.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku bisa menanganinya," jawab Kirana berjalan menghampiri suaminya, tersenyum menatap Nathan yang terlihat khawatir.


Tidak mudah memang mengurus bayi yang masih kecil, apalagi mereka kembar. Sering kali Kirana kerepotan akan tetapi ada dua Nanny yang siap membantunya dan mempunyai suami yang siap siaga.


Kirana duduk di single sofa yang ada di sudut kamar itu, yang sengaja di sediakan untuknya, agar dirinya merasa nyaman saat menyusui dua bayinya.


"Oke, Kamu sudah lapar Jojo Sayang," ucap Kirana sembari membuka salah satu pepaya gantungnya, dan dengan cepat putrinya itu menyedot sumber makanannya itu dengan rakus.


Nathan kini beralih menggendong putranya. "Tunggu giliran ya, adikmu biar kenyang dulu," ucap Nathan, sembari menguyel-nguyel pipi gembul putranya dengan gemas.


Disisi lainnya. Aiden kini tengah merasa jengah dengan sikap istrinya yang semakin posesif kepadanya, semenjak ke hamilan istrinya itu semakin membesar.


"Kenapa memakai baju itu! Kamu terlihat tampan, apakah kamu sengaja berpenampilan menarik untuk menarik para lebah yang kegatelan di luar sana! Ganti!" ucap Gwen dengan tegas, tidak rela melihat suaminya yang terlihat tampan.


"Gwen, Please! Ini yang ke empat kalinya kamu menyuruhku mengganti baju!" ucap Aiden dengan perasaan yang dongkol, sembari memutar kedua bola matanya dengan malas.


"Aku tidak peduli, mau sepuluh kali atau ratusan kali!" jawab Gwen sembari menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu memalingkan wajahnya, memasang wajah cemberut sudah ingin menangis.


Aiden menghela nafasnya dengan kasar, pasrah dan mengikuti ke inginan istrinya. "Oke! Aku akan mengganti bajuku lagi, tapi jangan bersedih," ucap Aiden, sembari membelai wajah istrinya lalu melabuhkan ciuman mesra di bibir Gwen yang sudah menjadi candunya itu, menyesapnya dan melumaatnya dengan lembut, hingga ciuman itu terlepas saat Gwen merasa sudah hampir kehabisan nafas. Aiden mengusap bibir Gwen yang terlihat basah karena saliva-nya.


Gwen tersenyum tipis, menatap suaminya. "Biar aku yang memilihkan pakaian kerja untukmu," ucap Gwen, dan di angguki Aiden.


*


*


*


"Kamu mau ke kantor atau mau olah raga?" tanya Ansel sambil menggembungkan pipinya, menahan tawa.


Aiden menekuk wajahnya kesal, bagaimana tidak kesal jika dirinya di suruh memakai setelah pakaian training berwarna abu.


"Memang ada yang salah?" tanya Gwen, mengedarkan pandangannya, menatap satu persatu anggota keluarga yang ada di sana.


Sontak saja semua orang yang ada di sana langsung melipat bibirnya ke dalam karena Ibu hamil yang satu itu sangat sensitif sekali dan mudah tersinggung.


"Ah, tidak ada yang salah. Justru Aiden terlihat sangat tampan," ucap Jeje sembari tersenyum meringis menatap putranya yang menggeleng pelan, bertanda jangan memujinya, bisa mengambek lagi istrinya itu.


"Benarkah Aiden terlihat sangat tam—" ucap Gwen terhenti saat Aiden memotong pembicaraanya.


"Sudah siang, sepertinya aku harus berangkat," ucap Aiden, mengangkat pergelangan tangannya, menatap jam tangannya. Gwen yang melihatnya pun cemberut kesal.


"Iya, kami juga harus berangkat," ucap Ansel dan Nathan bersamaan, seraya ikut beranjak. Berpamitan kepada anak istrinya masing-masing.


*


*


*


"Apakah kalian merasa jika Gwen semakin posesif? Sikapnya itu membuat kepalaku terasa pening!" ungkap Aiden kepada dua saudaranya yang sudah berada di halaman rumah.


"Sabar, namanya juga ibu hamil," ucap Nathan, sembari menepuk pundak adiknya itu.


"Heum, kamu bersyukur karena Gwen hanya bersikap posesif, coba kalau kamu jadi aku, bisa putus lututmu karena istriku selalu minta jatah setiap malam," sela Ansel, sembari tersenyum simpul di iringi dengan gelengan kepala pelan.


Aiden dan Nathan menepuk pundak Ansel bersamaan, seraya berkata, "yang sabar ya," lalu tergelak keras, membuat Ansel cemberut kesal.


"Sean apa kabar ya?" tanya Nathan, kepada dua saudaranya.


Dukungannya ya, vote, like, komentar dan hadiahnya❤❤❤