
Malam harinya di rumah sederhana Irene dan Sean. Pasangan suami istri itu sedang menghitung pemasukan dan pengeluaran usaha bengkel dan juga mini merket mereka di ruang tamu.
"Di bengkel keuntungan bulan ini dua puluh juta, Ren," ucap Sean seraya menatap istrinya yang masih sibuk dengan kalkulator.
"Dan keuntungan mini market lima belas juta. Wow, keuntungan kita naik 10 persen," jawab Irene sembari bertepuk tangan kecil, raut wajahnya tampak sangat bahagia.
"Iya, semoga usaha kita semakin maju lagi dan berkembang, amin."
"Amin," jawab Irene, menengadahkan kedua tangannya kemudian mengusapkannya kepermukaan wajahnya.
"Berapa pun hasilnya asalkan kita selalu bersyukur, maka kita akan selalu merasa cukup, berkah, dan tidak kekurangan suatu apa pun," ucap Irene, dan Sean mengangguk setuju menanggapinya.
"Istri gue memang cerdas banget," ucap Sean seraya memencet hidung pesek istrinya dengan sangat gemas.
"Ih! Sean! Sakit!" sungut Irene setelah suaminya itu melepaskan capitan tangannya, kemudian ia membenarkan kaca mata yang melorot dari hidung mungilnya.
"Ha ha ha ha, lo bikin gemes sih," jawab Sean tergelak lalu mengacak rambut Irene dengan sangat gemas.
"Sean!!!" Irene berteriak sembari memukul tangan suaminya dengan perasan yang sangat kesal, bukannya merasa kesakitan, Sean malahan semakin tergelak keras.
Irene menghentikan aksinya lalu melipat kedua tangannya di dada sembari memalingkan wajahnya kesal.
Sean terkekeh geli saat melihat istrinya merajuk, persis seperti anak TK yang sedang marah karena tidak di belikan es krim oleh ibunya.
"Iya, maafin gue ... Pendek," ucap Sean, masih meledek istrinya di ujung kalimat, kemudian ia tertawa semakin keras, membuat Irene semakin kesal.
"Biar endek begini tapi mampu membuatmu tergila-gila dan bucin setengah mampus, kan?!" balas Irene dengan telak.
Sean tersenyum mesem mendengarnya, karena yang di ucapkan istrinya adalah kebenaran. Ia bucin akut dengan istri mungilnya itu.
"Ah, istri gue memang nggak ada duanya. Love you, Ren. Suami lo yang super duper tampan ini memang sudah sangat bucin banget sama lo," ucap Sean diiringi dengan senyuman narsis, lalu memeluk istrinya dari samping dengan sangat erat.
"Ish! Sudah mau jadi Bapak masih narsis aja sih, Se! Malu sama anak," jawab Irene tersenyum geli, seraya mengusap lengan kekar yang melingkar di perutnya dengan lembut.
"Biarin," jawab Sean cuek lalu mengecup pipi cubby istrinya dengan mesra. "Lo tambah bohai saja sih, enak banget di peluknya, bikin nagih tahu kayak boba kenyal-kenyal gimana gitu, he he he," lanjut Sean, sembari mendusel-ndusel wajahnya di bahu Irene.
"I'm sorry Irene, Sayang. Pokoknya lo adalah wanita ter-the best buat gue," puji Sean dengan penuh kejujuran.
"Tumben romantis? Ada maunya nih?" Irene melirik suaminya dengan menyelidik.
Sontak saja Sean langsung melepaskan pelukannya saat mendengar ucapannya itu. "Kok hidup gue serba salah ya? Mau lo apa sih? Di puji saja salah, apa lagi nggak di puji," ucap Sean dengan nada sewot, seraya menatap istrinya dengan sebal.
"Karena pada dasarnya seorang pria adalah tempatnya salah, sedang wanita selalu benar," jawab Irene seraya terbahak-bahak.
"Dasar pendek awas kamu ya!" Sean menyeringai, melakukan pembalasan dengan cara menggelitiki pinggang istrinya.
Irene tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata saat merasakan geli di pinggangnya. "Ha ha ha. Geli ... Ampun, Se ..."
"Rasakan, ha ha ha." Sean ikut tertawa terbahak dan masih menggelitiki pinggang istrinya itu, namun ia menghentikan aksinya saat Irene memekik kesakitan.
"Sean, Stop!! Perutku sakit!!" pekik Irene sembari meringis kesakitan.
"Ren, jangan bercanda lo." Sean menjadi sangat panik di buatnya, lalu mengelus perut istrinya dengan lembut.
"Serius Sean! Aduh ... Kayaknya aku mau melahirkan deh," ucap Irene di sela kesakitannya.
Wajah Sean menjadi sangat pias saat mendengar kata 'melahirkan.'
"Jangan sekarang dong, gue belum siap," ucap Sean yang mendadak menjadi bodoh, karena rasa panik dan kecemasan melanda dirinya.
"Sean!!! Aku mau melahirkan! Jangan melawak dulu!" teriak Irene dengan kesal, saat mendengar ucapan suaminya yang absurd itu.
***
Kalau panik otak rasanya langsung nge-lag ya, Se 🤣🤣🤣
Semoga persalinannya Irene lancar ya, amin.❤