My Hot ART

My Hot ART
Lusa, kami menikah



Melajukan motornya dengan kecepatan penuh, membuat Irene yang membonceng di belakang melingkarkan kedua tangannya dengan erat di perut Sean, sudah berulang kali ia menegur Sean, agar mengurangi kecepatan motornya, akan tetapi pria itu tidak mau mendengarkan-nya karena masih terbawa emosi.


"Sean! Apa kamu ingin membuatku mati muda? Apa kamu tidak ingin menikah denganku?!" ucap Irene sedikit berteriak.


Sean yang mendengar perkataan kekasihnya, langsung mengurangi kecepatan motornya, lalu menepikan motornya itu. Melepaskan helmnya, kemudian menoleh kebelakang.


"Kamu ingin membunuhku!"


"Maaf," ucap Sean, lalu merapikan rambut Irene yang berantakan.


Irene menghela nafasnya sejenak. "Aku mengerti jika kamu sedang bersedih, dan bercampur emosi, akan tetapi kamu juga harus mengutamakan keselamatan saat berkendara, bukan seperti ini, Se," ucap Irene, mengangkup tangan Sean yang masih merapikan rambutnya, lalu mengecupnya sesaat, sebelum melepaskannya.


"Iya, 'kan sudah bilang minta maaf," ucap Sean lagi.


"Jangan di ulangi lagi. Sekarang kita harus ke rumah Ayah, dan setelah itu menemui kedua orang tuamu," ucap Irene.


"Kenapa harus bertemu dengan orang tua gue?" tanya Sean.


"Meminta restu, Se. Kita 'kan mau menikah," jawab Irene.


"Tapi--"


"Kalau tidak mau ya sudah, kita tidak jadi menikah," potong Irene, lalu ingin turun dari motor, namun segera di cegah oleh Sean.


"Jangan begitu dong. Oke, nanti setelah pulang dari rumah Ayah lo, kita pergi menemui Daddy dan Mommy," ucap Sean, sembari menahan paha Irene.


Benar yang dikatakan Irene, jika ia harus meminta restu kepada orang tuanya. Walaupun masih ada rasa kecewa didalam hatinya. Bagaimana tidak kecewa? Dirinya memang bersalah, dan sudah menjalani masa hukumannya sudah hampir dua bulan, akan tetapi kedua orang tuanya tidak ada yang menjenguknya atau menanyakan keadaannya sama sekali. Jadi, tidak salah bukan? Jika dirinya merasa terbuang?!


Irene tersenyum, sembari menepis tangan Sean yang berada diatas pahanya. "Iya, tapi jangan ambil kesempatan!" kesal Irene.


Sean tersenyum saja menanggapinya, kemudian melanjukan motornya lagi menuju rumah Ayah Irene.


*


*


*


Sean memarkirkan motornya tepat, didepan rumah minimalis bercat hijau, didepan rumah tersebut terlihat tidak terawat, seperti sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya.


Irene mengernyit heran ketika melihat keadaan sekitar rumahnya. "Kok, kayak rumah hantu ya?" gumam Irene.


"Lo yakin, ini rumah Ayah?" tanya Sean.


"Yakin banget lah, aku belum lupa ingatan, Se," jawan Irene.


"Kali aja, udah sebulan kabur dari rumah, otak lo oleng!" jawab Sean, nyeleneh langsung mendapat hadiah pukulan dari Irene.


"Please deh, ini bukan waktu tepat untuk bercanda," kesal Irene, melangkahkan kakinya menuju pintu rumah yang tertutup itu.


Irene mengetuk pintu berungkali, namun tidak kunjung ada jawaban, dan ia mencoba memutar handle pintu tersebut dan ternyata tidak terkunci.


"Sean!" Irene memanggil kekasihnya, sembari mengayunkan salah satu tangannya.


Sean yang sedang bersandar di badan motor sembari menghisap asap rokoknya pun menoleh dan segera menghampiri Irene.


"Pintunya tidak terkunci, tapi sepertinya Ayah tidak ada di rumah," ucap Irene kepada Sean yang sudah berdiri didekatnya.


Sean menatap kedalam rumah tersebut, tampak gelap dan tidak terawat. Bahkan isi rumah tersebut tampak berantakan.


Tidak berselang lama ada seorang pria paruh baya menghampiri keduanya, dan mengatakan jika Ayah Irene kabur dari rumah, karena menajdi buronan Polisi.


"Astaga!" Irene tidak kuasa menahan air matanya ketika mendengar kenyataan dari pria paruh baya tersebut, yang tidak lain adalah Pak RT.


"Bapak juga tidak tahu kemana perginya. Ayah kamu terjerat kasus prostitusi, menjual anak gadis di bawah umur ke pria hidung belang," jelasnya.


Irene bertambah terkejut, mendengar semua itu. Dan tidak menyangka jika Ayah tirinya bisa berbuat seperti itu. Begitu pula dengan Sean juga sama terkejutnya, namun ia mencoba bersikap biasa saja, karena tidak ingin Irene merasa minder.


Sean merangkul pundak Irene, berusaha untuk menenangkan Irene yang menangis sesegukan.


"Jangan bersedih, Nak Irene. Ayah tiri kamu adalah orang yang kejam, dan dia pantas mendapatkan semua ini. Beruntung kamu bisa kabur dari Ayah tirimu, jika tidak kamu akan mengalami nasib yang sama dengan para anak gadis yang dijual Ayah kamu," ucap Pak RT, ketika melihat Irene menangis dan pandangan matanya beralih menatap Sean yang sedang merangkul Irene.


"Ini calon suamimu, Ren?" tanya Pak RT.


Sean tersenyum bangga, kemudian mengulurkan tangan kanannya, memperkenalkan diri dan sambut Pak RT. "Saya Sean, Pak, calon suami Irene, dan kedatangan kami ke sini untuk meminta restu kepada Ayah Irene, akan tetapi beliau tidak ada," jelas Sean.


"Ya, kapan rencana menikah? Biar saya yang jadi walinya. Mengingat Nak Irene ini sudah tidak punya siapa-siapa lagi," ucap Pak RT dengan sangat tulus.


"Pak, benarkah itu? Saya sangat berterima kasih sekali," ucap Irene, semakin menangis sesegukan.


"Lusa, kami akan menikah, nanti saya akan menuliskan alamatnya," ucap Sean, dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak RT yang sangat baik kepada Irene.


*


*


*


Setelah selesai mengambil berkas yang di butuhkanny, sekaligus berpamitan kepada Pak RT. Kini Sean dan Irene berada di depan rumah yang mewah dan megah milik Keluarga Clark.


"Apa kamu siap, Sayang?" tanya Irene.


Hati Sean berdesir ketika mendengar Irene memanggilnya dengan sebutan 'sayang' membuatnya ingin terbang melayang.


"Gue suka panggilan itu," ucap Sean, sembari mengerling nakal, seraya menggenggam tangan Irene dengan erat, dan melangkah masuk kedalam rumah tersebut dengan langkah beriringan.


Kasih sawerannya dongπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ