
Hati Aiden bagai teriris sembilu saat melihat kebahagiaan Nathan dan Kirana.
Masih ada rasa tidak rela didalam hatinya, melepas Kirana untuk saudara kembarnya.
Harusnya aku yang ada disana. Batin Aiden, menatap nanar saudara kembarnya yang tengah berbahagia.
Saat ini mereka sedang berkumpul dihalaman belakang mengadakan pesta barbeque untuk merayakan kebahagiaan Nathan dan Kiran.
Keluarga besar itu berserta tamu udangan duduk melingkar diatas karpet tebal yang digelar dihalaman belakang itu. Mereka mengobrol dan bercanda sambil menunggu para pelayan menyiapkan makanan mereka.
Sedangkan Aiden duduk dipaling belakang sambil menikmati rokoknya dengan perasaan berkecamuk.
"Kasihan! Hatinya terpotek ya?" ledek Gwen dengan nada yang sangat pelan saat melintas dihadapan pria tersebut.
"Kau!" Aiden melotot tajam.
Gwen tersenyum sinis menanggapinya, lalu melanjutkan langkahnya kedalam rumah bergegas menuju kamar mandi, karena ia ingin buang air kecil.
Aiden menyeringai licik, lalu ia beranjak mengikuti Gwen.
Saatnya pembalasan! Batin Aiden.
*
*
*
Sementara itu Irene duduk tidak tenang sambil menatap layar ponselnya. Ada rasa cemas didalam dada saat sang kekasih tidak berkumpul disana, dan ia sudah menghubungi Sean puluhan kali namun tidak ada jawaban.
"Ada apa, Ren?" tanya Jeje yang menyadari kegelisan calon menantunya.
"Ini, Sean kenapa tidak menerima telepon saya," ucap Irene, sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Jeje.
"Mungkin dia sedang Sif 2," jawab Jeje mencoba untuk tenang walau dalam hati tiba-tiba merasa gelisah karena baru menyadari jika salah satu putranya tidak hadir ditengah-tengah mereka.
Bukankah Sean Sif 1? Batin Irene bertanya, lalu ia segera beranjak dari duduknya.
"Kamu mau kemana, Ren?" tanya Kirana.
"Oh, aku mau ke kamar mandi," bohong Irene, lalu segera pergi dari sana dan menuju Paviliun belakang rumah tersebut.
"Se?" panggil Irene saat sudah berada didalam sana. Ia mencari keberadaan Sean disetiap sudut Paviliun itu, namun tidak menemukan kekasihnya.
"Kamu kemana sih?" gumam Irene, seraya mendudukan diri disofa ruang tamu. Mengambil ponselnya yang ada didalam tas dan menghubungi Sean lagi.
Sedangkan Sean saat ini masih sibuk mengantarkan pesanan dari meja ke meja lainnya dengan penuh semangat, walau rasa lelah mendera tapi ia tidak memperdulikannya dan ia juga mengabaikan getaran ponsel dari kantong celananya.
"Jo, istrirahat dulu," ucap Supervisor-nya yang sejak tadi memperhatikan Sean belum istirahat sama sekali, padahal sudah lewat jam makan malam.
Sean yang baru akan mengambil pesanan mengurungkan niatnya, lalu menghampiri Supervisor-nya.
"Istirahat dan makan malam dulu. Waktu istrirahatmu setengah jam," jelas Supervisor-nya lagi dan diangguki oleh Sean.
Sean menghembuskan nafasnya dengan kasar saat sudah berada diruangan khusus untuk karyawan. Kemudian ia menyalakan sebatang rokok dan mulai menyesapnya.
"Makan malamnya, Jo. Semangat sekali kamu, sampai melewatkan makan malam," ucap Seorang Koki yang memasuki ruangan tersebut sambil membawa sepiring nasi.
"Terima kasih. Padahal nanti gue bisa mengambilnya sendiri," jawab Sean, sembari menerima sepiring nasi tersebut dengan perasaan bahagia dan bersyukur karena masih dikelilingi orang-orang yang baik.
"Sama-sama. Jangan sungkan begitu," jawab Koki tersebut lalu segera keluar dari ruangan itu.
Sean menghabiskan sebatang rokok lebih dulu, baru setelah itu ia memakan makan malamnya. Baru akan menyuapkan nasi kedalam mulutnya, ia merasakan ponselnya bergetar panjang menandakan jika ada panggilan masuk.
Sean tersenyum bahagia saat melihat kekasihnya menghubunginya, tidak perlu menunggu lama untuk mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Ya, Ren?" jawab Sean, sambil memakan makan malamnya.
"Kamu ada dimana? Kenapa tidak ada dirumah utama? Dan kenapa teleponku baru diangkat?!" tanya Irene beruntun diseberang sana.
Sean menjauhkan ponselnya lalu mengusak telinganya yang terasa pengang saat mendengar suara cempereng kekasihnya.
"Telinga gue sakit denger suara lo. Gue lembur, Ren. Sudah dulu, ya," jawab Sean, lalu menutup panggilannya secara sepihak.
"Huh!" Sean menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu segera menghabiskan makanannya karena waktu istirahatnya sangat singkat.
Semangat Sean, yang lagi mengumpulkan uang, dan semangat untuk Bang Ai, yang akan balas dendam kepada Gwen🤣🤣🤣
Jangan lupa votenya keluarin semua, dan sawerannya di tambahin😘😘