
Aiden berjalan menuruni tangga sembari memijat lehernya yang terasa pegal. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Keadaan rumah tersebut pun terlihat sepi karena sudah hampir larut malam para penghuni rumah tersebut sudah masuk kealam mimpi, dan hanya ada beberapa lampu yang menyala, menerangi rumah tersebut.
"Huh!" Aiden menghembuskan nafasnya dengan kasar, semenjak Sean tidak berada di WG seluruh pekerjaan dan tanggung jawab dilimpahkan kepadanya.
"Sepertinya aku harus meminta Daddy untuk mencabut masa hukuman Sean," gumamnya, sembari membuka kulkas mengambil air dingin, lalu menenggak air dingin yang ada didalam botol tersebut dengan cepat, namun ia tiba-tiba tersedak saat merasakan ada tangan melingkar diperutnya.
"Uhuk ... uhukkk ... ." Aiden mengumpat lalu menyentakkan tangan yang melingkar di perutnya itu. Ia membalikkan badan dan menatap seorang wanita dengan sangat tajam.
"Kau!!" Aiden mengeraskan rahangnya hingga giginya bergemelutuk, pria itu benar-benar sangat murka dengan tingkah wanita yang sangat menjijikkan itu.
Ya, wanita itu adalah Ayu.Wanita itu tadinya juga akan mengambil minum didapur dan kebetulan sekali ada Aiden disana. Tidak befikir panjang, ia berjalan mendekati Aiden dengan perlahan lalu memeluk pria itu dari belakang.
"Hai, Aiden," ucap Ayu dengan tidak tahu malunya.
"Apa kau itu seorang ******!!" maki Aiden, matanya menggelap amarahnya mencapai ubun-ubun dan dia tidak kuasa menahan amarahnya lagi. Kemudian ia mencekik leher wanita tersebut dengan sangat kuat.
Ayu merasa sangat kesakitan, dan memukul tangan Aiden yang sedang mencekik lehernya begitu kuat.
"Le ... pas ... ," ucap Ayu dengan terbata, lehernya benar- benar sakit, nafasnya mulai sesak karena pasokan oksigen didalam paru-parunya mulai menipis.
"Tidak ada yang boleh menyentuh tubuhku kecuali dia! Dan kau punya keberanian memeluk tubuh ku!!! Maka rasakan lah ini!! Dasar ******!!" Aiden semakin mencengkram leher Ayu dengan kuat, hingga membuat wanita itu menjulurkan lidah dan kedua bola matanya mulai memutih.
Ansel berjalan menuruni anak tangga, ia ingin menemui Ayu yang kamarnya ada dilantai bawah. Langkahnya terhenti saat mendengar suara keributan didapur. Mengurungkan niat ke kamar Ayu, lalu berjalan menuju dapur karena rasa penasarannya jauh lebih besar.
Matanya membola sempurna, kemudian ia berlari secepat mungkin menolong Ayu yang sedang dicekik oleh Aiden.
"Aku ingin melenyapkan wanita ini!! Jangan menghentikkan aku sialan!!!" balas Aiden dengan suara yang menggelegar disetiap sudut rumah tersebut. Dan tangannya masih kuat mencekik leher wanita itu.
Ayu menangis tidak karuan dan memohon pertolongan dari Ansel.
"Aiden!!!" bentak Ansel lagi lalu menarik tangan saudaranya itu sekuat mungkin, hingga akhirnya Aiden melepaskan tanganya dari leher Ayu.
"Uhuk .... Uhuk ... ." Ayu terjatuh diatas lantai marmer yang dingin itu dengan posisi terduduk, sambil memegangi lehernya yang terasa sangat sakit, dan ia menghirup udara dengan sangat rakus.
"Kamu baik-baik saja?" Ansel membantu Ayu berdiri, dan merangkul bahu kekasihnya.
"Sebenarnya apa masalahmu dengan kekasihku?! Hah!" bentak Ansel dan menatap saudara kembarnya itu dengan tajam.
"Tidak ada asap kalau tidak ada api!!" jawab Aiden, terdengar sangat dingin dan datar. "Dan lain kali ajarkan kekasihmu itu sopan santun! Jangan memeluk orang sembarangan!!" lanjut Aiden, menatap tajam Ayu yang terlihat mendundukan kepala.
"Apa maksudmu?!" sentak Ansel.
"Tanyakan saja kepada kekasih kesayanganmu itu!! Aku harap besok pagi, dia sudah pergi dari rumah ini. Jika tidak, aku akan melakukan hal yang lebih gila dari ini!!!" ucap Aiden dengan tegas dan dingin. Kemudian ia beranjak dari dapur sana dengan perasaan marah.
Emosi😡😡😡😡
Like dan saweran jangan lupa ya. Biar adem kepala emak🤣🤣