My Hot ART

My Hot ART
Poor Sean



Kasih dukungannya ya, emak mau up banyak lagi hari ini😘


Seorang pria terlihat menghembuskan nafasnya dengan kasar, setelah memparkirkan motor sportnya ditepi jalan di siang yang terik itu. Berulang kali ia mengumpat kesal, sembari mengambil rokok yang ada kantong celananya.


"Sial banget hidup gue!" keluhnya, seraya berkacak pinggang dengan salah satu tangannya dan tangan yang lainnya memegang sebatang rokok yang sedang ia sesap asapnya.


Ya, pria tersebut adalah Jonsean Clark atau yang kerap disapa dengan panggilan Sean.


"Harus kemana lagi cari kerja. Daddy nggak tanggung-tanggung kasih hukumannya. Tega banget ngeblack list namaku," gumam Sean dengan lesu dan juga ingin marah, tapi mau marah dengan siapa?


Dan rasa penyesalan itu terus menggelayuti hatinya, tapi dia harus tetap semangat untuk melanjutkan hidupnya. Dan ia akan membuktikan kepada keluarganya, jika dirinya bisa berubah dan bisa berdiri dengan kedua kakinya sendiri.


Sudah ada 8 perusahaan besar yang ia datangi tapi dirinya langsung ditolak dengan alasan yang tidak masuk akal.


"Maaf Tuan, anda terlalu cerdas. Kami tidak bisa menerima anda."


"Maaf Pak Sean, perusahaan kami tidak bisa menerima Bapak karena anda terlalu tampan."


"Apa anda tidak salah melamar pekerjaan di perusahaan kecil ini, Pak? Maaf, kami tidak bisa menerima anda."


Dan masih banyak alasan yang tidak masuk akal lainnya. "Shitt!" Sean mengumpat dengan keras, meluapkan kekesalannya. Kemudian ia membuang rokok yang ada ditangannya, dan melanjutkan perjalanannya mencari pekerjaan.


Disepanjang jalan Sean bernyanyi guna untuk menghibur dirinya sendiri.


Mama ... Mama ... dimana kah kau berada?


Aku anak yang sebatang karang, pergi mencari ibunya.


Di malam yang dingin teringat Mama.


Walaupun kesepian, aku tetap gembira.


Mama ... Mama ... aku ingin bertemu.


**


Disisi lain Kirana sedang berada di ruang keluarga sembari menonton televisi bersama kedua mertuanya.


Kirana menatap kedua mertuanya itu dengan kening yang berkerut, pasalnya Xander dan Jeje menatap layar televisi dengan pandangan yang kosong. Dan Kirana yakin jika kedua mertuanya itu sedang memikirkan anak ketiganya, yaitu Sean.


"Mom ... Dad?" panggil Kirana dengan pelan.


Xander dan Jeje menoleh bersamaan dengan lesu.


"Apa apa?" tanya Xander, menatap menantunya dengan datar.


Kirana menggigit bibir bawahnya lalu menggeleng dengan cepat saat melihat raut wajah Xander yang menyeramkan. Ia mengurungkan untuk menyuarakan isi hatinya.


Sedangkan Jeje bertopang dagu sambil bergumam. "Anak Mommy sudah makan belum ya? Sedang apa ya?"


Xander melirik tajam istrinya yang bergumam seperti itu. "Jangan mengkhawatirkan anak manja itu! Dan jangan pernah menemuinya! Awas saja jika kamu melanggar, ini juga berlaku untukmu Kirana, dan juga seluruh keluarga ini!" Xander berucap dengan nada tegas, walau pun didalam hatinya juga menghkawatirkan keadaan putranya.


"I.. iya, Dad," jawab Kirana terbata, takut dengan aura kemarahan ayah mertuanya.


"Apa tidak boleh menemuinya sebentar saja," mohon Jeje, dengan sangat kepada suaminya.


"Tidak boleh!" jawab Xander dengan tegas. Membuat Jeje mengerucut sebal, dan akhirnya perdebatan pun tidak terelakan lagi.


Kirana beranjak dari duduknya menuju halaman belakang, karena merasa tidak enak jika harus melihat kedua mertuanya sedang berdebat.


Kirana meremat kedua tangannya, merasa gugup dan takut, karena datang bulannya sudah selesai.


"Huh ... malam ini aku akan kehilangan keperawananku yang selama ini aku jaga. Semoga saja Mas Nathan pulang malam dan menunda malam pertama kita." gumam Kirana, dengan penuh harap.