
Kasih vote, like dan hadiah, terima kasih❤
"Kamu kalau ngomong disaring dulu apa!" Nathan melotot tajam saat melihat wajah sedih Irene. Dan dia yakin jika gadis itu mempunyairasa terhadap Sean.
"Dih! Gue ngomong sejujurnya kok!" balas Sean, tanpa memperdulikan perasaan Irene.
"Se!" tegur Kirana, merasa kesal dengan saudara iparnya itu agar tidak berkata kasar lagi.
"Tidak apa-apa, Kirana dan Tuan Nathan. Apa yang dikatakan Sean benar. Kalau saya ini jelek, cupu, burik, dan pendek. Tapi saya juga punya kriteria sendiri dalam memilih pasangan." jawab Irene dengan tenang, namun matanya melirik tajam kearah Sean.
"Oh ya? Seperti apa tipe kamu?' tanya Kirana, penasaraan.
"Tentu saja yang baik dan juga masih perjaka," ceplos Irene, langsung membuat Sean terkejut, menoleh ke Irene sambil melotot sempurna..
"Ha ha ha." Nathan dan Kirana tertawa terbahak saat melihat espresi Sean yang sepertinya tidak terima dengan perkataan Irene.
"Mampus! Kicep 'kan tuh bibir!" ucap Nathan kepada Sean, di iringi gelak tawa yang tidak kunjung berhenti.
Kirana tertawa terpingkal sambil memegangi perutnya yang terasa kaku, dan wajahnya memerah karena terlalu banyak tertawa.
"Ayo sayang, kita harus segera pulang, karena sebentar lagi Daddy dan Mommy akan bangun," ucap Nathan segera beranjak, dan diikuti oleh Kirana.
"Dan untuk Irene, nanti sore setelah kamu pulang kerja, aku akan menyuruh Ansel untuk mengantarkanmu ke Apartemen yang di dekat WG," ucap Nathan, lalu menggandeng tangan istrinya.
"Baik, Tuan. Terima kasih banyak bantuannya," ucap Irene dengan hati yang gembira.
*
*
*
"Maksud lo apa ngomong kayak gitu?" tanya Sean, setelah Nathan dan Kirana keluar dari paviliun tersebut.
"Maksud dan omongan yang mana?" Irene balik bertanya lalu beranjak dari duduknya namun tangannya dicekal oleh Sean.
"Lepas!" Irene menghempaskan tangan Sean melepaskan cekalan tangannya.
"Lo belum jawab pertanyaan gue!" Sean menarik tangan Irene, hingga membuat gadis itu terduduk lagi pada tempatnya.
Irene bukannya tidak mengerti dengan pertanyaan Sean, hanya saja dia sudah terlalu kesal dan marah kepada pria itu.
Sean menggeram kesal lalu mengikuti Irene.
"Emang lo nggak ngerti dengan pertanyaan gue?Dasar nggak peka!" kesal Sean, saat sudah berada didalam kamar Irene.
Irene yang sedang mengambil pakaian kerjanya dari dalam lemari mendengus kesal, dan mengumpati Sean didalam hati.
"Kamu bilang aku nggak peka?! Terus kamu sendiri apa?!" balas Irene, menutup lemari dengan keras setelah mengambil pakaian kerjanya.
"Aku? Kenapa kamu malah nyalahin aku?" tanya Sean, sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Huh! Susah ngomomg sama makhluk astral kayak kamu!" ucap Irene, menatap malas Sean. "Keluar sana! Aku mau ganti baju!" usir Irene, seraya mengibaskan salah satu tangannya.
"Nggak mau!" jawab Sean, seraya menyilangkan kedua tangannya didada.
"CK!" Irene berdecak kesal, lalu berniat berganti pakaian dikamar mandi, namun lagi-lagi gerakannya tertahan saat Sean menutup pintu kamar dan menguncinya.
"Sean!" teriak Irene, tidak dapat menahan kekesalannya lagi.
"Ambil saja kalau bisa!" ucap Sean, memasukkan kunci tersebut dikantong celananya, tentu saja hal tersebut membuat Irene terkejut.
"Resek banget sih! Mana kuncinya?" Irene menengadahkan tangannya.
"Ambil sendiri!" jawab Sean.
"Ogah!!" balas Irene kekeuh dengan pendiriannya.
"Ya, sudah. Jangan nyalahin gue kalau lo telat kerja," ucap Sean lagi, dengan santai.
Irene menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu berfikir sejenak, dan tidak berselang lama ini mendapatkam Ide untuk mengerjai Sean.
"Oke! Jangan salahin aku, kalau aku ganti baju disini!"
GLEK
Sean menelan ludahnya dengan kasar, dan jangunnya naik turun tidak beraturan.