My Hot ART

My Hot ART
Panggil, Mas!



Hati Nathan senang bukan kepalang, karena Bapak memberikan kesempatan untuk membuktikan jika dirinya layak menjadi suami Kirana.


Saat ini dia sedang duduk di Ambal tepat di bawah pohon jambu. Bibirnya tersenyum sambil mendongak ke atas menatap buah jambu yang berbuah lebat.


Tapi, senyumnya yang sejak tadi berkembang di bibirnya luntur seketika, saat mengingat ucapan calon ayah mertuanya yang hampir dia lupakan.


Besok jam 5 pagi, saya tunggu di halaman rumah.


"Tunggu deh, mau apa jam 5 pagi di halaman rumah?" gumam Nathan, pikirannya menerka-nerka tentang hal apa yang akan di lakukan oleh Ayah Kirana kepadanya.


"Ah, bodo amat lah!" Yang terpenting dirinya sudah mendapatkan lampu hijau dari calon mertunya dan ia akan membuktikannya jika dia benar-benar tulus dengan Kirana.


"Tujuh samudra akan aku seberangi, begitu pula hatimu Dek Kirana akan aku dayung sampai ke Altar pernikahan kita," ucap Nathan penuh dengan semangat dan tersenyum seperti orang waras. 😆


"Pede!" sahut seseorang, membuat Nathan menoleh dan menyengir kuda.


"Eh, Pak." Nathan menegakkan badannya ketika melihat ayah Kirana berdiri di depan rumah hanya mengenakan sarung dan kaos singlet putih, sambil memelintir kumis tebalnya dan jangan lupakan tatapan sinisnya yang di arahkan kepada Nathan.


"Sudah sore, mandi sana!" Setelah mengatakan hal itu, Bapak kembali lagi ke dalam rumah.


Nathan tersenyum senang karena merasa di perhatikan calon mertuanya. Bergegas dia masuk ke dalam rumah.


Ketika sudah sampai di dalam rumah, Nathan celingak-celinguk mencari Kirana, ingin bertanya kamar mandinya di sebelah mana.


"Kamar mandinya di belakang, di dekat dapur!" kata Bapak yang baru keluar dari kamar sambil membawa handuk di tangannya dan menyerahkannya kepada Nathan.


"Jangan berharap kalau Kirana akan menyiapkan kebutuhanmu seperti di rumahmu!" ketus Bapak.


"Iya, Pak. Maka dari itu Bapak yang mengambilkan handuk untuk saya. Duh perhatian banget sih, Pak. Sebagai calon menantu tentu saya—" belum selesai bicara, Nathan sudah kena semprot sama bapak.


"Haisss!! Mau tak slepet beneran kowe!" Bapak bersiap menyingsing sarungnya hingga batas paha dan memasang wajah garang.


"Eh, nggak, Pak. Permisi mau mandi." Nathan langsung lari terbirit menuju kamar mandi.


*


*


*


Ibu menatap Nathan dengan kening yang berkerut.


"Kenapa, Le? Nafasmu kok naik turun begitu kayak di kejar hantu saja." tanya Ibu, yang sedang menuang sayur ke dalam wadahnya.


"Lebih dari hantu, Bu. Ini lebih horor," jawab Nathan, sambil menyandarkan punggungnya di dinding dapur itu.


Nathan menurut, matanya mengendar menyapu setiap sudut dapur itu. Terlihat sederhana, juga rapi dan bersih. Menandakan jika pemiliknya sangat menjaga kebersihan.


"Kamar mandinya cuma ada satu, jadi harus bergantian." Ibu mulai pembicaraan.


"Iya, Bu." Nathan mengerti dengan keadaan rumah tersebut.


Nathan menoleh ke arah pintu dapur, lalu matanya menatap ibu yang masih sibuk menata makanan.


"Bu—" Nathan menjeda ucapannya, ia ragu ingin bertanya akan tetapi momen ini adalah yang tepat untuk menanyakan segala hal yang mengganjal di hatinya.


"Iya?" jawab Ibu tanpa menoleh.


"Ehm. Maaf sebelumnya jika pertanyaan saya ini sedikit menyinggung. Apa bapak dan ibu punya hutang rentenir?" tanya Nathan dengan hati-hati.


Ibu terdiam dan menghentikan aktifitasnya sejenak.


"Iya," jawab Ibu singkat, tanpa menjelaskan apa pun lagi. Padahal Nathan berharap jika ibu mau menceritakan kepadanya dan senang hati dia akan membantunya.


"Kalau boleh tahu berapa, Bu?" tanya Nathan, sedikit lancang.


"Dulu cuma sedikit nggak sampai 50 juta, tapi karena bunganya setiap harinya semakin naik jadi hutangnya juga semakin bertambah," jelas Ibu apa adanya.


"Bu, bila di ijinkan bolehkah jika saya—" Belum selesai bicara, pintu kamar mandi terbuka dengan terpaksa Nathan menghentikan ucapannya.


Kirana keluar dari kamar mandi menggunakan piyama berwarna pink bermotif stroberry, dengan rambut basah terurai dan wajah yang terlihat fress membuat gadis itu terlihat sangat cantik, imut dan menggemaskan. Nathan sampai melongo tak berkedip menatap pujaan hatinya.


"Mandi ih! Bengong saja!" seru Kirana.


"Eh, iya." Nathan terperanjat lalu segera beranjak dari duduknya lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.


*


*


"Kamu itu yang sopan, kalau manggil orang yang lebih tua, apa lagi dia itu anak majikan kamu," tegur Ibu, kepada putrinya. Ketika Nathan sudah masuk ke dalam kamar mandi.


"Panggil Mas 'kan bisa! Kamu ini kayak nggak pernah di ajarin sopan santun sama orang tua!" ucap Ibu, sedikit jengkel kepada putrinya.


"Nggih, Bu. Maaf, tapi masa harus manggil Mas?" protes Kirana.


'"Ngebantah saja!" jawab Ibu, langsung membuat Kirana diam.


Aku panjangin Babnya. Awas saja kalau ndak di kasih kembang sama Vote, tak slepet kalian satu-satu.😆