
Kirana dan Nathan sedang Video Call dengan Bapak dan ibu yang ada di Semarang. Keduanya duduk berjejer diatas tempat tidur, sambil menatap layar ponsel yang dipegang oleh Kirana.
"Tenan, Na? Puji Tuhan, semoga Tuhan selalu memberkati dan melindungi kalian berdua dan juga anak kalian, amin," ucap Ibu diseberang sana. Rasa bahagia membuncah didalam dada saat mendengar kabar dari putrinya sedang mengandung.
"Bojomu endi, Na?" Bapak diseberang sana merebut ponsel yang sedang di pegang oleh Ibu.
"Aku durung rampung ngomong loh, Pak. Isih kangen karo Kirana." Terdengar protes dari Ibu tapi tidak diperdulikan oleh Bapak.
Aku belum selesai berbicara loh, Pak. Masih kangen sama Kirana. (Terjemahan)
Wajah pria paruh baya terlihat tegas dan ada sedikit kerutan di setiap sudut mata, dengan kumis tebal menghiasi atas bibir itu terlihat memenuhi layar, Nathan yang melihatnya pun menggembukan pipi, menahan tawa.
"Mas, kamu nanti kualat loh!" Kirana mencubit gemas tangan suaminya.
Seketika itu Nathan berdehem agar rasa ingin tertawa terbahak itu pudar. Ia menegakkan punggungnya lalu mengambil alih ponselnya dari tangan Kirana. Dan mulai berbicara serius dengan Bapak yang ada diseberang sana.
"Selamat siang, Pak Kumis," sapa Nathan, seraya memperlihatkan senyuman manisnya.
Huh!
Terdengar dengusan kesal dari seberang sana. "Bapak minta kamu jaga Kirana dengan baik, apalagi saat ini sedang mengandung anakmu, jika terjadi apa-apa sama Kirana, tak slepet modyar koe!" ucap Bapak diseberang sana, penuh dengan ancaman.
"Iya, Pak. Tanpa Bapak minta, aku akan menjaga Kirana dengan segenap raga dan jiwaku," jawab Nathan penuh kebahagiaan.
"Yo wes!" jawab Bapak percaya, lalu menyerahkan ponsel yang ia pegang kepada Istrinya.
"He he he. Jangan dengarkan Bapakmu yo, Le. Si Kumis memang seperti itu, tapi aslinya penyayang kok," ucap Ibu merasa tidak enak hati dengan menantunya.
"Nggak apa-apa, Bu," jawab Nathan.
"Oh, iya. Ibu, Bapak dan mewakilkan warga disini mengucapkan banyak terima kasih sama Pak Der karena sudah membangun jalanan dikampung ini," ucap Ibu dengan sangat tulus.
Ya, setelah pulang ke Jakarta Xander memerintahkan ke-empat putranya untuk membangun jalanan yang ada dikampung Kirana.
Kirana yang mendengar perkataan ibunya terkejut lalu menatap suaminya penuh tanda tanya, karena ia tidak tahu mengenai hal itu.
*
*
*
Disisi lain Aiden yang berada diruangannya sambil menatap Gwen yang terlihat cemberut kesal.
"Kan, aku sudah minta maaf," ucap Aiden, seraya meminjat pangkal hidungnya. Kepalanya berdenyut nyeri karena Gwen ingin mengundurkan diri.
"Permintaa maaf ditolak!" jawab Gwen dengan ketus.
Aiden menghembuskan nafasnya dengan kesal. "Kamu sudah dikontrak 1 tahun diatas materai, jika kamu mengundurkan diri maka kamu akan kena pinalti 5 kali lipat dari bayaranmu." jelas Aiden.
"Apa??!" pekik Gwen saat mendengarkan penjelasan Aiden. "Wah, curang kamu!" Gadis itu tidak terima, merasa ditipu.
"Heh! Bocil! Kamu sendiri yang tidak membaca dulu surat perjanjian kotrak kerja itu!" jawab Aiden, terdengar dingin dan datar.
Tubuh Gwen langsung lemas seketika. Dia yang salah karena menandatangani surat kontrak kerjanya tanpa memahami lebih dulu.
"Terus gimana dong?" tanya Gwen lesu.
"Ya, nggak gimana-gimana. Profesional dong!" jawab Aiden datar.
"Ck! Tapi aku males ketemu Om setiap hari! Eneg!" ucap Gwen, membuat Aiden sangat kesal.
"Kamu pikir aku tidak eneg melihat wajahmu yang sok kecantikan itu!!!" sahut Aiden penuh emosi dan kekesalan.
"Heh! Aku ini memang cantik dari lahir!! Dasar Om Tua!! Menyebalkan! Bahkan aku sangat membencimu dari luar sampai dalam dan dari atas sampai bawah!!! Aku sumpahin kamu jadi perjaka tua!!!" seru Gwen dengan sekali tarikan nafas. Matanya menatap nyalang ke pria yang ada dihadapannya itu.
Vote dan like jangan lupa ya. ❤