My Hot ART

My Hot ART
Aku mohon berpalinglah



"Kok aku jadi bingung sendiri begini sih? Padahal 'kan tinggal minta maaf doang!" Aiden memaki dirinya sendiri kemudian, ia merebahkan dirinya diatas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamarnya.



Begini kira-kira posisi wenak Bang Ai. 🤣


Aiden memejamkan matanya sesaat sambil memikirkan cara meminta maaf kepada Gwen.


"Ah! Nggak tahu lah!" Aiden menjadi kesal sendiri, lalu menarik selimut guna menghangatkan tubuhnya yang bertelanjang dada itu. Dan ia mulai memejamkan matanya, menyelami alam mimpi dan berharap jika besok pagi ia saat terbangun ia mendapatkan ide untuk meminta maaf kepada Gwen si gadis bau kencur.


*


*


*


Pagi harinya. Aiden sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Seperti biasa pria itu terlihat tampan dan mempesona. Pria itu berjalan menuju ruang makan untuk sarapan bersama. Dan diruang makan tersebut sudah ada seluruh anggota keluarganya kecuali Sean, Nathan dan Kirana.


"Morning, Mom dan Oma ku yang paling nyentrik," sapa Aiden sembari mengecup pipi ibu dan neneknya bergantian. Kemudian ia mendudukan diri dikursinya.


"Pagi, Ai," jawab Jeje dan Oma Airin bersamaan.


Xander menatap tajam putranya, ia kesal karena Aiden mengecup pipi mulus istrinya tanpa ijin kepadanya.


"Jangan menatapku seperti itu, Dad," ucap Aiden seraya memutar kedua bola matanya dengan malas.


Sedangkan Xander hanya membalas dengan decakan kesal, lalu mengambil selembar tisu yang ada diatas meja untuk menghilangkan bekas kecupan Aiden dipipi Jeje.


"Dad!!" Jeje mendelik kesal kearah suaminya.


"Diamlah Honey, aku tidak suka jika ada pria lain yang menyentuhmu!" jawab Xander dengan datar.


Semua orang yang ada disana menggeleng pelan saat mendengar perkataan Xander yang berlebihan.


"Biarkanlah Je, dia lagi puber ke-tiga eh apa ke-empat ya? Bawaannya cemburuan dan sangat sensitif," ucap Oma Airin penuh sindiran.


"Mom!" protes Xander karena tidak terima dengan perkataan ibunya.


Yang benar saja puber ke-empat! Batin Xander kesal.


"Apa? Dasar anak kurang garam!" seru Oma Airin.


Jeje memijit pelipisnya,seraya menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Sudah lanjutkan sarapan kalian," titah Jeje kepada kedua putranya yang tengah melihat perdebatan itu.


Aiden mengendarkan padangannya. "Nathan dan Kirana mana?" tanya Aiden, saat menyadari anggota keluarganya tidak lengkap.


"Kirana sakit jadi Nathan menemaninya dikamar," jawab Oma Airin.


Wajah Aiden yang tadinya tenang kini menjadi panik. "Sakit? Sakit apa?!" Aiden beranjak dari duduknya, ia khawatir dengan keadaan Kirana. Namun gerakannya tertahan saat Ansel menarik tangannya,


"Duduk!" Ansel berkata penuh penegasan namun tanpa bersuara, hanya bibirnya saja yang bergerak.


Seketika itu Aiden tersadar lalu mendudukkan dirinya kembali kekursinya.


"Nggak usah cari masalah!" bisik Ansel penuh penekanan.


"Kalian ini bisik-bisik apa?" tanya Jeje sembari menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutnya.


"Rahasia anak muda, Mom," jawab Aiden tersenyum paksa. Mencoba untuk tenang, walau didalam hatinya merasa sangat cemas dan khawatir dengan keadaan Kirana. Ingin rasanya, ia berlari menemui Kirana, namun niatnya itu diurungkannya karena akal sehatnya masih berfungsi.


Hai hati? Ternyata kamu masih menyimpan namanya disana? Aku mohon lepaskan lah dia. Jangan menyiksa ku seperti ini. Dia sudah ada yang memiliki, aku mohon berpalinglah kehati yang lain. Batin Aiden, sembari meraba dada kirinya yang terasa sesak.


Hai para Reader, aku mohon berikan like dan dukungan lainnya untuk Emak kalian yang gesrek ini. 🙏😁