My Hot ART

My Hot ART
S2. Kebahagiaan di sela kesedihan



Jika Sean dan Irene tengah merasakan kebahagiaan dengan kelahiran putri pertama mereka, tapi berbeda dengan di kediaman keluarga Clark yang sedang terjadi ketegangan.


Melisa mengalami pendarahan setelah terjatuh di dalam kamar mandi. Semua orang panik dan segera membawa Melisa ke rumah sakit.


"Jangan sampai Melisa mengalami hal yang sama sepertiku." Doa Gwen sembari menyatikan kedua tangannya di depan dada.


"Amin," jawab Aiden seraya memeluk istrinya yang masih terlihat sangat syok.


"Kenapa bisa terjadi?" tanya Kirana yang berada di pelukan suaminya juga.


"Entahlah pelayan di rumah ini selalu membersihkan kamar mandi setiap hari dan tidak mungkin lantainya licin," jawab Nathan.


"Apakah Mama dan adik bayiku akan baik-baik saja?" tanya Zahra kepada semua orang dewasa yang ada di sana dengan nada lirih dan sendu.


Kirana mengurai pelukan suaminya, lalu mendekati Zahra, berjongkok di depan gadis kecil itu seraya berkata, "semuanya akan baik-baik saja, Sayang." Kirana memeluk Zahra dengan erat, menenangkan gadis kecil itu yang terlihat sangat mengkhawatirkan ibu dan adik bayinya.


***


Sampai di rumah sakit Melisa langsung mendapatkan pertolongan, dokter pun segera mengambil tindakan operasi untuk mengeluarkan bayi yang ada di dalam kandungan Melisa.


Ansel mengusap wajahnya dengan frustrasi, berdiri bersandar di dinding yang dingin itu. Bibirnya terus bergerak seiring ia melantunkan doa untuk keselamatan istrinya yang ada di dalam ruang operasi sana.


"Ansel bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Jeje kepada putranya. Ia mendekati Ansel dan mengelus lengan kekar putranya itu.


"Mommy, aku tidak tahu persis kejadian itu bisa terjadi, tapi Melisa kemarin mengeluh jika kedua kakinya terasa sakit dan nyeri," jelas Ansel dengan sendu. Kehamilan istrinya yang tua membuat kedua kaki Melisa bengkak parah.


Jeje terdiam saat mendengar penjelasan putranya. "Tapi, kenapa dia selalu bilang baik-baik saja saat Mommy tanya tentang kakiny?" Jeje menjadi merasa bersalah dalam hal ini.


Xander menarik istrinya ke dalam pelukannya. "Kita do'kan cucu dan menantu kita baik-baik saja," ucap Xander dengan suara beratnya, semberi mengelus punggung istrinya.


Pelukan itu terurai saat ponsel Jeje berdering keras menandakan jika ada panggilan masuk.


"Sean," ucap Jeje kepada suaminya. Xander mengangguk pelan bertanda jika istrinya itu segera mengangkat telepon tersebut.


Jeje mengusap air matanya seraya berdehem pelan saat akan mengangkat telepon dari putranya itu.


"Halo, Se ... What!!" Jeje memekik keras, kemudiaan ia terdiam saat mendengar penuturan putranya dari ujung telepon sana. Bibirnya melengkung indah dan raut wajahnya yang sendu kini terlihat berbinar.


"Baiklah, Mommy akan ke sana," ucap Jeje, lalu segera memutuskan sambungan teleponnya.


"Ada apa?" tanya Xander.


"Irene sudah melahirkan, Dad. Kita panen cucu," ucap Jeje dengan penuh kebahagiaan lalu memeluk suaminya dengan erat.


Xander ikut bahagia saat mendengar kabar baik ini. Ia merasa sangat sempurna karena akan mempunyai banyak cucu lucu dan menggemaskan.


Ansel pun ikut bahagia di sela kesedihannya.


"Mommy akan ke sana. Anak nakal itu selalu saja membuat ulah, istrinya mau melahirkan tapi tidak memberi kabar sama sekali," rutuk Jeje.


"Aku juga membutuhkan Mommy," ucap Ansel dengan sendu saat ibunya berpamitan kepadanya.


Dobel update ya. Jangan lupa dukungannya❤