My Hot ART

My Hot ART
Sebelas duabelas



Irene menatap bangunan yang baru dia masuki dengan heran. "Bapak tinggal disini?" tanya Irene, masih memperhatikan sekelilingnya sembari mendekap tasnya dengan erat. Sesekali ia membenarkan kaca matanya yang merosot dari hidung mungilnya.


"Iya, tentu lo sudah tahu masalah gue, bukan?" jawab Sean sekaligus bertanya dan menatap Iren dengan malas, karena gadis itu mengenakan kaca matanya lagi.


Irene menganggukkan kepalanya berulang kali. "Tentu saja saya tahu, karena Bapak suka main celap-celup 'kan, makanya Tuan Xander menghukum anda," jawab Irena apa adanya, berhasil membuat Sean malu.


"Gue hanya berpetualangan saja," jawab Sean berkilah. Sedangkan Irene yang mendengarkan jawab Sean hanya menggeleng pelan.


"Sini duduk, ada beberapa hal yang harus kita bicarakan," ucap Sean menepuk sofa disisi sebelahnya yang kosong. Irene memilih duduk agak jauh dari Sean.


"Lo kenapa sih, takut sama gue?" tanya Sean, menatap kesal gadis itu yang duduk jauh darinya.


"Takut di mangsa," jawan Irene pelan, seraya tersenyum meringis.


"Lo pikir, gue harimau apa?"


Sebelas dua belas, Pak. Batin Irene.


Sean berdehem pelan dan mulai membicarakan yang serius. "Gue nolongin lo karena rasa perikemanusiaan, tidak lebih!" tegas Sean, dan Irene mengangguk mengerti.


"Lo boleh tinggal disini, sampai lo dapat tempat tinggal yang baru," lanjutnya, dan Irene mengangguk lagi sebagai jawaban.


"Kamar lo disana, selama lo tinggal disini harus membereskan tempat ini juga memasak!" ucap Sean sembari menunjuk pintu kamar yang bersebelahan dengan kamarnya.


"Jangan memanggil gue dengan sebutan Bapak, karena gue bukan Bapak lo dan gue juga bukan atasan lo lagi."


"Jangan sampai kamu masuk ke area rumah utama! Bisa kelar hidup gue!" lanjut Sean, dan Irene mengangguk dan masih menyimak aturan-aturan lainnya selama ia tinggal di paviliun tersebut.


"Dan terakhir, kita bisa keluar masuk lewat pintu belakang tanpa harus melewati area rumah utama yang banyak penjaganya." jelas Sean lagi.


Irene tersenyum senang, lalu ia mengucapkan rasa terima kasih yang sebanyak-banyaknya karena pria tersebut mau menolongnya. Pria yang ia kenal sangat menyebalkan dan suka membuatnya darah tinggi ternyata mempunyai sisi baik.


"Saya berjanji akan secepatnya pindah dari sini setelah mendapat rumah kontrakan baru," ucap Irene.


"Bagus! Lebih cepat lebih baik," jawab Sean ketus.


Iren hanya tersenyum hambar, menanggapi perkataan Sean.


"Pak, besok saya masuk kerja pakai baju apa?" tanya Irene pelan, mengingat dirinya tidak membawa pakaian lainnya, kecuali mini dress yang dikenakannya itu.


Sean membuka aplikasi belanja Online, lalu memesankan pakain formal untuk Irene dan juga pakaian tidur lengkap dengan dala*mannya.


"Aku sudah memesankan beberapa pakaian untukmu tapi dengan harga yang murah, pembayaran sistem COD," ucap Sean, seraya beranjak dari tepat duduknya.


"Ya ampun Bapak baik sekali, jadi terharu," ucap Irene sembari menangkup wajahnya.


"Kenapa terharu? Kamu yang akan membayar pakaian itu dengan uangmu sendiri," jawab Sean, lalu menuju kamarnya.


Sedangakan Irene menatap punggung Sean yang hilang dari balik pintu itu dengan perasaan kesal.


"Kirain mau dibayarin!" gumam Irene.


Beruntung dompetnya tidak pernah ketinggalan dari dalam tas jadi dirinya bisa bernafas lega.


Sean jangan berulah lagi ya, Nak! Emak nanti akan menambah masa hukum mu .🤣