
"Kamu mau kemana?" tanya Fika ketika melihat putrinya memasukan semua pakaian kedalam koper.
"Mau pulang, Mom. Aku rindu kamarku," jawab Gwen, tanpa mau menatap ibunya karena dia tidak ingin memperlihatkan wajah sembabnya.
"Jangan pulang dulu, keadaan Oma belum pulih. Dan Abang Juna juga sedang keluar kota jadi dirumah tidak orang. Memangnya kamu berani dirumah sendirian?" tanya Fika, yang berdiri dibelakang putrinya.
"Ada Opa Bon-Bon dan Oma Rima," jawab Gwen, kedua tangannya masih sibuk mengemasi pakaiannya.
"Beliau-beliau juga tidak ada. Liburan ke Bali untuk merayakan hari pernikahan mereka," jawab Fika lagi, seraya terkekeh pelan, membayangkan ayahnya dan ibu mertuanya yang masih sangat romantis walau usia sudah senja.
"Cih! Sudah tua tidak ingat umur. Apa mereka ingin membuatkan adik untuk Mama dan Papi? Gwen mencebikkan bibirnya kesal, dan mengurungkan niatnya untuk pulang kerumahnya.
Ah, kenapa takdir tidak berpihak kepadanya? Padahal dia ingin keluar dari rumah tersebut guna menghindari batu es yang sangat menyebalkan itu.
"Kenapa pakaiannya disusun kedalam lemari lagi? Bukankah kamu ingin pulang?" tanya Fika, seraya menahan tawanya.
"Tidak jadi," jawab Gwen dengan cepat karena dia tidak mungkin tinggal dirumah sendiri, mengingat dirinya adalah penakut dan phobia hantu.
"Baguslah kalau begitu," ucap Fika, terkekeh pelan lalu keluar dari kamar putrinya.
Gwen menghembusan nafasnya dengan kesal, kemudian ia mendudukan diri ditepian tempat tidur dengan lesu.
*
*
*
Disisi lain Aiden sedang menyusun rencana untuk mendekati Gwen dengan cara yang romantis. "Apakah aku harus mengajaknya nonton dibioskop sambil memakan popcorn? Atau aku harus memberikannya sekuntum bunga mawar merah?" gumam Aiden, sambil menggoyangkan salah satu kakinya, dan kapalanya mendongak keatas, menatap langit-langit ruang pribadinya.
"Ah! Sepertinya semua itu terlalu berlebihan! Lebih baik aku langsung menyatakan perasaanku saja!" gumamnya penuh semangat, kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar Gwen.
"Sial!" umpat Aiden menjadi kebakaran jenggot sendiri saat melihat Gwen tertawa bahagia bersama Ansel. Kemudian ia kembali keruang pribadinya untuk mengubah strateginya mendekati Gwen.
*
*
"Apa dia sudah pergi?" tanya Gwen, sambil menahan tawanya.
"Sepertinya sudah, aku yakin besok dia akan menyatakan cintanya kepadamu," ucap Ansel dengan nada pelan, dan di aminkan oleh Gwen.
"Bagaimana kamu bisa tahu jika dia akan kesini?" tanya Gwen, karena Ansel sepertinya sudah memperhitungkannya semuanya. Pria itu datang tiba-tiba ke kamarnya dan mengajaknya untuk berakting agar Aiden terbakar cemburu.
"Aku memasang CCTV di ruangan pribadi dan juga dikamarnya," jawab Ansel lalu tergelak keras lagi.
Gwen menggelengkan kepalanya berulang kali, tidak habis pikir dengan pria yang ada dihadapannya ini.
"Kamu sangat licik!! Sepertinya kamu cocok jika menjadi seorang Intelejen," ucap Gwen lalu terkekeh pelan seraya menepuk lengan Ansel dengan pelan.
*
*
"Ayolah Aiden! Berfikirlah dengan otakmu yang pintar ini." Aiden mondar-mandir diruang pribadinya dengan resah, sembari mengusap dagunya berulang kali.
"Haish!! Kenapa aku menjadi bodoh?!" umpat Aiden, dengan perasaan kesal dan juga marah.
Senin votenya mana? Jangan lupa likenya juga ya😘😘