
Tanpa mereka sadari ada dua orang menyelinap masuk ke dalam paviliun itu.
"Apa mereka tidak punya peredam suara?" tanya seorang pria, dengan wajah yang memerah karena merasa malu sendiri saat mendengarkan suara laknat itu.
"Aku rasa tidak, buktinya suara mereka bersahut-sahutan," jawab sang wanita. "Pulang saja, yuk!"
"Heh? Mau apa?" tanya sang pria dengan suara yang pelan.
"Aku jadi pengen tahu," jawab sang wanita sembari menarik tangan suaminya, keluar dari paviliun tersebut.
"Astaga, Mel! Kan, tadi udah," jawab pria tersebut yang tidak lain adakh Ansel.
"Iya, itu tadi. Bukan sekarang," jawab Melisa sembari mengerucutkan bibirnya kesal. Entah kenapa, ia tidak bisa menahan hawa nafsunya selama kehamilannya ini.
"Iya, tapi nanti kalau sudah bertemu dengan Sean dan Irene," ucap Ansel, seraya melepaskan tangan Melisa yang masih menariknya.
"Mereka masih lanjut kikuk-kikuk ronde kedua, masa kita harus menunggu mereka yang anu," ucap Melisa, sembari memasang telinganya, dan benar saja suara desahaan dan lenguhan kembali terdengar.
Glek
Ansel menelan ludahnya kasar saat suara laknat itu kembali terdengar. Sebagai pria normal, ia tentu saja menjadi terangsang dan si Jono yang bobok ganteng di dalam celananya sana mulai mengembang sempurna.
"Pulang dulu, yuk. Bertemu dengan Sean besok saja," ucap Ansel, seraya menarik tangan istrinya. Melisa tersenyum malu dibuatnya.
Tadinya Ansel ingin membicarakan hal yang serius dengan Sean, masalah usaha yang baru dirintis Sean. Ansel rencananya akan menanamkan saham di bengkel dan juga minimarket milik Sean, agar usaha saudaranya itu cepat berkembang. Namun niatnya itu harus tertunda saat mendengar suara laknat.
*
*
*
Ansel dan Melisa kembali ke rumah utama dengan tergesa, hasrat mereka sudah ada di ubun-ubun.
"Loh ... kenapa kalian cepat sekali bertemu dengan Sean?" tanya Jeje saat melihat anak dan menantunya memasuki rumah dengan tergesa.
"Tunggu!" Jeje menghentikan langkah mereka lagi.
Ansel mendesah kesal, dan memejamkan matanya sesaat, kepalanya mulai berdenyut karena hasratnya sudah mebumbung tinggi. Sedangkan Melisa menggigit bibir bawahnya dengan resah.
"Apa lagi ... Mom? Ada hal penting yang harus aku selesaikan," ucap Ansel. mulai gemas dengan sikap ibunya.
"Masalah penting apa?" tanya Jeje, menatap wajah putra dan menantunya yang terlihat gelisah.
"Panggilan alam! Mau buang air besar," jawab Ansel asal, lalu segera menarik istrinya menuju kamar mereka.
Jeje melongo saat mendengar jawaban putranya.
"Astaga, apakah di paviliun tidak ada kamar mandi? Dasar Ansel!" gerutu Jeje, sembari menggelengkan kepalanya berulang kali.
*
*
*
Ansel segera melucuti pakaiannya, saat sudah berada di dalam kamar, sedang Melisa pun melakukan hal yang sama. Tubuh kedua nya kini sudah polos tanpa sehelai benang.
Ansel langung menarik istrinya ke atas tempat tidur, dan merebahkannya disana. Ia segera mengungkung tubuh sexy istrinya itu, kemudian langsung menyambar bibir ranum istrinya dengan sangat rakus. Pergulatan panas itu pun dimulai, setelah Ansel melakukan foreplay yang membuat tubuh Melisa mengelinjang seperti cacing kepanasan. Suara desaahan dan lenguhan terdengar bersahutan, saat tubuh mereka sudah menyatu.
Ansel terus memacu tubuhnya diatas tubuh istrinya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia melumaat bibir istrinya, lalu menyesap pucuk dada Melisa bergantian.
" I love you, Mel," racau Ansel ketika akan sampai pelepasan.
Melisa terkejut saat mendengar Ansel mengucapkan kata cinta kepadanya. Ada rasa bahagia di dalam dada, "Love you too, Ans," jawab Melisa seraya tersenyum haru, sembari menatap wajah tampan Ansel yang masih mengungkungnya.
LIke-ya dong jangan lupa. Kok semakin kendor ya?