My Hot ART

My Hot ART
Calon bini?



"Oke! Jangan salahin aku, kalau aku ganti baju disini!"


GLEK


Sean menelan ludahnya dengan kasar, dan jangunnya naik turun tidak beraturan, dan seketika wajahnya berubah panik.


"Heh! Lo mau apa?" tanya Sean, saat melihat Irene akan membuka kaosnya.


"Mau ganti baju, mau apa lagi," jawab Irene cuek.


"EH! STOP! Enak saja mau buka baju sembarangan di depan cowok!! Nggak sopan banget lo!" kesal Sean, lalu merogoh kunci dari dalam kantong celananya dan segera membuka pintu kamar tersebut.


"Awas saja kalau lo berani kayak gini didepan cowok lain!" ancam Sean, sebelum keluar dari kamar Irene.


Irene tersenyum penuh kemenangan saat Sean sudah keluar dari kamarnya, kemudian ia menutup pintu kamarnya dan segera mengganti pakaiannya.


Sedangkan Sean mengumpat kesal saat sudah berada diluar kamar. Dia bisa saja memanfaatkan keadaan dengan bertahan dikamar Irene, akan tetapi akal sehatnya mulai berfungsi. Jika ia bertahan didalam kamar Irene, dia tidak akan bisa menahan hasratnya yang selama ini ia tahan.


Sean memang pria berengsek dan bajingan, tapi satu hal yang sudah ia tanamkan diotaknya adalah dia tidak akan merusak keperawanan seorang gadis. Sean menghindari hal itu.


Tidak berselang lama Irene keluar dari dalam kamar, sambil menenteng tas kerjanya.


Sean menoleh dan mengerutkan keningnya saat melihat Irene berdandan dan terlihat sangat cantik.


"Apa lihat-lihat!" ucap Irene terdengar sewot, sambil memutar kedua matanya dengan malas.


"Lo jelek!" jawab Sean asal, karena kesal dengan Irene yang terlihat cantik dan dalam pikirannya pasti banyak pasang mata pria yang menatap Irene penuh kekaguman.


"Bodo amat!" balas Irene cuek, lalu berjalan melewati Sean.


"Gue anter!" ucap Sean, langsung menarik tangan Irene keluar dari paviliun tersebut.


"Lepas Se!! Kamu ini maksa banget sih!" Irene berusaha melepaskan tangan Sean yang mencekal tangannya.


"Jangan banyak gerak, nanti lo jatuh. Gue ganti baju dan ambil kunci motor dulu," ucap Sean, lalu segera masuk kedalam paviliun lagi.


"Dasar pemaksa!" kesal Irene, ia ingin turun dari motor gede itu namun kesulitan dan akhirnya ia pasrah duduk manis diatas motor tersebut.


Tidak berselang lama Sean kembali kehalaman paviliun dan sudah berganti pakaian.


"Gitu dong jadi anak itu yang manis dan nurut," ucap Sean, seraya mengusap kepala Irene dengan gemas, hingga membuat rambut gadis itu berantakan.


"Sean! Berantakan lagi nih!" Protes Irene cemberut kesal, sembari menyisir rambutnya dengan lima jari tangannya.


"Sengaja," jawab Sean, yang sudah naik keatas motornya dan mulai menghidupkan mesin motor tersebut, dan segera melajukan motornya keluar dari Paviliun tersebut.


Sean melajukan motornya dengan kecepatan sedang, ia menikmati perjalanannya bersama Irene di pagi hari yang masih sejuk itu. Tidak berselang lama motor yang ia kendarai sudah sampai di tempat parkir Warjah Grub.


"Kok kamu turun disini?" tanya Irene, saat Sean turun dari motor dan membantunya turun juga.


"Ada urusan sama Aiden. Memangnya nggak boleh?" tanya Sean, lalu berjalan mendahului Irene.


Nggak akan gue biarin tuh para cowok jelalatan sama calon bini gue. Batin Sean, sambil tersenyum penuh arti.


Sedangkan Irene mengikuti Sean dari belakang tanpa rasa curiga sama sekali.


*


*


"Sean!!" seru seorang gadis saat mereka sudah sampai dilobi perusahaan tersebut. Sean menoleh dan tersenyum hangat. Sedangkan gadis itu langsung menghambur memeluk Sean.


"Kangen tahu, kamu kemana aja sih?" tanya gadis itu.


Sedangkan Irene hanya menghela nafasnya, menahan rasa sesak didada.