
Melisa segera menarik tangannya dan mengalihkan pandangannya. Sedangkan Ansel juga mengalihkan pandangannya seraya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Kecanggungan menerpa keduanya, membuat Melisa dan Ansel berdehem bersama.
Melisa tersenyum dan menoleh kearah Ansel. "Terima kasih," ucap Melisa, seraya mengangkat jarinya yang terluka.
"Iya," jawab Ansel singkat, tersenyum malu sembari mengusap tengkuknya, salah tingkah.
"Aku mau lanjut masak ...."
"Aku menunggu di depan ...."
Ansel dan Melisa berucap bersamaan, keduanya itu melempar senyuman canggung.
"Oke, lanjutkan memasaknya, perutku sudah lapar," ucap Ansel, segera berlalu dari sana menuju ruang tamu.
*
*
*
Setelah menunggu tidak terlalu lama, masakkan Melisa sudah matang dan disajikan di hadapan Ansel. "Maaf, hanya masakan rumahan, semoga anda menyukainya," ucap Melisa, seraya menyodorkan piring yang sudah terisi nasi, tumis kangkung dan tempe goreng kepada Ansel.
"Tidak apa-apa, ini sudah lebih dari cukup," jawab Ansel, menerima piring tersebut dengan senang hati. Selanjutnya kedua nya itu mulai memakan makan siang mereka. Ansel makan dengan lahap, membuat Melisa tersenyum melihatnya.
Makan siang sudah selesai, Melisa juga sudah membereskan bekas makan mereka dan saat ini sedang duduk bersama Ansel di ruang tamu.
Waktu terus bergulir, dan sore hari sudah menyapa, akan tetapi hujan tidak kunjung berhenti.
Ansel menatap teras rumah Melisa dari jendela kaca. "Airnya mulai naik kesini, Mel," ucap Ansel mulai panik.
"Benarkah?" Melisa beranjak dan melihat sendiri keadaan di luar. Melisa berdiri disamping Ansel dengan jarak yang sangat dekat. "Ya, ampun. Bisa banjir ini. Semoga hujannya cepat berhenti," gumam Melisa, seraya menggigit bibir bawahnya.
"Apa?" Melisa menoleh kearah Ansel dengan wajah yang bingung, karena ia tidak begitu jelas mendengar perkataan Ansel.
"Bibirmu jangan di gigit seperti itu." Ansel mengulangi ucapannya. Matanya terpaku melihat wajah cantik Melisa dan bibir ranum yang terlihat menggoda di matanya.
Melisa mengedipkan matanya berulang kali, lalu mengusap bibir sendiri dengan ibu jarinya. Bibir yang di usap itu terlihat sedikit terbuka, membuat Ansel semakin tidak tahan untuk mengecupnya.
"Mel ..."
"Hem?" Melisa menjawab dengan deheman, sambil menatap wajah tampan Ansel yang berjarak sangat dekat wajahnya.
"Kamu boleh menamparku setelah ini." Ucapan Ansel membuat Melisa mengernyit heran. Namun berberapa detik kemudian, matanya membola sempurna ketika Ansel menarik tengkuknya, bersamaan dengan mendaratkan ciuman lembut di permukaan bibirnya.
Kejadian itu sangat cepat, sehingga Melisa tidak sempat menghindar.
"Benar kata orang, jika janda itu lebih menggoda. Sial! Bibirnya sangat lembut sekali." batin Ansel, tidak tahan untuk mellumat dan menyesap bibir Melisa. Ia semakin menekan tengkuk wanita tersebut, dan mulai memperdalam ciumanya.
Mata Melisa semakin membola, ketika Ansel menyesap bibirnya atas bawah bergantian. Melisa memberontak, akan tetapi pergerakannya segera di kunci oleh Ansel. Ia di himpit ke dinding yang di dekat jendela.
Melisa merasakan desiran aneh yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia berusaha untuk menolak, akan tetapi tubuhnya merespon sentuhan Ansel. Dan tanpa sadar, ia mulai menggerakan bibirnya, membalas ciuman tersebut dengan lembut.
Ansel tersenyum di sela ciumannya. Ia seperti mendapatkan jackpot besar, ketika Melisa membalas ciumannya. Kemudian, ia menarik ke dua tangan Melisa dan mengalungkannya ke leher kokohnya.
Semakin memperdalam ciumannya, menyesap, mellumat dan berperang lidah. Bunyi decapan demi decapan memecah ke sunyian ruang tamu itu. Di tambah lagi, suasana sangat mendukung membuat kedua orang itu semakin terbakar gairah.
Melisa yang sudah lama tidak mendapatkan sentuhan dari seorang pria semenjak resmi bercerai, merespon dengan baik dan tubuhnya mulai memanas. Ia menginginkan hal yang lebih dari sekedar ciuman.
Gerahh banget, ya🤣🤣🤣🙈
Jangan lupa tinggalkan like dan kasih Vote ya.