
Hari berlalu begitu cepat dan tidak terasa sudah malam hari. Sean mengendarai kuda besinya menuju pulang ke rumah, tapi sebelum itu ia membeli martabak manis dan buah pisang pesanan istri tercintanya.
"Sean! Kenapa lama sekali!" Irene sudah berengut kesal kepada suaminya yang baru memarkirkan motor di halamam rumah.
Sean melepas helm full face-nya lalu turun dari motor sembari menenteng bungkusan martabak manis dan buah pisang. "Lo pikir beli martabak manis nggak antri apa!" jawab Sean, sembari menyerahkan martabak manis dan buah pisang kepada istrinya, dan di sambut Irene dengan berbinar, namun sedetik kemudian ia menekuk wajahnya saat melihat ekspresi suaminya yang sepertinya marah kepadanya.
"Ikhlas nggak!!" tanya Irene masih dengan wajah yang menekuk kesal.
"Ikhlas, sayang," ucap Sean lalu mengecup kening istrinya dan beralih mengusap perut buncit istrinya, seolah menyalurkan kasih sayangnya kepada anak dan juga istrinya.
"Ayo, masuk. Aku sudah masak makanan ke sukaan kamu," ajak Irene dengan senyuman yang merekah di bibir sembari menggandengan tangan suaminya yang kekar itu.
"Benarkah? Tapi gue mau makan lo dulu boleh nggak?" tanya Sean sembari menaik turunkan alisnya, saat istrinya mendongak memberikan tatapan tajam kepadanya.
"Cuma bercanda, Ren. Tajam banget lirikannya, setajam silet," ucap Sean pelan, namun masih di dengar oleh istrinya.
"Dasar tiang listrik!" umpat Irene, seraya melepaskan tangannya yang menggandeng tangan suaminya, berjalan mendahului menuju ruang makan.
"Tiang listrik begini juga di cintai oleh Irene yang mungil, lucu dan menggemaskan," jawab Sean, sembari mendudukkannya dirinya di kursi makan.
"Oh, iya, Ren. Kita di suruh ke rumah utama, menginap untuk beberapa hari di sana. Lo mau nggak?" tanya Sean kepada istrinya yang sedang menyiapkan makan malamnya.
"Siapa yang nyuruh?" tanya Irene, sembari menyodorkan sepiring nasi beserta teman-temannya kepada suaminya itu.
"Terima kasih, Bumil," ucap Sean, saat menerima sepiring nasi dari istrinya. "Mommy dan juga Daddy, tapi lewat perantara, Aiden yang mengatakannya tadi pagi kepadaku," jawab Sean, lalu mulai memakan makan malamnya dengan sangat lahap.
Sean meletakkan sendok dan garpunya secara perlahan lalu menengguk air putih yang ada di dalam gelas hingga tandas, kemudian ia menatap istrinya dengan dalam.
"Mungkin mereka masih merasa sungkan kepada kita, Ren. Mau ya, menginap di sana," pinta Sean, sembari menggenggam tangan istrinya penuh harap.
"Se, kamu ngerti 'kan dengan perasaan aku?" tanya Irene, membuat Sean terdiam bisu.
Irene segera beranjak dari duduknya, meninggalkan suaminya yang masih mematung di ruang makan. Menjadi istri dari seorang pria kaya dan terpandang di kotanya tidaklah mudah bagi Irene. Apalagi keluarga Clark yang beberapa waktu yang lalu selalu menuntut agar Sean mau kembali mengurus Warjah Grup, namun langsung di tolak mentah-mentah oleh Sean, dan dari sana lah hubungan mereka sedikit renggang sampai saat ini.
Sean mengusap wajahnya dengan kasar, lalu ikut beranjak dan mengikuti istrinya ke dalam kamar.
"Ren, gue ngerti perasaan lo yang masih merasa sakit karena waktu itu Mommy dan Daddy sempat emosi dan membentak lo, tapi percayalah mereka menyesal dengan sikap mereka yang sudah sangat keterlaluan," ucap Sean sembari memeluk istrinya dari belakang.
Irene mengangguk pelan, mengerti ucapan suaminya.
"Maafkan aku ya, Se. Aku terlalu sensitif menanggapinya," jawab Irene dengan suara yang bergetar, menahan tangisnya.
Sean semakin mengeratkan pelukannya, sembari mengelus perut istrinya yang buncit itu.
"Ayo, kita menginap di sana," ajak Irene, sembari membalikkan badannya dan mendongak menatap suaminya.
"Besok saja ya, ini sudah malam," ucap Sean, dan di angguki oleh Irene.
Jangan lupa, kasih like dan Vote ya. ❤❤