
Sedangkan Nathan dan Kirana yang berada didalam kamar sangat terkejut saat mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras.
"Mas... ah ... Itu emmhh ... apa itu Aiden? Apa dia mendengar suara kita ahhh .. Mas .. " ucap Kirana dengan susah payah sela dessahannya. Ditambah lagi Nathan terus menghujamnya sampai titik yang paling dalam, membuatnya merem melek keenakan.
"Mungkin," jawab Nathan singkat, lalu menundukkan kepalanya dan menyesap pucuk dada itu bergantian lalu beralih melummat bibir Kirana dengan buas sambil terus menghujam bagian inti istrinya dengan kecepatan sedang.
"Mas, aku malu," ucap Kirana, sambil memejamkan matanya dan meremat pundak suaminya saat gelombang kenikmatan itu akan menggantam dirinya.
"Iya, nanti Mas pasang peredam suara," jawab Nathan, sambil menggeram tertahan saat ia merasakan miliknya terasa dipijit dan diurut.
Nikmat!
Terasa sangat nikmat sekali, hingga membuat dirinya kecanduan dengan tubuh istrinya ini.
"Ah, Sayang. Kamu sangat nikmat," racau Nathan, dan semakin mempercepat gerakkannya saat dirinya akan mencapai pelepasan.
Tidak berselang lama keduanya itu mengerang panjang, mencapai pelepasan bersama.
Nathan mencium seluruh wajah Kirana sebagai ungkapan rasa terima kasih.
"Aku lelah, Mas. Cabut punya kamu!" Kirana mendorong dada bidang Nathan. Tubuhnya terasa sangat remuk dan letih.
Bagaimana tidak? Jika suaminya itu terus minta jatah sehari tiga kali bahkan kadang lebih. Dan lebih parahnya lagi saat jam makan siang, Nathan rela pulang kerumah untuk minta jatah mengadon bayi. Kirana tidak mampu menolak keinginan suaminya itu, ia hanya bisa pasrah dan mendessah dibawah kungkungan suaminya.
"Nanti dulu, Dek. Mas ingin memastikan pasukan kecebongku masuk seluruhnya kedalam rahimmu," jawab Nathan absurd, lalu mengecup bibir Kiran sekilas.
Nathan berharap jika istrinya ini segera hamil karena dia sudah tidak sabar untuk menggendong bayi mungil.
"Ya ampun, Mas! Kamu pikir kodok apa?!" tanya Kirana sedikit kesal.
Nathan hanya tersenyum saja menanggapinya, kemudian ia mencabut pedang pamungkasnya. Dan menggulingkan badannya kesamping Kirana.
"Semua tergantung sama si kecil," jawab Nathan mambuat Kirana mengerutkan keningnya.
"Si kecil siapa?" tanya Kirana.
"Tuh, yang lagi bobok ganteng," jawab Nathan seraya menunjuk pedang pamungkasnya yang meringkuk dibawah sana.
Kirana membulatkan mulutnya lalu memukul lengan Nathan dengan gemas. "Dasar mesum!"
Nathan tergelak dibuatnya, lalu memeluk tubuh Kirana yang masih berpeluh itu dengan erat. "Dia tidak bisa diajak kompromi. Berada didekatmu saja langsung On. Jadi kalau tidak dituntaskan kepalaku terasa sangat pusing, Dek," jawab Nathan, apa adanya.
"Heleh, alasan banget, sih."
"Serius, Sayang. Sinyalmu sangat kuat, lagi pula kita ini sudah menikah jadi mau sehari sepuluh kali pun tidak masalah," jawab Nathan sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum mesum.
"Kamu ingin membuatku tidak bisa berjalan ya!" Kirana menjauhkan dirinya dari dekapan suaminya.
Nathan tertawa menanggapinya, lalu mulai mengungkung tubuh istrinya. "Lagi, yuk!" ajak Nathan, dan mulai menyerang bibir istrinya tanpa ampun.
Sedangkan Kirana yang tidak sempat menolak hanya bisa pasrah dan menerima kenikmatan yang diberikan suaminya.
Ronde kedua di siang hari yang panas itu pun dimulai. Pengantin baru itu menyalurkan hasratnya tanpa ada rasa lelah sama sekali seolah tidak ada hari esok lagi.
Please banget untuk silent Readers, tolong beri like setelah selesai membaca. Satu like sangat berarti untuk Emak. ❤
Pembacanya banyak tapi likenya dikit banget, ayolah kasih like buat emak yang solehah ini, sebagai apresiasi kalian untuk karya emak❤