
Hai hadir kembali, seperti biasa mau banyak up siapin hadiah buat emak ya. Thank you.❤
Irene kesusahan menaiki motor Sean yang tinggi itu, berkali-kali ia mencoba namun tetap tidak bisa, apa lagi saat ini dirinya memakai rok pendek membuatnya semakin kesulitan.
Sean berdecak kesal melihatnya, kemudian ia turun dari motornya dan menatap Iren dengan malas.
"Makanya jadi orang itu yang tinggi!" ucap Sean diiringi dengan decakan kesal, sambil menatap Irene yang tingginya hanya sebatas dadanya.
Irene memanyunkan bibirnya lucu dan memutar kedua bola matanya malas. Ditambah lagi kacamata yang membingkai matanya itu melorot dari hidung mungilnya membuat irene terlihat semakin lucu, bahkan Sean harus menahan tawanya.
"Aku ini sudah tinggi tahu!" jawab Irene kesal.
"145 cm lo bilang tinggi?" Sean menggeleng pelan lalu tertawa terbahak. "Dasar pendek!" lanjut Sean, lalu tergelak keras lagi.
"IH!" Irene semakin berengut sambil menghentakkan kedua kakinya dengan kesall, tidak terima dikatakan 'pendek.'
"Nggak jadi pulang sama kamu! Nyebelin!" kesal Irene lalu segera beranjak dari hadapan Sean, namun langkahnya tertahan saat Sean mencekal tangannya, lalu mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya diatas jok motor.
Irene memekik tertahan saat merasakan merasakan tubuhnya melayang. "Sean!!" seru Irene, saat dirinya sudah berada duduk diatas motor.
"Apa?" tanya Sean, lalu pandangannya menatap paha Irene yang terekspos, kemudian ia melepaskan jaketnya dan memberikannya kepada Irene.
"Buat apa?" tanya Irene, saat Sean memberikan jaket kulit berwarna hitam itu kepadanya.
"Memang lo mau memperlihatkan paha burik lo kesemua orang?" tanya Sean dan menatap kesal Irene.
Seketika itu Irene langsung menarik ujung rok-nya, lalu menyambar jeket Sean untuk menutupi kedua pahanya yang putih dan mulus itu.
"Kamu kalau ngomong sembarangan ya! Pahaku ini putih dan mulus!" kesal Irene, sambil membetulkan jaket Sean agar menutupi pahanya dengan sempurna.
"Cih! Nggak tertarik gue! Lagian body lo nggak menarik sama sekali! Kayak papan triplek!" jawab Sean, lalu segera menaiki motornya.
"Pegangan!" ucaap Sean, saat ia akan menancap gas motornya..
"Nggak!" jawab Irene, kedua tangannya bersedekap didada.
"Terserah!" balas Sean, lalu melajukan motornya dengan kecepatan penuh.
Ngenggggggg .... Wushhhhhhhhhh
Anggap aja suara motor dan anginnya. 🤣
"Sean!!!!"pekik Irene ketakutan, lalu dengan reflek ia memeluk punggung Sean dengan erat.
Rasain! Dasar cewek rese! Batin Sean, tersenyum puas didalam hati.
"Pelan-pelan! Kamu mau kita celaka? Mana nggak pakai helm lagi!" Iren berbicara sedikit keras dan menggerutu kesal, kedua tangannya semakin erat melingkar diperut Sean.
"Ah, sial!! Sinyal lo kuat banget sih Jon!" Sean menggeram kesal saat merasakan miliknya tegak berdiri dibawah sana, padahal Irene tidak melakukan apapun, hanya memeluk perutnya saja, ditambah lagi benda kenyal milik Irene menempel dipunggungya begitu terasa, membuat kepala Sean semakin pusing.
"Bisa longgarin tangan lo nggak?" Sean melepaskan tangan Irene yang melingkar diperutnya.
"Nggak, aku takut." Irene semakin mengeratkan tangannya, membuat Sean mengumpat kesal.
"Please Irene! Lo nggak mau kalau gue khilaf 'kan?" Sean melambatkan laju motornya dan melepaskan tangan Irene lagi.
Irene langsung melepaskan tangannya, karena dia tahu maksud dari ucapan Sean. "Bilangnya nggak nafsu sama cewek triplek kayak aku, tapi kenyataannya punya kamu berdiri tegak," ledek Irene.
"CK!" Sean hanya berdecak kesal, menahan rasa malunya karena ketahuan Mupeng.
Sean kamu bikin emak pengen gigit pipi kamu saking gemesh nya🤣😘