My Hot ART

My Hot ART
French Kiss



Suasana di meja makan itu tampak hening, saat kehadiran Gwen dan Aiden yang baru bergabung disana. "Ada apa?" Gwen bertanya dengan penuh kegugupan, ketika seluruh anggota keluarga menatapnya dengan aneh.


Krik


Krik


Krik


Hanya keheningan saja yang melanda, hingga terpecah, ketika Aiden berdehem keras, seraya mengusap tengkuknya.


"Emh, kenapa kalian menatap kami seperti itu?" Aiden memberanikan diri untuk bertanya.


Xander menoleh lalu menundukkan kepalanya, seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Apa aku akan mendapatkan cucu kedua?" Xander memberikan pertanyaan yang membuat Gwen dan juga Aiden mengernyit heran.


Emanuel menggenggam tangan istrinya yang ada diatas pangkuan, sembari berbisik 'semua akan baik-baik saja.'


"Ya, ampun Gwen, apakah kalian sudah berbuat sejauh itu? Padahal kamu baru dilamar kemarin," celetuk Ansel, langsung mendapat tendangan maut dari bawah kolong meja, dan pelakunya adalah Nathan. Ansel, meringis dan menahan sakit ditulang keringnya.


"Eh, tunggu, apa yang kalian bicarakan?" tanya Gwen dan Aiden bersamaan.


Kirana yang duduk disamping Nathan mengisyaratkan menujuk lehernya sendiri.


Gwen yang mengerti akan kode itu pun langsung mengusap lehernya, dan seketika itu ia tersedar jika dilehernya ada dua jejak tanda cinta dari Aiden.


"Ah, mati aku!" batin Gwen, menangis.


"Jadi ....?" Xander menunggu penjelasan kedua pasangan yang sedang di mabuk cinta itu.


"Semua yang disini jangan salah paham, aku ... aku ... ." Gwen tidak mempunyai alasan yang tepat, matanya melirik Aiden yang terlihat tenang dan santai sambil mengunyah roti.


Aiden meminum susunya hingga tandas, setelah itu ia mengambil tisu untuk mengelap sudut bibirnya. Semua pergerakan Aiden tidak luput dari penglihatan Gwen. Gadis itu menggeram kesal, dan mengeraskan rahangnya, ingin sekali ia menjedotkan kepala Aiden di meja makan.


Gwen menutupi wajahnya yang bersemu merah dengan tas sekolahnya, dan segera berlalu dari sana mengejar Aiden untuk meminta penjelasan.


"What the ... ." Ansel ternganga ketika mendengar jawaban dari Aiden.


"Oh My God!" Nathan menepuk jidatnya dengan keras saat tahu tingkah gila saudara kembarnya, namun ia mengakui jika Aiden adalah pria sejati yang berani mengakui perbautannya.


"Pi, sepertinya kita harus segera keluar dari rumah ini," pinta Fika kepada suaminya.


"Iya, bisa-bisa, Intan Permataku kebobol lebih dulu." Emanuel menyetujui ucapan istrinya.


"Daddy! Kelakuan Aiden sangat persis denganmu," ucap Jeje, sembari mengelus tangan Xander.


Xander yang juga masih tercengang kini menoleh dan menatap istrinya. "Benarkah, seperti itu?" Xander berkata seolah tidak percaya, membuat Jeje mencebik kesal.


*


*


*


"Aiden! Kenapa kamu berkata seperti itu?!" protes Gwen ketika sudah erada didalam mobil tepatnya sudah mendudukan diri di samping Aiden.


"Seperti itu bagaimana?" tanya Aiden, sembari menyalakan mesin mobilnya.


"Kamu ini memang pria tidak peka, dasar batu es!" umpat Gwen, merasa kesal dan juga sangat malu bercampur menjadi satu.


"Aku 'kan hanya mengatakan yang sebenarnya, apa salah? Lagi pula, jika kita mengelak mereka tidak akan percaya dan akan tetap menyudutkan. Kamu seperti tidak hafal dengan sikap Daddy dan Mommy," jawab Aiden. Menekan pedal gas mobilnya, melajukan dengan kecepatan sedang keluar dari gerbang rumah tersebut.


Gwen menganggukkan kepalanya berulang kali, kemudian menggeleng pelan. Aiden terkekeh melihat tingkah lucu Gwen, lalu mengusak pucuk kepala Gwen dengan tangan kirinya, gemas.


Sawerannya, like-nya jangan lupa🤣🤣