My Hot ART

My Hot ART
Sudah 1 bulan lebih



Sampai dir rumah sakit, tepatnya di depan ruang praktek Dokter Ricky. Sean dan Irene mengantri di kursi tunggu. "Aku takut jika hasilnya mengecewakan," ucap Irene sembari menggenggam tangan Sean dengan erat.


"Tidak apa-apa mau hasilnya seperti apa. Gue tidak menuntut lo untuk hamil cepat," jawab Sean, sembari mengusap punggung tangan istrinya. "Tapi kalau hasilnya nanti negatif, kita bisa berusaha lebih keras lagi," lanjut Sean dengan wajah mesumnya.


Irene mendengus kesal, namun beberapa saat kemudian ia mengangguk malu. "Aku yang sudah tidak sabar ingin punya baby," jawab Irene. Obrolan mereka terhenti saat mendengar suara seseorang yang di kenalinya.


"Loh, kalian juga disini?" tanya seorang pria yang wajahnya mirip dengan Sean.


Sean dan Irene menoleh dan terkejut saat melihat Ansel dan Melisa juga berada disana.


"Bini lo hamil?" tanya Sean dan diangguki oleh Ansel dengan senyuman bahagia.


"Sudah di tespeck tadi pagi, dan hasilnya positif. Ini mau cek kandungannya," jelas Ansel, yang mendudukkan diri disamping Sean, dan di ikuti oleh istrinya.


"Wah, selamat ya Mel." Sean dan Irene mengucapkan selamat bersamaan kepada Melisa.


"Iya, terima kasih," jawab Melisa seraya tersenyum bahagia.


"Kalau kalian?" Ansel bergantian bertanya.


"Belum tespeck, tapi gue yakin kalau Irene hamil karena sudah dua bulan tidak berhalangan," jawab Sean.


"Semoga hasilnya positif ya, Ren," ucap Melisa dan diaminkan oleh Irene.


"Iya, nanti rumah jadi semakin ramai." Ansel menanggapi seraya terseyum bahagia.


"Mommy dan Daddy sudah tahu kalau Melisa hamil?" tanya Sean, dan di jawab gelengan dari Ansel.


"Sengaja nggak ngasih tahu, karena ingin memastikannya lebih dulu. Bagaimana kalau kita memberi tahunya bersamaan? Ini akan menjadi kejutan untuk kedua orang tua kita," ucap Ansel, dan diangguki oleh Sean bertanda setuju.


Tidak berselang lama, nama Irene di panggil oleh perawat, bertanda jika gilirannya di periksa oleh Dokter.


"Barengan saja," ucap Irene, sembari menarik tangan Melisa.


"Memangnya boleh?" Melisa beranjak sembari memperhatikan sekelilingnya, dimana banyak ibu hamil yang turut menunggu antrian.


"Boleh," jawab Ansel, lalu berbicara kepada perawat yang ada disana.


*


*


*


Sean mendengus kesal, sedangkan Ansel tersenyum mesem. Dan istri mereka tersenyum malu.


"Ayo silahkan duduk dulu." Dokter Ricky mempersilahkan pasiennya duduk di kursi yang berseberangan dengan mejanya. Irene dan Melisa duduk dikursi, sedangkan sang suami berdiri di belakang mereka.


"Siapa dulu yang mau di periksa?" tanyanya, sembari menatap dua wanita cantik yang ada di hadapannya.


"Terserah yang mana dulu," jawab Irene di iringi dengan senyuman.


"Baiklah."


*


*


*


"Kamu ini sebenarnya kenapa Gwen?" tanya Fika kepada putrinya yang mual saat baru duduk di ruang makan. Fika yang duduk di samping putrinya pun langsung memijat tengkuk putrinya.


"Nggak tahu, Ma. Aku mual mencium bau ayam goreng itu," jawab Gwen, sembari menutup mulutnya, dan menunjuk ayam goreng kremes yang tersaji diatas meja.


"Apa? Mual mencium bau ayam goreng?" beo Fika. Pikirannya langsung negatif, dan lalu memegang kedua bahu putrinya dan menghadapkan kearahnya.


"Terus apa lagi yang kamu rasakan?" Fika menatap putrinya dengan menyelidik.


"Mual dan pusing, Ma. Itu saja," jawab Gwen, masih menutupi mulut dan hidungnya.


"Sudah berapa lama?" tanya Fika lagi.


"Sudah satu minggu ini. Tapi, hari ini yang terparah. Jangan mengkhawatirkan aku, Ma. Hanya masuk angin biasa," jawab Gwen, menatap wajah ibunya yang terlihat risau.


Namun Fika tidak mendengarkan putrinya. "Katakan kepada Mama, apakah kamu telat datang bulan?!" tanyanya dengan tegas, dan tatapan matanya menyalang.


"Iya, sudah 1 bulan lebih. Apa hubungannya?" Gwen menjawab dengan jujur, namun juga berkerut bingung, karena ibunya tampak marah.


Jeng .... Jeng ... Jeng ..


Likenya kok udah kendor ya? Please banget dong, jangan lupa kasih likenya😭