
Setelah dirinya merasa tenang, barulah ia keluar dari toilet dengan wajah yang lebih segar.
"Lama banget?" tanya Ansel saat melihat Aiden, kembali duduk di kursinya.
"Biasa setor," jawab Aiden beralasan, lalu fokus kepekerjaannya tanpa mau menatap kearah Nathan dan Kirana.
Tidak berselang lama Oma Airin, Jeje, Irene dan Sean memasuki ruangan Aiden.
Wajah Sean terlihat berengut kesal, tidak seperti Irene yang sejak tadi terus tersenyum.
"Kenapa wajahmu seperti itu??" tanya Aiden kepada Sean.
"Hukumanmu nggak ditambah lagi 'kan?" lanjut Nathan yang bertanya.
Sean mendengus kesal lalu mendudukan diri disamping Ansel dengan malas.
"Dih! Ditanyain malah kayak gitu! Punya telinga nggak sih?" kesal Ansel, lalu menonyor kepala Sean dengan kencang.
"Berisik lo!" kesal Sean.
Jeje dan Oma Airin terkekeh geli saat melihat tingkah Sean yang sedang merajuk.
"Sean sedang merajuk karena Irene tidak mau diajak nikah secepatnya," jelas Jeje, membuat semua orang disana terkejut, termasuk Aiden yang tidak kalah terkejutnya karena diam-diam Sekretarisnya itu mempunyai hubungan dengan saudaranya.
Sedangkan Irene yang duduk disamping Oma Airin mesam-mesem melihat tingkah Sean yang seperti anak kecil. Ia menjadi teringat dengan kejadian diruangannya beberapa saat yang lalu.
Flasback On
"Segelmu belum dibuka sama anak bangor ini, kan?" tanya Oma Airin tidak berfilter.
"Belum Oma," jawab Irene dengan cepat.
"Benarkah? Kamu masih ting-ting?" lanjut Jeje, merasa lega. Dan Irene mengangguk dengan mantap.
"Gimana mau bobol segelnya kalau nyetuh saja nggak boleh!" gerutu Sean, cemberut kesal.
Oma Airin dan Jeje saling pandang lalu bersorak bersama, setelah itu memeluk Irene bersamaan juga, membuat Irene menjadi heran dengan tingkah Absurd Oma Airin dan Jeje.
Jeje pun melakukan hal yang sama, lalu berkata. "Selamat juga kamu resmi jadi calon menantu keluarga Clark," seru Jeje sambil bertepuk tangan heboh.
Irene mengerutkan keningnya sambil tersenyum meringis, sedangkan Sean mengusap wajahnya kasar seraya berdecak kesal saat melihat tingkah absurd Ibu dan omannya itu.
"Lalu kapan kalian menikah?" tanya Oma Airin menatap Iren dan Sean bergantian.
Sean tersenyum sumpringah, dan ia tidak akan melewatkan kesempatan ini.
"Secepatnya, Oma," jawab Sean dengan cepat.
"Apa?! Enak saja! Aku nggak setuju!" Irene tidka setuju.
"Loh memang kenapa? Aku kaya dan mapan, tunggu apa lagi?" tanya Sean, membanggakan diri.
"Yakin kaya dan mapan? Coba buka dompetmu ada berapa uangnya," jawab Irene.
Sean cemberut kesal dan kalah telak dengan Irene.
Oma Airin dan Jeje menahan tawanya saat melihat ekpresi wajah Sean. Mereka tidak menyangka jika Sean yang brengsek akan mendapatkan gadis baik dan cerdas seperti Irene.
"Nggak ada yang perlu kamu banggakan, karena yang kamu miliki punya orang tua kamu. Jadi aku ingin, kita menikah jika kamu sudah punya uang yang cukup itupun harus menggunakan hasil kerja kerasmu sendiri," ucapan Irene semakin membuat Sean lemas seketika.
"Ah, ya ampun. Walau pun badanmu kecil dan hidungmu mungil tapi kamu sangat cerdas sekali," ucap Oma Airin tidak berfilter, sembari mencubit kedua pipi Irene dengan gemas.
"Dengankan Irene, Se. Jadi kamu harus kerja keras lagi untuk segera menghalalkan Irene. Sepadanlah sama kerja keras kamu yang akan mendapatkan perawan," lanjut Jeje menyemangati putranya.
Flashback off
"Ren! Melamun saja." Oma Airin menyenggol tangan Irene yang sejak tadi terlihat melamun.
"Eh! Maaf Oma," jawab Irene setelah tesadar, lalu mengendarkan matanya dengan tatapan bingung. Karena semua orang yang ada disana menatap dirinya sambil mengacungkan dua jempolnya masing-masing, kecuali Sean yang terlihat lesu.
"Kami sudah tahu alasanmu tidak ingin buru-buru menikah dengan Sean. Tadi Mommy sudah menjelaskannya kepada kami, saat kamu melamun," jelas Ansel yang peka saat melihat wajah Irene terlihat bingung.