My Hot ART

My Hot ART
Bonus Chapter 7



Warning, aja ya! Udah tahu kan?


"I Love You, So much," ucap Sean, sebelum mendaratkan ciuman mesra, lembut namun sangat menggairahkan di permukaan bibir istrinya.


"Emmpphh." Irene melenguh tertahan, dua gunung kembarnya diremat Sean bergantian. Rasa nikmat dan gairah mulai menjalar keseluruh persendiannya. Ia merindukan sentuhan, jamahan dan belaian suaminya yang begitu memabukkan.


"Ahh..." Desahann lolos dari bibir Irene, saat ciuman itu terlepas. Bibir Sean kini beralih mencium dan menjilat ceruk leher Irene yang jenjang, putih dan mulus itu. Dan ciuman di leher itu semakin turun lagi, dan berhenti tepat di daerah pegunungan kembar yang dipucuknya ada buah ceri yang sangat menggoda. Ia melahapnya dengan sangat rakus dan bergantian. Tidak lupa ia meninggalkan jejak pendakian agar tidak tersesat saat menuju arah pulang.


"Sean ... ahh ..." Irene menjambak rambut Sean dan menekan kepala Sean, agar suaminya itu menghisap pucuk dadanya lebih kuat lagi.


Tubuh Irene menggelinjang, dan terus mendesaah tidak karuan saat bagian dadanya dimainkan oleh suaminya.


Setelah puas bermain di daerah pegunungan, ciuman Sean kini turun ke lembah yang di tumbuhi rerumputan hitam dan tipis, namun terlihat sangat rapih.


Lagi-lagi Irene menggelinjang dan mendesaah manjah, saat Sean meniup lembahnya, terasa dingin namun sangat nikmat dan menggelora ke dalam jiwanya.


Sean memandangi lembah yang mempunyai celah berwarna pink ke coklatan itu dengan penuh nafssu. Lembah yang itu sudah terlihat sangat basah, aroma khas dari lembah itu semakin ketara, membuat dirinya semakin tidak sabar untuk menikmatinya.


"Ahhhh ...." Irene mendessah panjang, seraya membelalakkan matanya saat Sean ******* sesuatu dibawah sana. Bahkan ia sampai meremat sprei di bawah telapak tangannya dengan kuat.


Gila, ini sangat nikmat sekali!


Irene semakin membuka kakinya dengan lebar, agar Sean lebih leluasa untuk menikmati lembahnya. Ia menekan kepala Sean agar lebih dalam memainkan lembahnya. "Sean ... Fu*ck Me," pinta Irene yang sudah sangat ngos-ngosan. Ia tidak tahan lagi, ia ingin segera di masuki oleh Si Joni.


Sean menjauhkan wajahnya dari lembah yang sudah banjir itu. Ia mengusap bibirnya yang basah karena cairan pelepasan istrinya, kemudian merangkak naik, mengungkung tubuh istrinya lagi.


"Sakit, Se." Irene meringis sakit, saat senjata suaminya sudah tertanam di dalam miliknya dengan sempurna. Mungkin karena sudah satu bulan tidak di gunakan, miliknya kembali mengecil.


"Sakitnya hanya sebentar. Oh, Gost! Ini sangat nikmat," racau Sean, sembari menaik turunkan pinggulnya dengan kecepatan penuh.


Irene mengerang dan mendeesah, rasa sakit di miliknya kini tergatikan rasa nikmat yang luar biasa. "Pelan-pelan, ada anak kita di dalam sana." Irene mengingatkan saat Sean menggerakkan tubuhnya semakin buas.


"Sory," ucap Sean, seraya menurunkan kecepatannya, dan berubah menjadi sangat lembut dan membuat candu.


"I Love You, Sean," racau Irene saat kenikmatan itu menghantam tubuhnya.


Desahaan dan lenguhan terdengar memenuhi kamar sederhana dan tidak terlalu besar itu. Cukup lama mereka bercinta dengan berbagai gaya, akhirnya keduanya sampai pelepasan bersama.


"Huh!" Sean menarik nafas panjang, merasa puas karena hasratnya yang sudah satu bulan terpendam, kini tersalurkan. Ia mengecup bibir mungil istrinya berulang kali sebagai tanda terima kasih.


Tanpa mereka sadari ada dua orang menyelinap masuk ke dalam paviliun itu.


"Apa mereka tidak punya peredam suara?"


...****************...


Jangan lupa likenya dan votenya ya. Sembari nunggu boncap mampir ke karya baru Emak, Menggenggam rindu (Sebuah Penantian)