My Hot ART

My Hot ART
Tidak terduga



Ia menghentikan motornya tepat dihadapan gadis itu. Membuat gadis yang sedang berdiri dan menundukan kepala kini menatapnya tidak percaya.


"Pak ...."


"Lo Irene 'kan?" potong Sean, lalu turun dari motornya dan menghampiri gadis tersebut.


"Ck ... Ck ...Ck .... ." Berdecak berulang kali, sembari menelisik penampilan gadis tersebut yang terlihat sexy dengan mini dress yang membalut tubuh ramping itu.


Gadis tersebut semakin menundukkan kepalanya dan menarik ujung dressnya yang panjangnya hanya sejengkal dari pangkal paha.


"Pak, jangan menatap saya seperti itu," pintanya dengan lirih dan masih menundukkan kepalanya.


"Memang kenapa? Mata-mata gue ini!" jawab Sean, masih menatap tubuh sexy gadis tersebut.


"Tapi, Bapak tidak sopan!" jawabnya dengan nada bergetar takut.


"Tidak sopan? Terus lo berpakaian seperti ini sopan? Iya?!" tanya Sean balik. "Nggak nyangka gue sama cewek culun kayak lo ternyata ....." Sean tidak melanjutkan ucapannya, namun sorot mata tajamnya seolah menelanjangi gadis tersebut.


"Saya tidak seperti yang Bapak pikirkan!" jawabnya dengan lantang karena ia tahu yang sedang dipikirkan pria yang ada dihadapannya ini.


Sean memainkan lidahnya dilangit-langit mulutnya, seraya menatap sinis gadis yang ada dihadapanya ini.


Gadis itu mendongak menatap Sean dengan berkaca-kaca. Lalu menundukkan kepalanya kembali, seraya menghela nafas panjang.


Sean melihat begitu banyak luka dibalik mata indah yang sedang berkaca-kaca itu, lalu ia menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Sorry," ucap Sean, lalu memalingkan wajahnya.


Gadis itu menganggukkan kepalanya dengan pelan, lalu beranjak dari sana. Namun tangannya dicekal oleh Sean.


"Mau kemana? Biar gue antar," ucap Sean, dengan nada yang melemah.


Gadis itu menatap pergelangan tangannya yang dicekal oleh Sean, lalu melepaskannya secara perlahan. "Tidak perlu, Pak!"


"Ck! Nggak lihat ini jam berapa? Sudah tengah malam! Lo mau kemana? Ngelon•te?!" tanya Sean, menjadi kesal dengan gadis yang kerap disapa Irene.


Irene nampak menghembuskan nafasnya berulang kali, seraya menelan ludahnya dengan kasar. Lalu ia menatap Sean dengan sengit. "Kalau iya memang kenapa?? Masalah buat Bapak?!"


Sean tersenyun miring. "Berapa harga lo semalam?! Gue Boking!" tanya Sean sangat menohok dihati Irene. Sean hanya menguji gadis tersebut dan tidak serius dengan perkataannya. Karena ia tahu jika Irene adalah gadis baik-baik dan tidak mungkin menjalani pekerjaan yang hina itu.


"Lah, apa salah gue?" Sean menunjuk dirinya sendiri.


Irene tidak menjawab malah semakin menangis histeris. Membuat Sean bingung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hei!! Stttt! Diam .... Diam ... ." Sean menempelkan jari telunjuknya didepan bibirnya, sembari menatap disekitarnya berharap tidak orang yang melihat Irene menangis.


Bukannya diam, Irene malah semakin menangis kencang. Membuat Sean tidak ada pilihan lain, memeluk gadis tersebut dengan erat.


"Sttt ... ." Sean memeluk gadis itu sembari mengusap punggung Irene dengan lembut, memberikan ketenangan disana.


"Dunia ini tidak adil sama aku! Semua orang disekitarku kejam!! Bahkan orang tuaku sendiri saja ingin menjualku!" ucap Irene sesegukan dibalik pelukan itu.


Sean tentu saja terkejut dengan pengakuan gadis tersebut, lalu ia melonggarkan pelukannya dan menatap gadis yang biasanya memakai kaca mata tebal itu kini terlihat cantik dengan polesan make-up tipis.


"Lo bilang apa tadi? Lo mau dijual sama orang tua lo sendiri?" tanya Sean, sembari memegang pundak gadis tersebut.


Irene mengangguk pelan dan masih terisak perih.


"Ayah ingin menjualku di Club malam, untungnya aku bisa kabur dan berakhirlah di halte bus ini," jelas Irene lagi, dengan suara bergetar.


Sean memejamkan matanya dengan erat, dan ia mengumpat kesal didalam hati.


"Orang tua lo nggak punya otak ya!" maki Sean dan terus mengumpat kesal.


"Ayah tiri, beliau ayah tiriku."


Sean menggelengkan kepalanya berulang kali, sembari berkacak pinggang.


"Terus lo mau kemana?" tanya Sean, seraya menatap Irene penuh iba.


"Aku tidak tahu," cicit Irene. Ia takut jika kembali kerumah, ayahnya akan menjualnya lagi ke pria hidung belang.


Sean terdiam sambil berpikir. Walaun pun dirinya pria bejat tapi dia masih punya hati dan perasaan untuk menolong sesama.


Kira-kira apa yang akan dilakukan Sean untuk Irene?