My Hot ART

My Hot ART
Ada cewek cantik!



Xander, Jeje dan Bapak, juga Ibu menyalami tamu undangan yang hadir. Mereka terus menebar senyuman walau rasa lelah mulai mendera tubuh mereka.


"Oh! Jadi ini besan kamu? Kayak gini saja di sebut kaya! Pakai baju batik yang harganya murah, cih!" ucap seorang wanita paruh baya yang berdandan menor dan memakai banyak perhiasaan di tubuhnya, persis seperti toko emas berjalan.


Ya, keluarga Clark memang memakai baju baju batik dengan corak yang sama, begitu pula dengan Bapak dan Ibu.


Xander dan Jeje saling pandang, kemudian menatap wanita itu lagi. Sedangkan Bapak sudah ingin meluapkan emosinya namun ditahan oleh Ibu.


"Anda siapa?" tanya Jeje masih berkata dengan sopan.


"Aku? Tentu saja orang terkaya di kampung ini, dan ini putraku Rudi," jawabnya dengan sombong, sembari mengenalkan putranya yang berdiri di sampingnya.


"Mantannya Kirana!" lanjutnya lagi dengan nada ketus.


Xander dan Jeje menganggukkan kepalanya bersamaan, sekarang mereka tahu siapa yang kini dihadapi.


"Oh! Jadi ini keluarga terkaya di Desa ini? Yang selalu menghina para warga? Dan selalu menyombongkan kekayaannya?" tanya Jeje dengan lembut tapi cukup menohok di hati wanita tersebut dan menjadi malu sendiri.


Wanita itu melengos sembari mengipasi wajahnya dengan kipas yang ada di tangannya, lalu segera berlalu dari sana sambil menarik tangan putranya.


"Buk, aku ingin ketemu Kirana, aku ndak ikhlas kalau dia menikah sama orang bule itu!" protes Rudi.


"Halah! Wes ora jodohmu! Nanti Ibu carikan janda kembang yang ada di Desa sebelah!" sahut Ibunya dengan kesal, terus menarik tangan putranya keluar dari acara pernikahan itu.


Jeje menggelengkan kepalanya, saat melihat wanita sombong itu.


"Terima kasih, Je, sudah mengusir manusia sombong itu," ucap Ibu kepada Jeje.


"Sudah jangan di pikirkan, karena ini adalah hari bahagia kita semua," sela Xander.


*


*


"Apa kamu lelah?" tanya Nathan kepada istrinya.


Cieee... Istri ihirrr 🤣🤣


Kirana tersenyum seraya menggeleng pelan. "Tidak, aku malah bersemangat," jawab Kirana.


Jantung Kirana tiba-tiba berdetak dengan cepat, rasa takut mulai menyimuti dirinya, membayangkan keperawaannnya di bobol oleh tongkat baseball yang super besar itu.


Pasti rasanya sangat sakit. Batin Kirana, ketakutan.


"Tenang saja, aku akan melakukannya dengan perlahan," bisik Nathan, semakin menggoda Kirana.


"Kendalikan ucapanmu, kita masih di atas pelaminan!" kesal Kirana tertahan. Nathan terkekeh geli saat melihat ekspersi wajah Kirana yang merona.


Disisi lain 3 J dan Oma Airin sedang duduk di depan panggung sambil menikmati lagu dangdut yang di nyanyikan Via Vallen.


Sean berdecak kesal ketika melihat Oma Airin ingin naik ke panggung. "Mau kemana?" Sean menahan Oma Airin.


"Lagu enak, Oma mau Joget," jawab Oma Airin, sambil menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan mengikuti alunan gendang yang di tabuh, begitu enak di dengar telinga di tambah lagi suara Mbak Via yang merdu membuat siapa pun ingin berjoget.


"Malu! Nanti encoknya kumat lagi!" kesal Sean, lalu manarik Oma Airin agar duduk kembali ketempatnya.


"Ck!! Nggak asik!" dumel Oma Airin.


Ansel dan Aiden menggelengkan kepalanya berulang kali di iringi kekehan geli, karena Oma Airin merajuk seperti anak kecil.


"Eh, lihat itu ada cewek cantik," ucap Ansel seraya menepuk pundak Aiden, saat melihat gadis cantik memakai kebaya modern dan rambutnya di sanggul, terlihat cantik dan elegan, melintas di depannya.


"Mana?" tanya Aiden mengendarkan pandangannya.


"Itu loh yang duduk baru saja duduk di sebelah Malin."


"Oh, biasa saja! Nggak tertarik," jawab Aiden, memundurkan sedikit badannya dan melihat gadis itu dari samping karena terhalang punggung Sean.


Karena didalam hatinya wanita yang paling cantik adalah Kirana.


"Ck! Buat aku saja ya," ucap Ansel.


"Terserah!" jawab Aiden cuek.


Please, deh. Abang Aiden, jangan jadi pebinor ya!