
Kirana menelepon suaminya untuk meminta ijin pergi ke WG bersama ibu mertua.
"Mereka kok bisa tahu?" tanya Nathan di ujung telepon sana.
"Tadi Gwen yang memberitahu Mommy, Mas. Dan saat ini kami mau kesana," jawab Kirana.
"Ya sudah, kalau kamu mau kesana. Aku juga akan kesana bersama Ansel. Aku takut jika ada kesalahpahaman nanti" jawab Nathan.
"Baiklah, Mas," balas Kirana, lalu setelah itu Nathan menutup panggilan telepon secara sepihak.
Kirana mengambil tasnya dan memasukan ponselnya kedalam tas tersebut, setelah itu keluar dari kamar, menuju ruang keluarga dimana ibu mertuanya menunggu.
"Boleh ikut sama Nathan?" tanya Jeje kepada menantunya, saat Kirana berjalan ke arahnya.
"Boleh kok Mom," jawab Kirana, seraya tersenyum.
"Ya sudah, tunggu apa lagi?!" Oma Airin langsung beranjak dan berjalan mendahului. Beliau terlihat begitu antusias dan tidak sabaran.
Jeje hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah ibunya itu, sedangkan Kirana hanya tersenyum saja.
*
*
*
Saat ini dia ketiga wanita berbeda usia itu sudah berada didalam mobil, menuju Warjah Grub.
"Bisa cepat sedikit nyetirnya, Je?" Oma Airin merasa gemas sendiri karena menurutnya Jeje menyetir seperti keong racun. Sangat lambat.
"Mom, apa tidak lihat jika dijalanan sana sedang macet? Lagian untuka apa terburu-buru?" tanya Jeje, tanpa menoleh karena dirinya sendang fokus menyetir.
"Nanti Gwen segera pergi dari WG, kamu ini bagaimana sih!" jawab Oma Airin.
"Aku 'kan penasaran sama calon cucu menantuku yang malang itu," lanjut Oma Airin.
"Mommy mengganggu konsentrasiku!" kesal Jeje, karena sejak tadi ibu mertuanya itu tidak mau diam.
"Oke! Aku diam," jawab Oma Airin, seraya bergerak mengunci mulutnya. Sedangkan Kirana yang sejak tadi diam terkekeh geli melihat tingkah Oma Airin.
"Loh, kok kamu ada disini?" tanya Jeje heran, kepada kedua putranya.
"Biasa bucin!" jawab Ansel, melirik sebal Nathan yang saat ini sudah menarik pinggang istriny posesif.
"Sudah merasakan surga dunia ya seperti itu, bawaannya lengket terus. Kamu kapan?" tanya Oma Airin kepada Ansel.
"Kapan-kapan," jawab Ansel, lalu segera melangkah masuk kedalam perusahaan tersebut.
"CK! Anak itu!" gerutu Oma Airin.
Kondisi diperusahan tersebut tampak sepi hanya ada beberapa karyawan dan OB yang berlalulalang dan mereka terkejut saat melihat keluarga Clark berada disana, namun mereka tidak berani bertanya , tapi mereka tetap menyapa dan memebi hormat.
*
*
*
Sedangkan disebuah ruangan dimana Sean dan Irene berada. Pria itu sedang mengimpit Irene kedinding ruangan tersebut.
"Se!" kesal Irene, berusaha keras mendorong dada bidang Sean.
"Aku harus segera menyerahkan laporan ini kepada Pak Aiden!" ucap Irene, masih mendorong dada bidang Sean, namun dia kalah tenaga. Pria itu masih tetap pada posisinya, tidak bergerak sama sekali.
Sean menatap wajah Irene dengan dalam, dan beralih menatap bibir mungil berwarna pink yang terlihat sangat menggiurkan dimatanya.
"Kenapa bibir manis ini selalu berkata pedas?" tanya Sean, sembari mengerlus bibir mungil itu dengan ibu jarinya dengan gerakan lembut dan sensual.
Jantung Irene berdetak tidak karuan, bah mperlakukannya seperti itu.
"Bagaimana jika bibir ini diberikan hukuman?" tanya Sean, semakin mendekatkan wajahnya dan membuat Irene langsung memalingkan wajahnya kesamping kiri.
"Jangan menyamakan aku dengan para jalanngmu, Se!" kesal Irene, lalu menatap tajam Sean.
Sean menyeringai tipis, lalu melepaskan tangannya dari bibir manis itu.
Vote dan like jangan lupa ya. Terima kasih❤