
Pagi hari telah menyapa.
Disebuah kamar yang berukuran tidak luas itu ada sepasang kekasih sedang tidur sambil berpelukan dibawah selimut yang tebal itu. Posisi sang wanita menelusupkan wajahnya didada bidang itu, dan salah satu tangannya memeluk pinggang kekasihnya. Begitu pula sang pria, yang mendekap hangat tubuh mungil kekasihnya.
Yap! Pasangan itu adalah Sean dan Irene, tadi malam Sean memohon kepada Irene, agar gadis itu mau menemaninya tidur. Dan Irene pun mengiyakan dengan syarat hanya tidur saja, tidak ada yang lainnnya.
Terdengar suara lenguhan kecil dari bibir Irene, dan menggeliatkan badannya lalu mulai mengerjabkan kedua matanya, bertanda jika gadis itu akan bangun dari mimpi indahnya.
Pergerakan Irene dirasakan oleh Sean, dan pria itu pun mulai membuka mata. Dan menatap sang kekasih yang masih berada dipelukannya. Tersenyum bahagia, lalu mengecup pucuk kepala kekasihnya dengan lembut, seraya mengusap punggung Irene dengan lembut juga.
Irene menggeliat seraya mendongakkan kepalanya menatap Sean yang juga tengah menatapnya. "Pagi, Se," ucap Irene, seraya tersenyum manis.
"Pagi juga, Manis," jawab Sean dengan suara serak khas bangun tidur. Kemudian ia menundukkan kepalanya lalu mengecup kening Irene dengan lembut dan dalam.
"Heum, kamu sudah melewati batasmu, Se," ucap Irene lalu mendorong wajah Sean, sambil terkekeh geli.
"Morning kiss, Honey," jawab Sean, diiringi dengan decakan kesal, lalu mengurai pelukannya membiarkan Irene merenggangkan otot tubuhnya.
"Aku sudah berbaik hati menyerahkan tubuhku ini untuk kamu peluk semalaman. Jadi jangan mengambil kesempatan ya," ucap Irene, seraya mendudukan dirinya dan melirik sebal kekasihnya.
Sean menatap jam yang menempel di dinding kamarnya dan waktu menunjukan jam 5 pagi. Masih ada kesempatan untuk bermalas-malasan sejenak bersama sang kekasih.
"Cih! Padahal lo juga menikmati pelukan hangat dari gue, kan?" balas Sean, seraya berdecih kesal.
"Eh, mana ada!" sangkal Irene, lalu memalingkan wajahnya yang merona.
"Nggak usah ngelak lagi deh! Dasar pendek!" jawab Sean, lalu menarik tangan Irene, sehingga membuat gadis itu terlentang disampingnya.
"Sean!!" kesal Irene.
"Nggak! Aku harus menyiapkan sarapan untuk kita berdua, nanti kesiangan!" ucap Irene memberontak dipelukan kekasihnya.
"Masih pagi banget, Ren. Jika lo nggak mau diam, lo bisa membangunkan Si Joni," ucap Sean, dan seketika itu Irena langsung terdiam dan melotot horor kearahnya.
"Dasar otak mesum!" umpat Irene.
Sean tergelak mendengarnya, lalu semakin mengeratkan pelukannya tanpa memperdulikan penolakan dari Irene.
"Beri aku semangat, Ren," ucap Sean secara tiba-tiba. Sambil menelusupkan wajahnya diceruk leher Irene, menghirup aroma alami dari leher jenjang kekasihnya yang menenangkan dan juga menyegarkan.
Irene menoleh seraya mengusap lembut kepala sang kekasih. "Aku selalu ada untukmu, Se," ucap Irene dengan lembut.
Ah, Sean benar-benar bahagia saat itu mendengar kalimat sederhana namun bermakna, sehingga mampu membuat dadanya bergetar tidak karuan.
Apakah ini yang namanya cinta sejati? Apakah ini arti mencintai pasangan kita dengan kesederhanaan? Batin Sean bertanya.
"Terima kasih, Ren," ucap Sean, mengendurkan pelukannya dan menatap wajah kekasihnya dari samping.
Irene memiringkan tubuhnya dan menatap Sean dengan dalam. "Bukankah itu sudah menjadi tugasku? Memberikanmu dukungan disaat sedang berjuang," ucap Irene lagi, seraya tersenyum manis.
Sean Speechless saat mendengar perkataan Irene. "Haruskan aku menghalalkanmu sekarang?" tanya Sean, merasa tidak sabar untuk segera memperistri kekasihnya yang langka ini.
"If you have enough money, I won't refuse anymore. Just Simple," jawab Irene, membuat Sean terkejut dan juga bahagia.
"Oke, aku akan menikahimu secepatnya. Tunggu sebulan lagi, setelah aku gajian," ucap Sean, lalu keduanya itu tergelak keras bersama, mencurahkan rasa bahagia didalam dada.
Jangan lupa kasih sawerannya. Terima kasih❤❤